Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Masjid di Jogja Semakin Istimewa di Bulan Ramadan

Nurkomala Hayati oleh Nurkomala Hayati
1 Juni 2019
A A
ramadan di jogja

ramadan di jogja

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja yang dahulunya terkenal sebagai kota parawisata dan kota pelajar—sekarang tidak jauh berbeda dengan Ibu kota. Semakin malam semakin ramai—seakan jam malam merupakan jam beraktivitas untuk para golongan anak muda yang sukanya kongkow rame-rame—haha hihi hingga pagi.

Semakin malam obrolan semakin ngalor ngidul. Tapi jangan negative thingking dulu ah, wahai para orang tua yang melihat kelakuan anaknya seperti Bang Toyib.

ADVERTISEMENT

Jarang pulang

Anak jarang pulang

Anak jarang berkabar

Saat kongkow sedang berlangsung sesungguhnya telah terjadi pertukaran ide-ide cemerlang yang memang dibutuhkan. Mulai dari membicarakan nasib negara yang sudah jelas KPU mengumumkan siapa presidennya, namun masih saja kubu sebelah tidak terima, kepolisian yang mencari pihak penyebar video penyiksaan ketimbang menghukum pelaku pengroyokkan. Duh Gusti, kenapa sih dengan negara saya ini~

Yang makin membuat kepala tak berhenti bergeleng  sembari terus mengelus dada adalah saat terjadi aksi yang katanya damai malah memakan korban. MasyaAllah itu orang – orang coba beraksi di masjid saja agar mendapatkan kemulian lailatul qadar dibanding membakar kendaran juga merusak taman Jakarta. Mereka kira semua itu dibeli dan dibuat makai daun kali ya—heran deh.

Jika dana negara mengucur deras untuk perbaikan nanti kembali protes dengan alasan tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat kecil—padahal yang merusak ya masyarakat sendiri. Kalau sudah kejadian seperti ini siapa yang dapat disalahkan? Siapa yang akan menanggung biaya perbaikan ? Ya jelas saja negara.

Baca Juga:

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

Bayangkan jika tidak merusak banyak kendaraan, tidak menghancurkan taman, kan dana untuk perbaikan itu semua dapat dialokasikan ke tempat atau bagian yang seharusnya. Saya bukan bermaksud membela para petinggi, namun yang namanya merusak dan menimbulkan kerugian yang tetap saja kelakuan yang tidak benar.

Coba kembali bayangkan jika aksi dilakukan di masjid saat menjelang sahur—akan terberkahi sekali negara kita ini.  Aksi diganti dengan membaca Alquran beramai-ramai, zikir dengan khidmat, juga salat dengan penuh kekhusyukan. Damai, tenteram tanpa adanya kekerasan—andai seperti ini, andai ini semua terjadi—sungguh mulia warga negara kita yang katanya muslim terbesar di dunia. Pada akhirnya kita hanya bisa berandai-andai—semoga kelak menjadi nyata meski entah kapan terjadinya.

Harusnya seperti masjid di Jogja dong—sudah memang kotanya istimewa ditambah masjid yang ramai setiap salat Maghrib tiba, makin istimewa saja masjid beserta jamaah di dalamnya. Bagaimana tidak, masjid biasanya ramai karena banyak sekali masjid di Jogja menyedikan takjil gratis untuk semua orang yang menunaikan salat Maghrib berjamaah.

Jogja yang katanya kota pelajar dapat dibuktikan dengan jumlah para jamaah masjid yang datang mayoritas adalah mahasiswa anak rantau. Momen takjil gratis seperti ini sangat membantu kami para perantau dalam perihal mengirit uang jajan untuk  membeli tiket pulang ke kampung halaman—pengiritan uang jajan seperti ini merupakan salah satu bukti bahwa anak pendatang itu tidak selalu ada isi dompetnya.

Saat tahun pertama bulan Ramadan di Jogja, sempat bingung melihat masjid yang menjadi begitu ramai—tidak seperti biasanya. Saat sesampainya di depan masjid melihat barisan nasi kotak terjejer dengan begitu rapi beserta teh hangat nan mengiurkan, saya jadi paham mengapa jamaah masjid bertambah begitu saja. Ini baru masih masjid dekat kosan, belum lagi masjid besar yang menyediakan ribuan makanan, seperti halnya Masjid Jogokariyan.

Jelas saja saya penasaran dengan berita yang tersebar di dunia maya juga sekaligus ingin merasakan euforia buka bersama dengan ribuan jamaah di Masjid Jogokariyan. Akhirnya saya pun bersama teman mencoba sekali waktu untuk menjadi salah satu bagian dari peserta ribuan buka bersama disana. Waw tenyata lumayan sesak juga, susah sekali mecari tempat parkir karena banyak sekali kendaraan yang sudah terparkir yang kemungkinan sudah datang sedari siang.

Beberapa masjid bahkan membuat list menu buka puasa selama bulan Ramadhan, dan informasi mengenai menu ini  sangat cepat tersebar melalui pesan whatsapp, yang menggelikan adalah  saat seorang teman membuat grup khusus “takjil hunter”. Grup ini lah yang menentukan masjid mana yang akan menjadi tempat berbuka.

