Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Sehebat-hebatnya HRS, Masih Lebih Hebat Gus Nur

Muhammad Makhdum oleh Muhammad Makhdum
3 Desember 2020
A A
sehebat-hebatnya hrs gus nur jauh lebih dahsyat terminal mojok

sehebat-hebatnya hrs gus nur jauh lebih dahsyat terminal mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sesudah kepulangan HRS ke tanah air, ingar bingar pemberitaannya masih saja terasa hingga sekarang. Tak hanya itu, berbagai efek yang timbul karena kepulangannya juga masih santer diberitakan. Kehebatan dan keberanian HRS terus disebut-sebut, terutama oleh para pengikutnya. Pendeknya, kepulangan HRS ibarat kembalinya sang pahlawan dari pengasingan, bersiap memimpin peperangan melawan kezaliman.

Ekspose kehebatan HRS itul membuat banyak orang abai bahwa sejatinya ada sosok lain yang lebih hebat. Padahal sebelum kepulangan HRS, orang ini juga meramaikan jagat maya. Apakah karena sosok tersebut saat ini sedang mendekam di penjara sehingga orang-orang tak lagi menyebut namanya? Atau karena bangsa ini memang pelupa? Wallahualam. Yang jelas, sosok yang saya maksud di sini tidak lain adalah…

jeng jeng…

Gus Nur atau Sugik Nur Raharja. Nah, Anda baru ingat juga, kan?

Mengapa saya berani mengatakan Gus Nur sejatinya jauh lebih hebat dari HRS? Para pengikut HRS boleh-boleh saja menggugat pernyataan saya. Tetapi setidak-tidaknya, empat hal ini menjadi alasan dan pertimbangan kuat saya membuat klaim di atas.

#1 Proses menjadi “ulama”

Banyak orang sudah tahu HRS lama belajar agama. Bahkan sejak belia, ia dididik ilmu agama oleh ayah-ibunya dan para ustaz dari kalangan habaib di masjid tempatnya mengaji. HRS bahkan pernah pula belajar fiqih dan ushul fiqih di King Saud University, Arab Saudi . Sementara Gus Nur, menurut pengakuannya sendiri, sama sekali tak pernah belajar ilmu agama. Bahkan dulunya ia mantan preman, maling, dan bajingan.

Di sinilah letak kehebatan blio. Meski tak pernah belajar agama, Gus Nur juga bisa jadi ulama sebagaimana HRS, bahkan punya banyak pengikut pula. Makin hebat karena pengikut keduanya semua sama-sama militan.

Coba dipikir. Sangat wajar jika HRS bisa jadi ulama dan memiliki banyak pengikut, lha memang dari dulunya sudah dididik untuk itu kok. Tapi Gus Nur, blio bisa jadi ulama tanpa melalui proses berbelit-belit. Ibaratnya, HRS jadi ulama lewat jalur reguler, sementara Gus Nur menempuh jalur akselerasi.

Baca Juga:

UIN Adalah Universitas Paling Nanggung: Menjadi Sumber Rasa Malu, Serba Salah, dan Tidak Pernah Dipahami

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

#2 Berani

Meskipun sama-sama pemberani, Gus Nur jauh lebih pemberani dibanding HRS.

Ambil saja satu contoh. Sejauh yang saya tahu, HRS hanya berani menghina Gus Dur sebagai orang yang buta mata dan buta hatinya. Sementara Gus Nur malah berani menghina NU. Ibarat bus, katanya, NU itu sopirnya mabok, kondekturnya teler, kernetnya ugal-ugalan, penumpangnya dangdutan, buka-buka aurat, isi busnya PKI, liberal, dan sekuler. Orang ini nyalinya emang nggak umum. Lha gimana, Gus Dur itu cuma satu kiai, satu ulama. Sedangkan NU organisasi yang dihuni banyak kiai, banyak ulama, jadi jelas jauh lebih besar daripada Gus Dur yang seorang diri. Kalkulasi dampak omongannya akan jad matematika dasar saja.

Pun demikian dengan sekeras-kerasnya kritik. HRS tidak pernah misuh-misuh sebagaimana blio. Iya, memang HRS sering pula mengumpat, semacam bilang bangsat, kutil babi, dan terakhir lonte untuk ngata-ngatain Nyai Nikita Mirzani. Tetapi, sekasar-kasarnya HRS, blio nggak pernah bilang jancuk, dobol, picek, jaran, asu, dan menyebut seluruh penghuni bonbin lainnya seperti Gus Nur. Artinya, dalam urusan ngata-ngatain orang, sosok blio jauh lebih bermental Blitzkrieg. Eh, Kamikaze ding.

#3 Inovatif

Blio jelas jauh lebih inovatif ketimbang HRS. Bahkan saking inovatifnya, Gus Nur layak disebut sebagai mujaddid, ‘pembaharu’. Mengapa demikian? Blio berani mendobrak tradisi yang mewajibkan tafsir Al-Qur’an harus berpijak pada ilmu dan metode tertentu, juga melandaskan tafsirnya pada kitab-kitab tafsir atau mengikuti pendapat para mufassir terdahulu.

