Sebenarnya Bisa Nggak sih Kaya Hanya Modal Rebahan? – Terminal Mojok

Sebenarnya Bisa Nggak sih Kaya Hanya Modal Rebahan?

Artikel

Pandemi yang hampir setahun ini mengubah banyak hal, termasuk kebiasaan. Saya yang terbiasa mudik saat Lebaran, harus merasakan dan mungkin membiasakan untuk tidak mudik untuk beberapa waktu ke depan. Tapi, untungnya waktu itu ada kebijakan PSBB, beberapa teman di kos tidak pulang, dan banyak pihak yang memberikan asupan logistik untuk bertahan hidup. Saya rasa masih segar di ingatan banyak orang tentang jokes “kalau kamu ingin menyelamatkan dunia tapi passion-mu hanya rebahan, inilah saatnya!”

Tapi, masalahnya, apakah tidak bosan hanya berdiam di tempat? Bagaimana keberlangsungan bisnis UMKM? Kalau nggak ngapa-ngapain, bagaimana cara menghasilkan uang? Dan sederet pernyataan lain yang berdasar dan bermula dari kegelisahan serta ketidakpastian hidup selama pandemi. Well, karena manusia merupakan spesies paling adaptif (setahu saya), kondisi pandemi 2020 bisa kita lewati, meski tidak mulus-mulus banget. Banyak bisnis dan layanan bertransformasi ke daring. Pembelajaran pun begitu. Banyak yang kemudian menjadi kreator dadakan saat pandemi, banyak juga yang melakukan challenge dari media sosial untuk menghapus kesuntukan karena tidak boleh ke mana-mana. Beberapa kolega saya, ada yang cuannya justru mengalir saat pandemi, salah satunya dengan YouTube adsense.

Kondisi yang bisa ditangkap adalah orang tetap bisa beraktivitas meski terbatas dan setiap orang tetap butuh cuan agar bertahan hidup. Kalau bisa, rebahan aja tapi tetap monetize.

Peluang ini kemudian dilihat oleh, entah enaknya disebut apa, pihak yang ingin meraup keuntungan dari mereka yang ingin kaya hanya modal rebahan. Dibayangkan saja, rasanya enak kan? Kondisi ini lalu dimanfaatkan oleh penyedia aplikasi dengan skema Ponzi/money game pun semakin merebak. Pandemi dan kondisi masyarakat menjadi momen yang tepat untuk itu.

Ya di masa yang sulit, akan susah untuk tidak tertarik kesempatan kaya hanya modal rebahan.

Saya jadi ingat di pertengahan tahun lalu pernah ditawari seorang kawan untuk didaftarkan pada aplikasi Vtuber. Iming-iming yang dia berikan adalah “jenengan tinggal nonton video iklan YouTube, jenengan dibayar”. Waktu itu saya menolak karena tentu bakal menguras waktu dan mengganggu kegiatan saya mengerjakan proposal penelitian. Kabar terakhir yang saya dengar, aplikasi yang teman saya tawarkan ternyata mengandung skema Ponzi, dan peredarannya tak memiliki izin.

Sebenarnya sebulan terakhir saya sangat penasaran dengan aplikasi penghasil uang dari handphone. Saya banyak mencari informasi, menonton video ulasan, dan kemudian memasang beberapa aplikasi tersebut. Tentu menggunakan email alter dan bukan terpasang pada ponsel utama. Saya ingin tahu bagaimana aplikasi bekerja tapi tetap aman. Aplikasi yang saya pasang tidak berskema ponzi/money game, meskipun menggunakan referral code. Secara umum aplikasi yang saya pasang akan menawarkan sekian uang apabila kita beraktifitas dalam aplikasi, mengunggah konten, dan menonton iklan.

Kaya hanya model rebahan bisa dibilang terlihat mungkin dengan aplikasi tersebut. Tapi, ada hal yang harus kita perhatikan saat menggunakan aplikasi ini. Tanamkan pertanyaan ini di kepala kalian: dengan memasang aplikasi yang dapat menghasilkan uang, apa yang kita tukar? Apa saja risikonya? Apa yang perlu diperhatikan?

