Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sekelumit Kisah di Terminal Giwangan dan Seputaran Jogja Selatan

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
21 Agustus 2021
A A
Sekelumit Kisah di Terminal Giwangan dan Seputaran Jogja Selatan terminal mojok.co

Sekelumit Kisah di Terminal Giwangan dan Seputaran Jogja Selatan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sakjane saya bingung tenan. Orang-orang kok ya bisa bilang bahwa Umbulharjo dan Giwangan itu adalah zona hitam klitih dan kekerasan jalanan. Lha belum usai label itu, saya juga kaget, bisa-bisanya Banguntapan dilabeli sebagai metropolisnya Bantul.

Terlepas dari semua label itu, saya hanya ingin berbagi kisah. Sebagai orang dari Selatan Jogja hampir tiap hari ndepis pojokan Jogja, saya pengin menceritakan beberapa hal ihwal yang sesungguhnya seputar Umbulharjo, Banguntapan, dan Giwangan. Nggak lengkap-lengkap banget, sih, tapi bisalah ngancani kamu thekthek sambil ngopi barang satu atau dua sruput dan barang satu atau dua lencer Samsu.

Saya sejak kecil hidup di Umbulharjo. Hanya lima jengkal, lah dari Terminal Lama. Sebuah terminal utama di Jogja, sebelum pindah ke Giwangan. Jadi ojek payung untuk penumpang bus ketika terminal diguyur hujan deras, saya pernah lakoni ketika umur sembilan.

Prestasi saya sebagai ojek payung amat mbois lah, yakni bisa dapat lima belas ribu sekali hujan. Itu catatan paling baik. World records perihal omset paling tinggi jadi ojek payung di terminal. Nggak ada yang penghasilan ojek payungnya sebesar lima ribu sekali hujan pada masa itu.

Keluarga saya nggak miskin-miskin amat, walau kadang makan ya seadanya. Ibu bekerja di biro wisata, di luar area Terminal Lama, bapak itu polisi cum “preman” di sana. Ada keributan, bapak saya lerai. Memang blio ini keren sekali, tapi sekali dibentak ibu karena beli raket tenis yang harganya jutaan, blio mengkeret juga.

Sebagai anak emas dua persilangan manusia paling berpengaruh di Terminal Lama, saya sedikit jumawa. Nakal lah istilah wangunnya. Tapi, cengeng juga. Dulu sering tawuran antar geng anak SD, saya yang paling kemlinthi nantang sana-sini, gelut di antara bus-bus yang mangkrak dan nggak jalan, tapi hasil akhirnya ya saya sendiri yang babak bundas.

Liat preman nyimeng dan mimik lapen, itu makanan sehari-hari. Liat orang menangis di pojok terminal dengan entah masalahnya apa, itu pemandangan sehari-hari. Liat manusia kalah, manusia yang menyerah kepada kerasnya Umbulharjo medio 2010-an, santapan masa kecil saya. Saya yang baru lulus sekolah dasar.

Setelah itu, terminal pindah, agak ke selatan. Mau nggak mau, ibu saya yang mengurus biro perjalanan, ikut serta. Aturannya, sih, semua harus masuk di Terminal Giwangan, nggak boleh ada yang berjualan di luar. Dulu lho, ya. Nggak tahu kalau sekarang.

Baca Juga:

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Mendengar aturan-aturan ndakik macam itu, tentu saja para pekerja terminal amat bergairah menyambut perubahan.

“Terminal Giwangan itu adalah terminal terbaik se-Indonesia,” kata anak buah ibu saya suatu ketika kepada saya. Kala ia menjemput saya sepulang dari SMP di daerah Patehan. Saya yakin, ia berkata dengan khusyuk dan serius luar biasa. Malang, esoknya ia harus keluar dari Terminal Giwangan lantaran ketahuan mencuri di sebuah bus.

“Namanya juga hidup. Khilaf sekali akan berdampak banyak,” begitu kata bapak saya. Walau pindah teritori terminal, tapi kuasanya masih lumayan juga. Bapak tak pernah berharap legasi serupa, seperti terminal ketika masih di Umbulharjo. Yang Bapak saya butuhkan waktu itu, pendapatan para pekerja terminal segera bangkit dari masa adaptasi perpindahan dan perubahan aturan.

Kami menabung, beli rumah di Banguntapan. Lha ya jelas, uang dari mana beli rumah di Jogja selain berharap dari undian Mirota Kampus? Banguntapan jadi eksodus besar-besaran orang-orang yang meninggalkan kota mereka. Beli di Jogja nggak kuat, Banguntapan pilihan akurat. Harga miring, masih dekat kota pula. Sebab itu di Banguntapan…. banyak perumahan.

Banguntapan itu kecamatan di Bantul memang. Namun, teritori dan kultur sosialnya bahkan lebih Jogja dari Giwangan atau bahkan Umbulharjo sekalipun. Aneh, tho? Lha wong saya saja heran. Kata sebagian orang, Banguntapan justru pusat kemacetan. Sebelum pandemi, lihat saja perempatan Ring Road Selatan sisi selatan, wuaah pokoke kebak sama manusia.

Banguntapan ada macet dan ini bukan sebuah fenomena yang layak dimasukan On The Spot. Ini bukan tanpa alasan, Banguntapan—bersama Sewon tentu saja—menjadi gerbang keluarnya masyarakat Bantul yang hendak mentas ke Jogja.

