Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Seblak Bukan Sampah, tapi Sebuah Kuliner yang Berasal dari Perjuangan untuk Bertahan Hidup

Helisa oleh Helisa
25 September 2025
A A
Seblak Bukan Sampah, tapi Wujud Usaha Bertahan Hidup (Unsplash)

Seblak Bukan Sampah, tapi Wujud Usaha Bertahan Hidup (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu, linimasa X gaduh. Bukan karena pejabat ketahuan korupsi atau artis yang ketahuan selingkuh, tapi karena seblak. 

Ada satu akun yang nyeletuk seblak itu makanan sampah. Hanya satu kalimat, tapi efeknya bikin warganet ribut berkepanjangan. Ada yang marah dan ada juga yang mengamini.

ADVERTISEMENT

Teman saya yang orang Bandung asli tidak ikut nimbrung. Dia hanya membaca, lalu menghela napas panjang. Katanya, dia sedih. Bagaimana mungkin makanan khas dirinya, yang jadi bagian dari hidupnya, bagian dari perjuangan keluarganya, malah dihina begitu saja.

Seblak dari dapur pas-pasan

Waktu dia kecil, keluarganya hidup pas-pasan. Ibunya sering harus memutar otak. Uang belanja tipis, lauk mewah hanya bisa dilihat di kalender warung. Tapi, di sana ada kerupuk mentah di dalam toples, dan itulah yang jadi penyelamat. Kerupuk direndam air panas, ditumis dengan bumbu sederhana. Jadilah seblak.

Bagi mereka, seblak bukan makanan remeh. Itu strategi bertahan hidup dan cara seorang ibu memastikan anak-anaknya tetap bisa makan meski tipis. Itu sebabnya teman saya merasa tersinggung ketika ada orang asing di internet menyebut kuliner ini sebagai makanan sampah.

Seblak bukan sekadar isi perut

Banyak orang lupa bahwa makanan tidak lahir di ruang hampa. Ia lahir dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Seblak misalnya, lahir dari keterbatasan, dari keluarga yang harus kreatif mengolah bahan seadanya. Kalau ada yang menyebutnya sampah, itu sama saja dengan menertawakan perjuangan hidup orang lain.

Kuliner mengingatkan kita bahwa di balik setiap piring yang tersaji makanan ada cerita tentang ibu-ibu yang tidak menyerah. Tentang anak-anak yang tetap bisa makan walau uang jajan tipis. Tentang keluarga yang tidak menyerah pada keadaan. Menghina kuliner ini berarti menghapus semua kisah itu seolah tidak pernah ada.

Dari kerupuk basah ke kuliner hits

Dengan berjalannya waktu, seblak tidak lagi hanya jadi makanan darurat. Ia naik kelas. Ada seblak ceker, makaroni, sampai seafood. Ada yang dijual di gerobak pinggir jalan, ada pula yang nongol cantik di restoran dengan harga dua kali lipat. Ia menjelma jadi ikon kuliner yang dibanggakan.

Baca Juga:

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Namun yang sering lupa, seblak tidak lahir di meja makan restoran. Ia lahir di dapur sempit keluarga pas-pasan. Dari keterbatasan, seblak berubah jadi kuliner populer. Perjalanan itu seharusnya dihargai, bukan diremehkan.

Kritik untuk sistem yang lalai

Dari sini saya merasa ada ironi. Kita gampang sekali menghina makanan rakyat seperti seblak, tapi jarang menyoal kenapa makanan semacam itu harus lahir. Seblak lahir dari keterhimpitan ekonomi. Dari harga kebutuhan pokok yang tidak terjangkau, dari sistem yang gagal memastikan setiap keluarga bisa makan layak.

ADVERTISEMENT

Negara sering sibuk memamerkan jargon swasembada, tapi fakta di lapangan banyak keluarga masih harus mengandalkan kreativitas untuk sekadar bertahan hidup. Dan dari keterpaksaan itulah lahir kuliner ini. 

Jadi, kalau ada yang mau menyebut sampah, yang pantas disebut begitu adalah sistem yang membiarkan rakyatnya makan dengan segala keterbatasan, bukan makanannya.