Ini yang mau saya bagi.

Pelajari aplikasi

Sebelum memasang aplikasi, cari dulu informasi terkait aplikasi tersebut. Saya biasanya melihat ulasan tentang aplikasi di YouTube, blog, dan di toko aplikasi (Play Store atau App Store). Kemudian melihat permission yang diminta apa saja. Biasanya dari sini terlihat sekilas bagaimana pola kerja aplikasi tersebut.

Jika kita sudah percaya dengan nama besar developer-nya, tentu tidak masalah untuk langsung memasang. Sebab sebenarnya, banyak sekali media sosial atau aplikasi yang memang “menjual data pribadi kita”. Tapi, dalam bentuk pola/interest, bukan serta merta data pribadi. Dan yang paling penting memang mengecek “Term of Service” mereka. Iya, panjang dan membosankan memang. Ini penting, tapi ya tidak saya mungkiri sering kali malas untuk baca, hahaha.

Kemudian pelajari skema pemberian cuannya. Ingat bahwa aplikasi tidak semudah itu dalam memberikan uang. Selain itu kita bisa mengamati algoritma dan konten yang ditawarkan. Jadi kita bisa memutuskan apakah aplikasi ini layak terus kita gunakan. Jangan sampai hanya karena ingin dapat cuan, kita menonton konten yang membosankan atau bahkan menyesatkan. Sebab, kebanyakan aplikasi hanya memberikan sedikit cuan, sekian puluh rupiah. Ini menuntut untuk rajin mengumpulkan cuan sedikit demi sedikit. Pun minimal penarikannya cukup besar. Developer membuat skema seperti ini agar aplikasi terus menerus digunakan.

Waktu dan kuota

Hal ini yang menurut saya paling bikin jengah. Well, tentu aplikasi penghasil uang tadi ditujukan kepada kaum yang kebanyakan rebahan tapi ingin dapat uang. Tetapi, sebenarnya kalau dihitung lagi, uang yang didapat dan kuota internet yang dikeluarkan tidak sepadan. Jadi meski dibilang rebahan dapat cuan, ya uangmu akan habis duluan sebelum balik modal.

Itu baru kuota yang dikeluarkan dan waktu yang dihabiskan. Belum lagi kalau aplikasi yang kita gunakan UI-nya tidak ramah dan terlalu penuh iklan. Alih-kita-kita bahagia karena dapat cuan, yang ada stres duluan kebanyakan disuapi iklan.

Terkesan ribet bukan? Memang.

Begini, kaya hanya modal rebahan itu memang memungkinkan. Tapi, kita harus ingat beberapa hal yang harus kita lihat. Keturunan crazy rich pasti kaya meski rebahan doang. Pun yang bukan keturunan crazy rich bisa juga kaya modal rebahan, tapi banyak hal yang harus dilakukan yang pada akhirnya tenaga dan modal yang terkuras sama aja kayak kerja beneran. Pada titik ini, saya jadi sadar makna passive income sebenarnya.

Saya kemudian belajar bahwa passive income tidak bisa membuat kita auto kaya. Apalagi kalau bergantung kepada passive income recehan semacam tadi. Memang iya kita bisa dapat cuan dari passive income tetapi tidak instan dan waktunya panjang. Kalau mau kaya, ya kerja, ya bergerak. Passive income harusnya tetap jadi sampingan, jangan jadi pegangan utama.

Akhirnya, kembali ke judul yang merupakan pertanyaan mendasar dari tulisan ini, apakah kita bisa kaya hanya modal rebahan? Bisa saja. Tapi, saat kamu kaya, spesies manusia kadung pindah ke Mars.

BACA JUGA Clubhouse Adalah Aplikasi Mirip Discord Versi Lebih Eksklusif 

Baca Juga:  Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini di Museum daripada Kamu Rebahan Terus
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.