Kalau lebih jeli, bukan hanya macet yang jadi hantu, tetapi juga ada truk pembawa gabah yang duwurnya nggak ngira-ngira, hilir mudik di depan rumah. Nyamplak pohon, bahkan pernah tiang listrik dipapras habis. Diterjang saja seperti sepasang kekasih yang berpelukan sebagai tanda usainya menabung rindu.

Apalagi nek bersua dengan truk sampah yang kadang sampahnya gogrok ke jalan. Astaghfirullah, itu mambunya setara dengan dirimu nggak adus seminggu. Truk sampah yang lewat menuju Piyungan, seakan sebuah pertanda bahwa penampungan sampah di sana memang sedang nggak baik-baik saja.

Kembali lagi ke Banguntapan, ya. Dulu, sekitar tahun 2011-an, sawah adalah kawan para anak-anak. Nyari keong sawah itu seperti nyari hidung di kepala sendiri alias sak ndayak akeh tenan. Lumpur adalah medan terjal permainan, sedang gelak tawa anak-anak jelas bumbu-bumbunya.

Kini, jangankan keong sawah, lha wong nyari sawahnya saja untung-untungan. Kebanyakan berubah menjadi beton dan konblok. Main layangan bukan di tanah lapang, melainkan di… eh, di mana ya sekarang nek mau main layangan?

Sawah jadi perumahan. Yang tadinya lumbung padi, kini jadi lumbung manusia pendatang. Mereka yang butuh tanah dengan harga miring di Jogja, tapi mobilitasnya yahud, Bantul Utara tentu jadi pilihan. Lihat saja baliho-baliho seluruh Jalan Imogiri Timur, sebelum datang ibu-ibu kepak sayap kebhinekaan, baliho-baliho itu bertuliskan, “Jual perumahan murah mulai 300 jutaan!”

Lebih lucu lagi baliho perumahan yang tulisannya, “Hanya 5 menit menuju bandara!” Ha lima menit matamu, sekarang bandara saja sudah pindah ke Kulon Progo. Kalau bandara masih di Adi Sutjipto, lima menit itu apa nggak kelewat sakti kalau dari bilangan Wirokerten? Jajal numpak apa ke sananya? Buraq?

Banguntapan dan Giwangan itu bagai galengan sawah bagi para petani yang mentas, alias saling bergantung. Banguntapan, menurut saya, pola masyarakatnya itu lebih kota dari kota itu sendiri. Kau mencari apa di Banguntapan? Nah, semisal nggak ada, sila cari ke Giwangan. Begitu polanya.

Tapi biasanya di Banguntapan itu ada segalanya. Jalanan pating gronjal menuju Pleret misalnya. Jalanan yang pasti bakal ditambal-tambal sebelum Lebaran tiba. Lalu rusak lagi setelah dilintasi beberapa saat. Begitu terus polanya. Nggak percaya? Tanya saja sama motor-motor yang ngglangsar ketika hujan karena masuk ke dalam lubang jalanan. Indah nian kecamatan satelit ini.

Namun, begitulah cinta saya kepadSelaa tiga kecamatan yang saya sebut di atas. Bagi saya, ketiga kecamatan ini memberikan banyak dampak kepada saya ketika menjelang dewasa seperti ini. Saya seakan dipersiapkan menghadapi kekalahan, kemalangan, pun kesusahan. Umbulharjo seperti memberikan kedewasaan, Giwangan adalah pelajaran, sedang Banguntapan tentu saja sawah-sawah yang beralih fungsi jadi perumahan.

BACA JUGA Kedai Kopi Jogja: Persaingan Blok Utara vs Blok Selatan dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 September 2021 oleh

Tags: banguntapanJogjaTerminal GiwanganUmbulharjo
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Jogja Kota yang Tega Menyingkirkan Rakyat Sendiri (Unsplash)

Klaim Warisan Budaya Pemerintah Jogja Itu Tidak Masuk Akal karena Malah Mengorbankan Ekonomi Rakyat

9 Juni 2025
UIN Sunan Kalijaga Tepati Janji, Maba Tak Menderita Lagi (uin-suka.ac.id) UIN SUKA, UGM, UNY, Jogja

Bangga sih Bangga, tapi kalau Bilang UIN SUKA Lebih Unggul ketimbang UGM, Itu mah Bukan Bangga, tapi Halu!

13 Maret 2024
KA Sri Tanjung Memang Murah, tapi Soal Kenyamanan Sepanjang Jogja-Banyuwangi, Bus Mila Sejahtera Juaranya

KA Sri Tanjung Memang Murah, tapi Soal Kenyamanan Sepanjang Jogja-Banyuwangi, Bus Mila Sejahtera Juaranya

22 Februari 2024
Kotagede Jogja, Bekas Pusat Pemerintahan yang Kini Jadi Kota Mati Gara-gara Tata Kota yang Ambyar Total!

Kotagede Jogja, Bekas Pusat Pemerintahan yang Kini Jadi Kota Mati Gara-gara Tata Kota yang Ambyar Total!

10 Maret 2024
Pengalaman Suram sebagai Mahasiswa Perempuan Jogja yang Pulang Malam   Mojok.co

Pengalaman Suram sebagai Mahasiswa Perempuan Jogja yang Pulang Malam  

26 Maret 2025
Malioboro Jogja Bau Pesing, Kuda Andong Bakal Pakai Popok (Unsplash)

Panduan Berwisata di Jogja agar Terhindar dari Pengalaman Buruk dan Kapok Kembali

29 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.