Don’t yuck someone’s yum

Manusia memang boleh tidak suka seblak. Lidah orang beda-beda. Tapi memberi label makanan sampah adalah tindakan yang kasar. Sebab makanan bukan sekadar soal rasa. Ia menyimpan sejarah perjuangan sebuah keluarga.

Mencaci seblak berarti menghina orang-orang yang pernah mengandalkannya untuk bertahan. Sama saja dengan menertawakan mereka yang hidup pas-pasan. Itu bukan sekadar hinaan terhadap sepiring kerupuk basah, tapi juga terhadap kehidupan banyak keluarga kecil.

Seblak akan tetap hidup

Sekarang seblak hadir dengan berbagai variasi. Level pedas bisa dipilih, topping bisa ditambah sesuka hati. Mau makan di warung pinggir jalan atau di kafe ber-AC, seblak tetap ada. Ia tidak peduli dengan hinaan. Ia sudah membuktikan dirinya bisa bertahan dari masa-masa sulit sampai jadi kuliner hits.

Dan orang yang menghina? Mereka hanya numpang ribut di linimasa. Besok lupa, besok cari bahan ribut lain. Sementara seblak tetap direbus, tetap dimakan, tetap dicintai.

Kalau nggak suka, diam aja

ADVERTISEMENT

Jadi kalau ada orang yang masih dengan enteng menyebut seblak makanan sampah, mungkin dia perlu berkaca. Sampah itu bukan seblak, tapi pola pikirnya.

Seblak tidak pernah minta dipuja. Ia hanya minta dimakan dengan ikhlas. Kalau tidak suka, tinggalkan. Tidak perlu merendahkan. 

Karena seblak akan tetap ada, direbus di dapur sempit, dijual di gerobak sederhana, dirayakan di media sosial, dan dikenang sebagai bukti bahwa dari keterbatasan, manusia bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Dan kalau ada yang masih menghardik makanan, jangan-jangan yang benar-benar perlu dibuang bukan seblaknya, tapi pola pikir tersebut.

Penulis: Helisa

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 3 Dosa dari Inovasi Seblak yang Membuat Melenceng Jauh dari Kodratnya, Bikin Resah Saya Sebagai Orang Sunda

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2025 oleh

Tags: Bandungcara membuat seblakkerupuk seblakkuliner bandungseblaksejarah seblak
Helisa

Helisa

Seorang pekerja yang mencari jeda di balik meja kantor untuk belajar menulis. Menjadi karyawan boleh saja biasa, namun cara memandang dunia lewat tulisan harus tetap luar biasa.

ArtikelTerkait

Kota Baru Parahyangan, Tempat Pensiun Ideal bagi Orang Kaya Bandung Mojok.co

Kota Baru Parahyangan, Tempat Pensiun Ideal bagi Orang Kaya Bandung

14 Mei 2024
M. Iming, Peci Legendaris dari Bandung yang Bikin Kamu Tambah Ganteng (Shutterstock.com)

M. Iming, Peci Legendaris dari Bandung yang Bikin Kamu Tambah Ganteng

24 April 2022
Daerah Sukamiskin Bandung Bukan Berarti Rakyatnya Senang Kemiskinan terminal mojok

Daerah Sukamiskin Bandung Bukan Berarti Warganya Senang Kemiskinan

9 November 2021
Colenak Murdi Putra: Camilan Legendaris dari Bandung yang Jadi Jamuan Istimewa KAA 1955

Colenak Murdi Putra: Camilan Legendaris dari Bandung yang Jadi Hidangan Istimewa KAA 1955

19 Maret 2023
5 Makanan Mahal yang Overrated, kok Bisa sih Pada Suka?

5 Makanan Mahal yang Overrated, kok Bisa sih Pada Suka?

20 Januari 2023
Pengalaman Saya sebagai Mahasiswa Muslim yang Kuliah di Universitas Swasta Kristen, Banyak Sekali Cobaannya Mojok.co

Cobaan Berat Kuliah di Universitas Kristen bagi Saya Mahasiswa Muslim dan yang Paling Berat Adalah Jatuh Cinta

8 Mei 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda Mojok.co

Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda

18 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan faslitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi Mojok.co

Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan fasilitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi

23 Agustus 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.