Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Saya Berharap Semoga Pak Ogah Punah dari Jalanan Jogja karena Bikin Kesal dan Semrawut Jalanan

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
19 Oktober 2025
A A
3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance pak ogah

3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu hal yang bikin jalanan Jogja makin semrawut. Bukan macetnya. Bukan juga lampu merah yang kadang telat berubah. Tapi orang tanpa seragam, tanpa surat tugas, tapi bertingkah seperti polisi lalu lintas. Ya, yang saya maksud adalah pak ogah, bagi kalian yang lebih tua, mengenalnya dengan istilah polisi cepek. Sosok yang katanya menolong, tapi kenyataannya berbeda. Mereka justru sering bikin emosi mendidih di tengah panasnya aspal Jogja.

Entah sejak kapan mereka muncul. Mungkin awalnya niatnya baik. Menolong kendaraan biar bisa menyeberang di simpang tanpa lampu. Tapi sekarang rasanya fungsi itu sudah kabur. Mereka berubah jadi penguasa kecil di jalan. Mengatur arus seenaknya. Menerobos mobil dari arah lain. Melambaikan tangan tanpa arah. Kadang malah bikin kendaraan saling berhadapan dan berhenti di tengah. Bukan menolong, malah menciptakan kekacauan.

Yang bikin tambah jengkel, mereka sering memaksa. Baru juga lewat sedikit, tangan sudah terjulur minta “uang rokok”. Kadang sambil mengetuk kaca, kadang dengan tatapan memaksa. Seolah kita punya utang moral karena sudah “dibantu” menyeberang.

Padahal bantuan itu sering kali nggak dibutuhkan. Mobil dari arah depan pun sebenarnya bisa lewat kalau semua sabar sedikit. Tapi dengan hadirnya mereka, semuanya berubah jadi balapan ego.

Uang receh yang menggandakan kekacauan

Masalahnya bukan cuma soal keberadaan mereka. Tapi sistem “ekonomi receh” yang muncul di baliknya. Satu-dua orang ngasih uang seribu, yang lain ikut-ikutan. Lama-lama jadi kebiasaan.

Dari sekadar niat membantu berubah jadi ladang rezeki. Mereka mulai “jaga wilayah”. Ada yang nongkrong tiap pagi di titik yang sama. Ada yang shift sore sampai malam. Seolah jalanan itu milik pribadi.

Dan celakanya, makin banyak yang ikut. Anak muda pun ikut-ikutan. Kadang tanpa kaos, kadang pakai sandal jepit butut, berdiri di tengah jalan sambil ngatur-ngatur. Mobil-mobil mahal pun kadang tunduk. Ya semata karena takut. Takut kaca diketuk, takut diserempet, takut disumpahi. Akhirnya uang receh berpindah tangan. Kebodohan jalanan pun terus beranak pinak.

Jogja yang semakin tidak nyaman

Jogja dulu terkenal dengan sopan santunnya. Tapi sekarang, lihat saja di perempatan kecil dekat kampus atau area padat. Di situ biasanya para pak ogah berjaga. Mereka nyelonong seenaknya. Nyegat mobil, dan kadang menyeberangkan motor tanpa melihat situasi. Orang yang terburu-buru malah kena macet dadakan. Klakson bersahutan. Urat di leher mulai menegang.

Baca Juga:

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja

Parahnya lagi, banyak yang beroperasi di tempat yang justru berbahaya. Di tanjakan, di belokan, atau di area dekat sekolah. Kadang mereka berdiri terlalu dekat ke mobil. Bikin pengendara canggung dan khawatir menabrak.

Kalau sampai kejadian, pasti ujung-ujungnya ribut. Dan di Jogja, yang tadinya dikenal adem, suasana jadi panas. Semua gara-gara orang yang merasa punya kuasa di jalan.

Antara kasihan dan kesal pada pak ogah

Sebenarnya ya, saya tak benci sepenuhnya. Sebagai manusia yang masih berfungsi, saya masih punya empati. Kadang saya melihat pak ogah yang sudah tua, lusuh, dan lelah. Berdiri di bawah terik matahari dengan tangan terangkat seolah sedang menantang maut. Dalam hati timbul kasihan.

Tapi di sisi lain, tetap saja kesal. Karena perbuatan mereka salah tempat. Jalanan bukan ruang amal. Dan keselamatan bukan sesuatu yang bisa diatur tanpa aturan. Ada juga yang membawa anak kecil. Duduk di pinggir jalan sambil memperhatikan ayahnya mengatur mobil. Gambar itu bikin hati ngilu.

Tapi di saat yang sama juga bikin resah. Karena anak itu tumbuh dengan melihat ketidakteraturan sebagai pekerjaan. Seolah jadi pak ogah itu hal biasa. Padahal, dari sinilah rantai kekacauan jalanan mulai tak putus.

Bahaya yang tak disadari dari kemunculan pak ogah

Selain bikin macet dan emosi, keberadaan mereka juga bahaya. Banyak kasus hampir tabrakan karena mobil disuruh jalan di waktu yang salah. Ada motor jatuh karena kaget dikagetin pak ogah yang tiba-tiba nyebrang. Ada pejalan kaki yang terserempet karena sibuk menghindari mereka.