Dalam menafsirkan Al Quran, setidaknya ada dua metode dasar. Pertama, metode bil ma’tsur atau bil riwayah, yaitu menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan sunnah, ayat dengan perkataan sahabat, atau ayat dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in. Kedua, metode bil ra’yi, yaitu menafsirkan berdasarkan logika mufassir, tetapi tetap melandaskan tafsirannya pada ayat-ayat Al-Qur’an. Jika menyimak ceramah-ceramah HRS, termasuk dalam menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an, tampak sekali bahwa HRS masih on the right track pada dua metode di atas, tidak sekali pun keluar rel.

Sebaliknya, Gus Nur berani keluar dari pakem itu semua. Lebih hebat lagi, blio malah menemukan metode tafsir sendiri, yaitu metode bi nafsihi. Dengan metode ini, Gus Nur sanggup menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan caranya, menurut seleranya.

Contoh konkret keberanian Gus Nur dibanding HRS adalah dalam menafsirkan Q.S. Al-Fathir ayat 28 tentang definisi ulama. Menurut Gus Nur, ulama tidak hanya sebatas manusia, tetapi juga layak disematkan pada siapa dan apa saja. Mulai ular, ayam, kambing, sampai gunung sekalipun bisa jadi ulama. Gus Nur memang benar-benar luwak luar biasa. Nah, apakah Anda pernah mendengar tafsiran begini dari HRS? Nggak pernah kan? Bisa jadi, Gus Nur inilah yang sosok mufassir post-modern. Levelnya jauh melebihi santri post-modern sebagaimana julukan Pak Hidayat Nur Wahid pada Pak Sandiaga Uno saat pilpres dulu.

#4 Maqam

Yang terakhir terkait derajat atau maqam. Sejauh ini, meskipun merupakan keturunan Kanjeng Nabi Muhammad saw., pangkat HRS paling banter “cuma” sebagai Imam Besar FPI. Di satu sisi, Gus Nur yang mantan preman malah sudah menjadi khalifah. Setidak-tidaknya predikat itu muncul melalui keterangan istrinya sendiri. Dalam sebuah video berdurasi 1:27 detik, istri Gus Nur mengatakan:

“Saya istri Gus Nur, mengajak para habaib, ulama, aktivis, tokoh masyarakat, kaum muslimin di mana pun berada, mari kita kawal kasus Gus Nur karena Gus Nur bukan koruptor, bukan teroris, bukan bandar narkoba. Gus Nur adalah khalifah, yang ingin tegaknya keadilan di negeri tercinta ini. Takbiiirrr!!!”

Nah, loh. Gus Nur sudah jadi khalifah. Saya sih percaya saja. Analoginya, sebagai suami, siapa sih yang paling bisa memahami saya luar dalam selain istri saya sendiri? Pun demikian sebaliknya, adakah yang lebih memahami sang istri selain suaminya sendiri?

Terbukti kan, Gus Nur emang jauh lebih hebat ketimbang HRS. Silakan kalau Anda nggak percaya. Paling tak pisuhi, kapok.

BACA JUGA Rumus Mencari Arti Namamu di Al-Quran ala Gus Nur dan tulisan Muhammad Makhdum lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Desember 2020 oleh

Tags: gus nurhrsislammubaligulama
Muhammad Makhdum

Muhammad Makhdum

Guru SMP di Tuban. Menaruh perhatian terhadap isu-isu pendidikan, pesantren, dan sosial.

ArtikelTerkait

sultan agung sejarah kelam penaklukan gelar bangsawan mojok

Jejak Hitam Sultan Agung dalam Penaklukan Giri Kedaton

25 September 2020
bulan terbelah malam siang matahari mukjizat nabi muhammad saw rasulullah abu jahal habib bin malik raja syam kisah nabi cerita nabi mojok

Menguji Mukjizat Nabi Muhammad Saw., Bulan Terbelah di Langit Mekkah

1 Mei 2020
Model Dakwah Ala Kultum Pemuda Tersesat Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah terminal mojok.co

Kultum Pemuda Tersesat: Akhirnya Ada Wadah untuk Pertanyaan Liar Seputar Agama

1 September 2020
Begini Rasanya Jadi Orang Islam di Jepang terminal mojok

Begini Rasanya Jadi Orang Islam di Jepang

21 Oktober 2021
Emang Bener Ulama itu Pewaris Para Nabi MOJOK.CO

Emang Bener Ulama Itu Pewaris Para Nabi?

17 Juli 2020
Tempat Duduk Saat Tahlilan Bisa Digunakan untuk Memetakan Status Sosial Seseorang terminal mojok.co

Islam Ramah Itu Kayak Gimana Sih?

30 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Orang Lebih Memilih Menu Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe Mojok.co

4 Alasan Orang Lebih Memilih Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe

12 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.