Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Dosen, Kuliah Online Bikin Saya Ngerasa Jadi Pengangguran yang Digaji

Rohmatul Izad oleh Rohmatul Izad
2 Mei 2020
A A
pengangguran, kuliah online

Saya Dosen, Kuliah Online Bikin Saya Ngerasa Jadi Pengangguran yang Digaji

Share on FacebookShare on Twitter

Tentu ini cerita tentang saya, yang selama ada Covid-19 benar-benar menjadi pengangguran yang terus mendapatkan gaji. Saya tidak bermaksud menyinggung orang-orang yang betul-betul menganggur yang segera akan mendapatkan jaminan dari pemerintah melalui kartu prakerja. Ini hanya soal curhatan kecil tentang betapa tidak mengenakkanya menjadi seorang penganggur secara tiba-tiba dan terus mendapatkan jaminan gaji.

Saya adalah seorang dosen yang mengampu materi-materi filsafat di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, kampusnya rahasia dong. Seperti halnya kampus-kampus yang lain, kampus di mana saya mengajar juga diliburkan secara total, tidak ada aktivis apa pun di kampus, bahkan UAS pun diselenggarakan secara online, persis sama sebagaimana sistem perkuliahannya.

Sejak kampus diliburkan, seluruh sistem pengajaran dialihkan secara online, ada yang menggunakan sistem penugasan, menggunakan media pembelajaran melalui aplikasi Zoom, Whatsapp Grup, dan masih banyak lagi. Intinya, aktivitas perkuliahan, sebagaimana juga sekolah-sekolah, tidak benar-benar libur, hanya pindah tempat mengajar dan medianya pun berbeda secara tajam.

Satu hal yang saya rasakan, bahwa sistem perkuliahan semacam itu tidak benar-benar membuat saya merasa mengajar atau bekerja. Saya malah merasa seperti pengangguran yang berdiam saja di rumah dan sialnya terus mendapatkan transferan gaji.

Mungkin sebagian orang yang tak bisa merasakan apa yang saya hadapi akan berkata naif, sombong, atau berlebih-lebihan. Bukankah menjadi pengagguran yang dibayar itu sungguh mengenakkan dan menjadi impian banyak orang? Meski ini tak bisa dijawab sekadar enak dan tidak, saya cenderung memahami bahwa peristiwa semacam ini sungguh tidak enak dan sangat memalukan.

Jujur, selama musim liburan ini, saya tidak pernah meninggalkan tanggungjawab saya sebagai dosen. Mahasiswa tetap saya kasih tugas sesuai kapasitas kemampuan mereka, ada pula sistem kuliah atau diskusi melalui Whatsapp Grup yang memungkinkan setiap mahasiswa bisa dengan mudah dan leluasa berdiskusi dengan dosen.

Tapi, sekali lagi, ini tidak membuat saya meresa benar-benar bekerja. Malahan tampak seperti pengangguran yang berhari-hari hanya mengisi waktunya di rumah saja. Sialnya, saja justru merasa menikmati gaji buta di mana saya tak pantas menerima sesuatu yang tidak saya usahakan. Aneh bukan

Setelah saya berpikir panjang, mulailah sedikit ada titik terang. Bahwa rasa kepengangguran ini saya rasakan karena memang tidak merasakan aktivitas normal sebagaimana biasanya. Ini bukan berarti saya memiliki etos kerja yang tinggi, sama sekali tidak, malahan saya cenderung orang yang biasa-biasa saja dalam hal pekerjaan. Tapi, saya tak bisa membohongi kenyataan bahwa saya memang merasa betul-betul kehilangan aktivitas normal dalam hidup. Apa-apa yang biasanya saya kerjakan di luar, baik mengajar, menulis, atau aktivitas lainnya, nyaris semuanya hilang begitu saja. Mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama.

Baca Juga:

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

Lulusan S2 Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, Seolah-olah Nggak Ada Harapan Jadi Akademisi di Surabaya

Intinya, bukan masalah apakah kita bekerja atau tidak dalam menghasilkan uang, tapi soal betapa banyak hal yang sekarang tak bisa lagi kita lakukan setelah datangnya Covid-19 ini. Kehilangan hal-hal yang sudah terlanjur biasa kita nikmati di luar rumah, terkhusus bekerja dan menyalurkan hobi, adalah sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Betapa kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang bukan diri kita dan, entah sampai kapan suasana seperti ini akan benar-benar berakhir.

Di tengah suasana yang tidak pasti dan terus menuntut kita untuk tinggal di rumah saja seperti sekarang ini, saya menjadi berpikir bahwa boleh jadi bencana ini masih akan terjadi dalam waktu yang lama. Kita hanya dituntut untuk membiasakan diri dan sedikit merubah pola hidup yang bahkan kita sendiri tak mengharapkannya. Seperti kata Spongebob, “hidup kadang memang tidak adil, jadi biasakanlah dirimu”.

Tentu kita tak bisa menelan mentah-mentah ucapakan Spongebob di atas, yang dengan entengnya menyalahkan Tuhan. Kita yakin bahwa semua peristiwa yang tidak mengenakkan ini asalnya dari Tuhan dan pada akhirnya Tuhanlah yang akan memberi jalan keluar. Yang jelas, kita hanya perlu membiasakan diri untuk menghadapi situasi-situasi tersulit dalam hidup. Bukankah Tuhan tidak akan menguji umatnya kecuali mereka sanggup menghadapinya.

Ini bukan sebentuk pengkhotbahan yang sok memberi tahu. Ini adalah soal pengertian dan sejauh mana kita mampu memaknai hidup secara lebih positif di tengah berbagai masalah dan musibah yang sedang kita hadapi. Hidup adalah tentang memahami sekaligus memberi makna di setiap peristiwa yang kita jalani.

Menjadi pengangguran yang terus dibayar, atau terus saja tinggal di rumah mungkin sesuatu yang tidak mengenakkan, tapi satu hal yang penting bahwa kita harus betul-betul mengerti untuk apa semua itu kita lakukan. Bukankah tujuannya tak lain adalah ingin memberi rasa aman satu sama lain dan mengakhiri seluruh penderitaan hidup.

BACA JUGA Bapak dan Ibu Dosen, Anjuran Kampus Itu Kuliah Online Bukan Ngasih Tugas atau tulisan Rohmatul Izad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2020 oleh

Tags: Dosenkuliah onlinePengangguran
Rohmatul Izad

Rohmatul Izad

Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo.

ArtikelTerkait

kartu prakerja

Pengalaman Nyoba Pelatihan Gratis (yang Nggak Gratis) dari Kartu Prakerja

2 Mei 2020
Wahai Para Pencari Kerja yang Budiman, Seberapakah Penting Job Fair dalam Kehidupan?

Wahai Para Pencari Kerja yang Budiman, Seberapakah Penting Job Fair dalam Kehidupan?

31 Oktober 2019
Kuliah di UT Adalah Bentuk Bertahan Paling Tangguh, Kok Bisa? Mojok.co

Kuliah di UT Adalah Bentuk Bertahan Paling Tangguh, Kok Bisa?

31 Desember 2025
Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

20 November 2025
staf tu fakultas yudisium wisuda lulus mojok

Di Kampus Saya, Orang Paling Menyebalkan Bukanlah Dosen Pembimbing, tapi Staf TU Fakultas

16 November 2020
Membayangkan Seandainya Saya Jadi Mahasiswanya Dian Sastrowardoyo

Seandainya Saya Jadi Mahasiswanya Dian Sastrowardoyo

13 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.