Tapi semua itu seperti dianggap biasa. Polisi jarang turun tangan. Masyarakat pun terbiasa membiarkan. Itulah faktanya di lapangan. Padahal setiap detik di jalan adalah urusan nyawa. Satu isyarat tangan yang salah bisa berarti celaka. Sudah ada banyak buktinya. Tapi pak ogah tetap santai.

Kadang sambil merokok. Kadang pula sambil ngobrol dengan temannya. Kalau ada pengendara marah, mereka balik marah. Kalau ditegur, malah nyolot. Seolah jalanan itu warisan kakek moyang mereka.

Jogja bukan hutan lalu lintas

Jogja bukan hutan yang tak punya aturan. Ada marka jelas di jalan, rambu-rambu yang bisa dilihat, lampu lalu lintas. Dan yang jelas, meski jarang terlihat, ada petugas berwenang.

Tapi semua itu jadi tidak berarti kalau di lapangan masih ada “penguasa liar” yang bertindak seenaknya. Jalan yang mestinya lancar jadi rusak ritmenya. Pengendara jadi gampang emosi. Warga sekitar pun terganggu.

Kondisi ini pelan-pelan membentuk budaya baru. Budaya yang menormalisasi kekacauan. Budaya yang membuat orang percaya bahwa jalanan bisa diatur dengan uang seribu. Bahwa ketertiban bisa dibeli dengan koin logam. Dan ketika budaya itu dibiarkan, Jogja yang terkenal damai bisa berubah jadi kota dengan wajah sinis di balik senyumnya.

Harapan di tengah kesemrawutan

Mungkin saya akan terdengar kejam jika berharap pak ogah di Jogja punah. Tapi di tengah rasa jengkel yang menumpuk, itu bukan kebencian pribadi. Ini soal ketertiban publik. Soal keamanan di jalan, kenyamanan berkendara tanpa rasa takut dipalak di setiap tikungan. Jogja terlalu indah untuk dijadikan panggung orang-orang yang cari receh dengan cara ngawur.

Semestinya jalan-jalan di Jogja bisa dinikmati tanpa drama. Tanpa tangan melambai seenaknya di tengah aspal, kaca mobil diketuk oleh orang asing yang mengaku “menolong”, tanpa rasa bersalah karena tidak memberi uang. Karena yang benar bukan siapa yang menyeberangkan. Tapi siapa yang tahu aturan.

Jogja butuh ketenangan. Bukan kekacauan receh yang disamarkan dengan kata tolong-menolong. Jogja butuh pengendara yang sabar, bukan pengatur lalu lintas dadakan.

Dan kalau harus memilih antara rasa kasihan atau rasa kesal, mungkin sekarang waktunya memilih tegas. Sebab, rasa kasihan yang dibiarkan terus bisa berubah jadi bencana kecil di setiap perempatan.

Jogja tidak akan merasa kehilangan pak ogah

Jogja tidak akan kehilangan apa pun kalau pak ogah menghilang. Malah mungkin akan mendapat banyak hal. Ketertiban, keamanan, dan kenyamanan yang sebenarnya. Jalanan yang bebas dari mereka, (akan memakasa) orang (untuk) bisa kembali percaya pada rambu. Bukan pada isyarat tangan asal-asalan.

Maka kalau suatu hari nanti kita lewat perempatan kecil dan tidak ada lagi orang berdiri di tengah jalan melambaikan tangan minta uang, itu bukan kehilangan. Itu kemajuan kecil. Sebuah tanda bahwa Jogja akhirnya sadar.

Bahwa kebaikan tidak selalu berarti berdiri di tengah jalan. Bahwa tolong-menolong tidak harus mengacaukan aturan. Dan bahwa ketenangan di jalan bukan hasil dari isyarat tangan pak ogah, tapi dari kesadaran bersama bahwa tertib itu bukan pilihan, tapi kewajiban.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Jadi Pak Ogah di Jalan Raya Purbalingga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2025 oleh

Tags: jalanan JogjaJogjapak ogahpolisi cepek
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

Jalan Palagan Jogja Tak Terawat dan Membahayakan Wisatawan (Unsplash)

Penuh Lubang dan Gelap, Jalan Palagan Jogja Semakin Berbahaya bagi Pengguna Jalan dan Wisatawan

11 Agustus 2024
Underpass Kentungan Jogja, Pengurai Kemacetan yang Kini Terbukti Tidak Ada Gunanya

Underpass Kentungan Jogja, Pengurai Kemacetan yang Kini Terbukti Tidak Ada Gunanya

9 Maret 2024
ramadan di jogja

Masjid di Jogja Semakin Istimewa di Bulan Ramadan

1 Juni 2019
Nasib Pejalan Kaki di Jogja Begitu Menyedihkan, Dipaksa Bertarung Melawan para Perampok Trotoar

Nasib Pejalan Kaki di Jogja Begitu Menyedihkan, Dipaksa Bertarung Melawan para Perampok Trotoar

1 Desember 2024
Perlahan tapi Pasti, Warmindo Menggeser Angkringan dari List Tempat Makan Murah terminal mojok.co

Gunungkidul Adalah Kawasan yang Menciptakan Romantisme Jogja

1 Desember 2020
Ilustrasi Legenda yang Hilang di Jogja Bernama Bus Baker dan Jatayu (Unsplash)

Mengingat Kembali Legenda yang Hilang di Kaliurang dan Parangtritis Jogja Bernama Bus Baker dan Bus Jatayu

23 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.