Wonogiri enak, tapi Jogja jauh lebih enak
Gara-gara saya sedang cari rumah, saya jadi tahu bahwa harga properti di Wonogiri mulai gila. Rumah seharga 400 jutaan makin umum, padahal kalau dilihat, nggak mewah juga ini rumah.
Harga kopi di kafenya juga sama kayak Jogja. Harga makanannya sekarang juga nggak jauh beda. Makin maju sih emang, tapi kok malah apa-apanya makin mahal. Pemasukan saya sih pemasukan luar kota, tapi pengeluarannya juga sama saja, padahal hidup di Kabupaten. Kalau sama mahalnya gini, saya pilih hidup di Jogja kalau bisa. Mungkin saya akan ngontrak rumah, tapi kesempatan hidup lebih baik jauh lebih terbuka.
Yang orang nggak tahu itu, kota-kota yang dianggap slow living itu sebenernya nggak semurah itu. Ada alasannya kota tersebut kosong, atau orangnya merantau. Ya karena living opportunitynya nggak sebagus yang ada di pikiran kalian. Kalau kalian punya investasi yang bisa ngasih kalian dua digit bulanan meski nggak ngapa-ngapain, ya enak-enak aja.
Sedangkan warga asli desanya, justru tidak seberuntung itu. Mereka harus angkat kaki demi porsi nasi yang lebih baik. Kalaupun mereka bertahan, mereka tak lantas bisa hidup tenang, karena biaya yang mereka keluarkan untuk bertahan juga besar.
Ya itulah realitas asli orang kabupaten: angkat kaki berat, bertahan pun juga berat. Dulu saya memilih hidup di Wonogiri. Tapi kini, saya kok mulai ragu ya.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Menikmati Slow Living di Wonogiri: Hidup Nyaman di Kabupaten yang Dipandang Sebelah Mata
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















