Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) sedang berlangsung di berbagai universitas. Momentum ini bikin saya kembali ke masa masuk kampus. Dahulu, masa pengenalan ini lebih dikenal dengan sebutan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospek.
PKKMB sekarang ini memang berbeda dengan Ospek dahulu. Di masa saya, kegiatan-kegiatan orientasi kampus terlihat begitu konyol. Misal, mahasiswa baru diminta membuat dan mengenakan aksesoris yang aneh-aneh. Hingga detik ini saya masih nggak paham korelasi aksesoris aneh-aneh itu dengan kelancaran beradaptasi di kampus atau kemampuan mencerna mata kuliah kelak.
Menyebalkannya lagi, panitia ospek dulu selalu bersembunyi di balik alasan “membangun keakraban”. Padahal, begitu masuk kelas, urusan kuliah nyatanya sangat individual. Mau seakrab apa pun pas Ospek, maba akhirnya akan berkelompok secara alami dengan orang-orang yang sefrekuensi.
Syukurnya, aktivitas perpeloncoan yang banyak terjadi di masa lalu semakin berkurang di PKKMB hari-hari ini. Setidaknya itu yang saya amati. Entah kalau di balik PKKMB yang tersiar ternyata banyak yang disembunyikan.
Sebagai seseorang yang pernah mengalami Ospek dan realitas jadi mahasiswa baru, menurut saya ada beberapa hal yang sebaiknya diajarkan saat Ospek atau PKKMB daripada perpeloncoan yang nirfaedah itu:
#1 PKKMB sebaiknya mengajarkan seni mengisi Kartu Rencana Studi (KRS)
Bagi maba, urusan mengisi KRS itu ibartiket konser idola K-pop yang ludes dalam hitungan detik. Apalagi kalau sudah berebut kelas mata kuliah wajib dari dosen favorit. Lengah sedikit, kuota SKS keburu disikat orang. Kalau nggak dibekali taktik jitu cara memilih kelas dan mengoperasikan sistem input KRS, anak baru bisa gigit jari lantaran kalah gesit dari senior tingkat akhir yang hobi mengambil kelas ulangan.
#2 PKKMB tolong ajarkan etika menghubungi dosen
Satu hal yang sering luput diajarkan saat PPKMB adalah etika mengirim pesan ke dosen. Bagaimanapun, dosen itu bukan admin toko online yang bisa diajak mengobrol dengan bahasa tongkrongan. Mahasiswa baru butuh pencerahan cara menyusun salam yang sopan, menyebut nama dan NIM di baris pertama, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta tahu diri kapan batas waktu wajar menghubungi dosen. Biar ke depan nggak ada lagi drama dosen mengomel dan mengunggah tangkapan layar percakapan ke sosial media.
#3 Peta urusan berkas
Kantor Tata Usaha (TU) fakultas itu layaknya pos penyelamatan darurat saat hidup mahasiswa sudah di ujung tanduk krisis akademik. Makanya, maba wajib diinfo soal delegasi kekuasaan di sana. Siapa staf TU yang berkuasa melayani legalisir, pengumpulan tugas yang dicetak, atau siapa yang memegang arsip nilai. Kalau sudah hafal seluk-beluk wilayah kekuasaan TU, dijamin maba nggak bakal mondar-mandir bolak-balik cuma gara-gara salah menemui staf yang bersangkutan.
#4 Menghafal denah kampus wajib diajarkan pas PKKMB
Tata letak gedung kampus itu terkadang menyerupai labirin misterius yang sukses bikin pusing tujuh keliling. Terlebih, buat orang baru. Salah ambil belokan sedikit saja, mahasiswa baru bisa-bisa menyasar dan harus memutar lebih jauh.
Jadi, alih-alih dipaksa menghafal yel-yel orientasi yang nggak jelas juntrungannya, saat PKKMB maba sebenarnya jauh lebih butuh ditunjukkan mana letak setiap ruangan biar nggak terlambat masuk kelas atau laboratorium.
#5 Daftar warung makan ramah kantong mahasiswa
Perut kenyang adalah syarat mutlak mendobrak gerbang kesuksesan kuliah strata satu. Praktis, mahasiswa baru harus punya guidebook warung kaki lima yang budget-friendly di sekitar kampus. Mulai dari kuliner porsi kuli, burjo yang ada wifi, sampai angkringan tengah malam. Informasi lapangan semacam ini jelas jauh lebih bermanfaat ketimbang harus repot-repot menghafal nama lengkap seluruh panitia PKKMB yang batang hidungnya bakal raib entah ke mana di semester akhir.
#6 Prosedur mencari barang hilang jadi informasi yang tak kalah penting
Kehilangan helm di parkiran sampai flashdisk adalah celaka khas kehidupan kampus yang lumrah terjadi. Oleh karenanya, maba mesti dikasih tahu titik posko kehilangan kampus atau akun media sosial kampus mana yang sigap menampung barang-barang hilang. Bekal pengetahuan birokrasi mini semacam ini bakal lebih menyelamatkan hidup mereka dibanding keharusan tiba subuh hari demi PKKMB semata.
#7 Mengakses poliklinik kampus
Sesi bedah fasilitas kesehatan kampus sebenarnya jauh lebih berfaedah kalau dimasukkan ke materi PKKMB daripada agenda berjemur di lapangan dan dibentak-bentak senior. Pasalnya, kalau suatu kali badan mendadak rontok, mahasiswa baru nggak perlu panik sampai langsung merogoh kocek dalam buat ke rumah sakit. Toh, biasanya kampus sudah menyediakan poliklinik internal yang siap siaga menampung keluhan mahasiswa aktif, lengkap dengan fasilitas tebus obat gratis atau subsidi miring. Boleh jadi, informasi penting yang tampaknya sepele saat PKKMB ini akan menyelamatkan jiwa seseorang kelak.
Usia saya sekarang sudah jauh dari rata-rata maba angkatan sekarang. Semoga saja praktek-praktek tak berfaedah saat saya Ospek dahulu sudah tak diterapkan di PPMB sekarang. Semoga aktivitas PKKMB sekarang benar-benar berorientasi pada kebutuhan mahasiswa baru seperti 7 poin di atas. Sehingga, hari-hari awal mahasiswa di kampus bisa benar-benar terbantu dengan digelarnya PKKMB.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














