Romantisasi bukan alat bayar cicilan
Kalimat “Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan” itu memang puitis dan cocok diresapi sambil menyesap kopi saat senja. Ironisnya, rangkaian kata estetik tersebut nggak laku ditukar token listrik. Belasan tahun menetap membuat kesadaran saya pulih bahwa rindu itu gratis, tapi harga-harga terus menanjak drastis.
Ilusi hidup sederhana sering kali jadi jebakan batman yang membuat orang merasa sudah sepantasnya berpasrah. Nyatanya di balik layar, justru sedang terseok-seok menata masa depan yang kian gelap. Menghirup udara Jogja memang menenangkan, tapi udara nggak bisa dipakai buat bayar kontrakan.
Wisata yang nggak lagi terasa sebagai hiburan
Bagi mereka yang menetap belasan tahun, banyaknya destinasi wisata di Jogja lama-lama bukan lagi jadi pelarian, melainkan beban pikiran. Alih-alih merasa terhibur, melihat kerumunan wisatawan yang datang dengan daya beli jauh di atas warga lokal justru menimbulkan rasa terasing di rumah sendiri. Sering kali, warga lokal hanya jadi penonton di tengah kota yang kian bersolek demi tamu.
Di sisi lain, penduduk asli Jogja harus legawa menelan macet yang makin menggila. Pun, membayar pajak pariwisata yang terselip di balik kenaikan harga-harga jasa. Wisata di Jogja kini terasa seperti panggung sandiwara. Terlihat manis bagi yang mampir sebentar, tapi melelahkan bagi yang harus hidup di sana setiap hari.
Jogja memang tetap istimewa dengan segala kenangannya. Sedihnya, rindu ternyata punya tanggal kedaluwarsa saat berhadapan dengan realitas ekonomi. Saya mencintai Jogja sebagai tempat buat bernostalgia. Namun, untuk membangun masa depan yang realistis tanpa perlu menangis, pindah adalah satu-satunya jalan ninja yang menyelamatkan kewarasan saya.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















