Saya Baru Pernah Belanja Online dan Tidak Malu untuk Mulai Memahaminya – Terminal Mojok

Saya Baru Pernah Belanja Online dan Tidak Malu untuk Mulai Memahaminya

Artikel

Adriel Prastyanto

Belanja online sudah menjadi bagian dari masyarakat modern. Bahkan semenjak pandemi ini, belanja online seperti menjadi jawaban untuk memecah kebosanan selama di rumah aja.

Jujur, saya termasuk orang yang cukup parno untuk melakukan transaksi belanja daring ini. Saya sendiri belum pernah melakukannya sebelum pandemi. Meskipun saya sering menerima paket milik kakak saya, namun tidak pernah tebersit dalam benak saya untuk belanja online. Barang apa pun sepertinya pernah dibeli oleh kakak saya, mulai dari headset yang seharga Rp 1,- karena flash sale, hingga onderdil Vespa. Keluarga sampai heran dan bertanya-tanya barang apalagi yang selanjutnya akan dibeli.

Tak lama ini, kakak saya —yang satunya lagi—mencoba berbelanja sayur online. Belanja sayur aja online! Mungkin itu yang ada di benak kalian. Ya, itu juga yang ada di benak saya saat itu. Namun, hal tersebut tidak terdengar semenakutkan itu karena pada waktu itu lokasi tempat tinggal kakak saya sedang zona merah karena Covid dan ada imbauan untuk benar-benar tidak meninggalkan rumah dari kepala daerah setempat. Alasan yang bisa diterima kan?

Jika ada yang bilang kalau pandemi mengubah kebiasaan orang, saya juga salah satunya. Pandemi secara tidak langsung mengubah rutinitas saya. Kini bangun lebih siang, tidak tergesa-gesa untuk menghadiri kegiatan karena semuanya dialihkan melalui daring dan mulai belajar belanja online.

Jujur, keparnoan saya datang karena berita-berita negatif soal belanja online. Mulai dari barangnya yang tidak sesuai ekspektasi sampai barang yang tidak sampai karena penjualnya ternyata penipu. Hal-hal inilah yang mengurungkan niat saya. Meskipun hal ini tidak sesuai dengan karakteristik saya sebagai mahasiswa di bidang teknologi informasi, tapi hal tersebut benar-benar terjadi pada saya. Sebagai mahasiswa yang seharusnya terbuka akan hal-hal baru, apalagi di bidang TI, harusnya tidak asing sama yang online-online begini. Dari situlah saya mulai memberanikan diri.

Pengalaman belanja online pertama saya dimulai dari belanja tas selempang. Dimulai dari yang tidak tahu bagaimana cara check-out dan berbagai drama lainnya, kini saya sudah merasa mulai pro. Berbagai hal sudah mulai saya beli, dari sepatu sampai RAM dan harddisk, sudah saya lakoni semua.

Hal yang saya pelajari dari pengalaman ini adalah untuk mau belajar akan hal-hal baru. Jika kita tidak pernah mencoba suatu hal, maka perspektif negatif akan hal-hal tersebut akan selalu ada dalam benak kita karena kita sendiri tidak memiliki pengalaman akan hal tersebut. Manusia cenderung takut pada hal-hal yang tidak mereka mengerti. Mau belajar artinya juga mau untuk menerima saran dan masukan serta ilmu baru.

Beberapa waktu yang lalu sempat viral seseorang yang menolak membayar barang COD padahal barang tersebut sudah dibuka. Jika berdasarkan aturan COD, penerima barang harus membayar barang pesanan sebelum barang tersebut diterima oleh pembeli. Sayangnya, pembeli ini tidak mau membayar sebelum menerima barang. Bahkan pembeli tersebut membuka barangnya sebelum membayar pesanannya. Parahnya, setelah pesanan tersebut dibuka, barang yang diterima tidak sesuai dengan yang dipesan. Pembeli pun segera mengembalikan barang tersebut ke kurir untuk dikembalikan ke penjual. Hal ini cukup aneh dan mengesalkan.

Aneh karena hal ini di luar dari aturan COD yang ada. Dan jika menggunakan COD, pembeli harusnya sudah tahu aturannya. Mengesalkan karena hal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kurir, namun kurir kini yang kena masalah.

Meskipun saya tidak pernah belanja secara COD, namun saya belajar banyak dari kasus tersebut. Membaca itu penting, apalagi membaca aturan teknis yang sudah seharusnya dipatuhi. Selain itu, mau belajar dari orang lain itu juga perlu, apalagi jika belajar dari orang yang sudah lama bergelut dalam hal tersebut. Jika dilihat dari kasus sebelumnya, tampak sekali jika pembeli tersebut masih awam dengan COD. Sayangnya, meskipun kurir yang bisa dibilang memiliki pengalaman yang lebih lama mengenai masalah COD ini ketimbang pembeli yang masih awam, si pembeli tersebut tidak mau mendengarkan instruksi dari kurir. Ngeri banget, Indonesia darurat literasi belanja online. Padahal kalau nggak pernah belanja online, kita harus siap belajar, harus mau memahami dan lebih jeli dengan aturan-aturannya. Lha wong belanja online itu konsepnya sederhana dan mudah dipelajari kok.

BACA JUGA Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China, Bukan Hanya Belanja Barang Impor dari Mr. Hu dan tulisan Adriel Prastyanto lainnya.

Baca Juga:  Alasan Mengapa Orang Bisa Tidak Memiliki Empati Sampai Meminta Orang Miskin Jangan Punya Anak
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
4


Komentar

Comments are closed.