Ketika pertama kali mendapatkan SK akan ditempatkan bekerja di Tegal, saya langsung membuka maps dan mencoba menerawang: Tegal itu seperti apa?
Maklum, saya lahir dan tumbuh besar di Jogja. Dalam bayangan saya waktu itu, Tegal adalah kota kecil yang kemungkinan akan membosankan. Bahkan saya mengira kota ini hanya sebatas kota transit di Pantura, semacam Radiator Springs di film Cars. Kota tempat istirahat setelah lelah di jalan dari Jakarta Menuju Surabaya atau arah sebaliknya.
Setelah delapan tahun tinggal, ternyata banyak anggapan saya tentang Tegal yang keliru.
Bukan tempat transit
Dulu, setiap mendengar Kota Tegal, pikiran saya langsung terbayang jalur Pantura yang disesaki oleh bus antarkota antarprovinsi, tronton, trailer, colt diesel dan kendaraan besar lainnya. Tidak terlintas di pikiran bahwa saya akan menetap selama bertahun-tahun di kota ini.
Setelah delapan tahun tinggal, saya baru ngeh bahwa kota Tegal lebih dari kota transit atau sekedar tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Ada hiruk-pikuk keramaian warganya yang tidak terlihat dari kaca kendaraan yang melewati pantura. Ada warung sate batibul berlomba-lomba membuka gerai di exit tol agar pelanggan tidak perlu repot-repot datang ke tengah kota. Belum lagi banyak pabrik yang baru berdiri sehingga menyerap banyak lapangan pekerjaan.
Saya kira Tegal tidak punya objek wisata
Ternyata Tegal memiliki banyak objek wisata untuk sekedar healing. Tercatat ada Alun-Alun yang berani diadu dengan kota-kota lain. Ada Kawasan pegunungan Guci yang mirip-mirip dengan Kaliurang, hingga deretan pantai dari Pantai Alam Indah, Pantai Watu Kodok hingga Pantai Purwahamba Indah yang cocok bagi pencari udara segar.
Walaupun objek wisatanya masih kalah tenar bila dibandingkan dengan Jogja dan Bandung, tempat wisata di Tegal sudah lebih dari cukup untuk sekedar melepas penat.
Ternyata cafenya banyak!
Saya lahir dan besar di Jogja yang tiap sudutnya penuh dengan deretan kafe kekinian. Awalnya saya menganggap Tegal tidak punya banyak pilihan tempat nongkrong seperti itu, dan lagi-lagi saya salah besar.
Kini kafe kekinian dan estetik mudah sekali ditemukan di Tegal. Mulai dari kafe lokal seperti Minapadi, Caffeine 8, Celco, hingga kafe keluarga seperti Sekotji, S café, hingga Sorak Sorai tidak kalah menarik dengan tempat nongkrong di kota-kota besar. Bahkan kafe-kafe tersebut tidak hanya ramai di akhir pekan saja. Sepulang kerja pun terpantau anak muda saling berkumpul, mengerjakan tugas hingga menghabiskan waktu bersama.
Untuk urusan nongkrong, kota ini berani diadu.
Saya kira event di Tegal tidak banyak
Dulu saya menganggap tidak banyak event di Tegal, ternyata saya salah. Belakangan kerap berbagai acara mulai dari konser musik hingga festival kuliner diadakan di kota ini. Terbaru ada Festival Kuliner FYP Jajanan Viral Jakarta, Blok M dan Bali yang dihelat di Rita Supermall Tegal.
Sebelumnya ada juga Festival Warisan Rasa Asia di mana terdapat Seblak Mamang Rafael di dalamnya. Tiap pekan, ada saja acara yang menjadi daya magnet bagi orang Tegal.
Kalau ada yang bertanya apakah Tegal merupakan kota yang membosankan, tentu saya jawab tidak. Dulu saya berpikir akan kesulitan mendapatkan tempat hiburan di kota ini, ternyata saya salah besar. Kalau di pikir-pikir lagi, Tegal terlalu ramai untuk dicap sebagai kota yang sepi.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 6 Alasan Kota Tegal Lebih Istimewa Dibanding Bayangan Banyak Orang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