Tidak seharipun grup ini absen dari rencana setiap sorenya—memilih masjid yang akan didatangi, mengecek setiap menu yang sudah didapatkan infonya, dan luar biasanya salah seorang teman memilih masjid dengan melihat takmir yang bertugas dengan dalih menjemput calon imam yang di idamkan—bukankah muliah mengharapkan calon imam yang saleh? Ya sudah dilarang  protes, segala sesuatu kan tergantung niat—dan niat teman saya kan baik. haha

Atau boleh juga untuk kalian tiru tingkah laku kami ini perihal menjadwal masjid mana saja yang akan didatangi—toh tidak merugikan dan malah menguntungkan, baik dari segi finansial dan keimanan. Hazekkkk~

Tugas mulia sebagai seorang anak kos yang baik hati nan beriman di bulan puasa ya menjelajahi masjid yang ada di Jogja,—dan lebih jelasnya masjid yang menyediakan makanan untuk berbuka puasa dengan menu-menu yang berbeda.

Kata siapa anak rantau jarang makan enak? Sini ke Jogja—akan saya ajak wisata kuliner gratis saat berbuka puasa. Mau apa—gulai kambing? sate ayam? nasi kotak isi rendang? Semua ada—tinggal rajin-rajin saja mencari tahu menu buka puasa di berbagai masjid.

Hampir setiap masjid menyediakan makanan sekelas restoran standar, cuman bedanya makannya harus ngemper bareng-bareng bersama jamaah lain. Ya tidak masalah juga saya rasa, biar seperti presiden kita dong—merakyat.

Namun disayangkan, memasuki tahun keempat berpuasa di Jogja, belum pernah menemui masjid yang menyediakan takjil es buah—mentok-mentok teh hangat, atau yoghurt, itupun hanya pernah sekali saat di Masjid Agung Alun-Alun.

Coba deh bayangin, sudah makan enak ditambah  es buah nan komplit plus susu kental, allahuma gusti nikmat mana lagi yang saya dustakan.

Doa pun saya ajukan special untuk para donatur, barang sekali saja memberikan es buah agar masjid semakin ramai jamaahnya, juga semakin sering kembali jangan hanya  sesekali apalagi jika hanya saat lauk berkelas yang dinanti.

Ngomong-ngomong  mengenai donatur makanan, kini menjadi salah satu cita-cita bagian dari mereka saat tau masjid jogja banyak takjil gratisnya, coba bayangkan jika saya menjadi donatur takjil disalah satu masjid besar dijogja.

Pernah mendengar hadist yang mengatakan bahwa, seseorang yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga.

Bayangkan jika setiap orang yang datang ke masjid merupakan orang-orang yang beriman, yang tidak sedikitpun melewatkan kesempatan di bulan suci Ramadan sebagai ladang pahalanya—melakukan tadarus, tahajud juga duha, tidak membiarkan hatinya berhenti melakuakan zikir. MasyaAllah seberapa besar pahala yang saya dapatkan jika saya memberi takjil bagi golongan kaum muslimin yang beriman itu.

Otw bangun rumah makan ahhh—biar tahun depan bisa memberi makan banyak orang, biar masjid makin ramai. Bukan hanya warung kopi saja yang seperti tidak tahu waktu—awan sepi bengi rame banget. Bukan berarti saya tidak mendukung gerakan kongkow di malam hari, ya tetap saja disayangkan jika bulan Ramadan tidak diindahkan dengan kegiatan ibadah, toh datang hanya sekali dalam setahun.

Andai masjid juga ramai di malam hari, jadi kita mencari lailatu qadar ramai-ramai—bukan hanya mendekati si Laila di kampus saja, toh belum tentu juga mendapatkannya. Berbeda halnya jika lailatul qadar, jika tetap tidak bisa mendapatkannya maka setidaknya pahala kita akan dilipat gandakan oleh Tuhan.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Aksi 22 MeiJogjaRamadan di JogjaUmat Muslim Indonesia
Nurkomala Hayati

Nurkomala Hayati

ArtikelTerkait

3 Alasan yang Membuat Orang Purwokerto Minder dan Iri pada Warga Jogja Mojok.co

3 Alasan yang Membuat Orang Purwokerto Iri pada Warga Jogja

15 Juli 2025
Jetis Jogja dan Jetis Bantul: Dua Daerah Berbeda dengan Nama dan Nasib yang Mirip Mojok.co

Jetis Jogja dan Jetis Bantul, Dua Daerah Berbeda dengan Nama dan Nasib yang Mirip

24 Oktober 2025
Mitos di Jogja yang Terbukti Bohong, dari Hantu Bunderan Teknik UGM sampai Suara Drum Band Gaib, Semuanya Hoax!

Mitos di Jogja yang Terbukti Bohong, dari Hantu Bunderan Teknik UGM sampai Suara Drum Band Gaib, Semuanya Hoax!

5 Agustus 2024
warung masakan babi di jogja

Warung Masakan Babi di Jogja yang Bikin Ngiler Part 2

8 November 2021
Mi Ayam Pak Narto: Rasa Elit, Kantong Tak Menjerit

Mi Ayam Pak Narto: Rasa Elit, Kantong Tak Menjerit

8 Mei 2023
Orang yang Bikin Viral Kasus Parkir Bis di Jogja Memang Pantas Dilaporkan

Orang yang Bikin Viral Kasus Parkir Bis di Jogja Memang Pantas Dilaporkan

22 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

26 Juni 2026
5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

24 Juni 2026
Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

27 Juni 2026
Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

23 Juni 2026
Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah di Luar Kota Demi Kejar Gengsi Mojok.co

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

27 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.