Sastra Inggris, atau lebih sering disebut Sasing, merupakan jurusan yang kerap disudutkan banyak orang. Sebagai bagian dari ilmu humaniora, jurusan ini sering dianggap nggak menjanjikan, karena tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Malah ada yang bilang, daripada masuk jurusan Sasing, mending les privat saja, kuliahnya masuk jurusan lain yang lebih bagus.
Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, saya dapat memahami argumen-argumen seperti itu. Awalnya saya juga sempat berpikir demikian, menganggap remeh jurusan ini karena jarang dilirik perusahaan besar.
Akan tetapi, setelah nyemplung di jurusan ini hampir 4 tahun, pemikiran saya berubah. Saya malah bangga dapat menjadi mahasiswa yang bergelar S.S ini.
Modal skill mahasiswa jurusan Sastra inggris kuat sekali
Menjadi mahasiswa Sasing sebenarnya secara otomatis mengantongi satu skill penting di dunia kerja, yaitu bahasa Inggris. Gimana nggak, kuliahnya saja pakai bahasa Inggris. Tugas akhir skripsinya pun nanti harus ditulis dan dipresentasikan menggunakan bahasa Inggris.
Melihat banyaknya perusahaan saat ini yang mencari kandidat dengan bahasa Inggris yang baik, seharusnya mahasiswa Sastra Inggris tidak perlu risau. Kami itu sebenarnya sudah punya senjata yang siap dipakai tempur, tinggal pandai-pandai menggunakannya saja.
Tapi nanti ada yang bilang begini, “Ah, bahasa Inggris sekarang semua orang sudah bisa dan mudah dipelajari.” Pernyataan itu ada benarnya, tapi, realitasnya nggak begitu. Banyak orang yang aslinya bisa bahasa Inggris, tapi belum mahir dalam berkomunikasi secara intens. Nah, masalah itu sebenarnya yang menjadi alasan kenapa masih banyak orang Indonesia yang hanya jadi penutur pasif bahasa Inggris. Di situlah keunggulan lulusan Sasing.
BACA JUGA: Kuliah Sastra Inggris Biar Lancar Berbahasa Inggris: Tidak Segampang Itu
Meski prospeknya tidak sebesar jurusan STEM, tapi lulusan Sasing akan selalu ada yang minat
Saya mengakui, prospek karier lulusan Sastra Inggris memang tidak semulus jurusan-jurusan STEM dan populer lain, seperti teknik atau kedokteran. Tapi jangan anggap remeh, lulusan Sasing sejatinya punya jalur kariernya sendiri yang jarang disadari orang.
Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, saya baru tau kalau mahasiswa jurusan ini bisa ke mana-mana. Anak Sasing bisa kerja di bidang bahasa, terjemahan, atau media. Kalau mau kerja di bidang pariwisata pun bisa, apalagi untuk kampus yang punya konsentrasi khusus antara bahasa dan bidang industri tertentu, misal Penerjemahan atau English for Business/Tourism.
Di semester awal saya kuliah jurusan ini, saya pernah mendapat mata kuliah Computer-Assisted Translation. Intinya, mata kuliah ini mempelajari penggunaan mesin terjemahan yang biasa dipakai oleh perusahaan penerjemahan. Dari sini bisa dinilai, bahwa masuk Sastra Inggris bukan berarti 100% anti industri.
Kalau saya boleh bilang, Sastra Inggris ini jurusan yang nggak terlalu seksi, tapi peminatnya akan selalu ada. Jurusan ini nggak akan pernah mati, meski selalu jadi opsi kesekian.
Kuliah tidak selalu harus “manut” kemauan industri
Tujuan utama kuliah sejatinya memang mendapat ilmu, bukan semata-mata soal supaya dapat terserap masuk di dunia industri. Saya tidak munafik jika mengatakan tujuan kuliah adalah untuk kerja, tapi jangan menyimplifikasi persoalan dengan menganggap tujuan kuliah untuk kerja saja.
Menjadi mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi seharusnya punya banyak pikiran terbuka mengenai hal-hal yang bisa dieksplor demi mendapat ilmu dan pengalaman baru. Mencari kerja sejatinya hanya satu dari banyak alasan mengapa kita berkuliah.
Lagipula, justru kesalahan besar jika kampus dituntut untuk membuka prodi yang “hanya” relevan dengan pasar industri. Kalau mindsetnya begitu, kampus lama-lama bakal jadi pencetak buruh saja, bukan pemikir.
Ketimbang menuntut kampus untuk selaras dengan industri, lebih baik maksimalkan sekolah-sekolah vokasi yang pada dasarnya sesuai kebutuhan industri, tapi selalu dianaktirikan.
Anehnya, universitas yang notabene pencetak pemikir disuruh mencetak buruh, tapi sekolah vokasinya sendiri sebagai pencetak buruh ditelantarkan. Buat pemangku kebijakan ini, MIKIR!
Penulis: Georgius Cokky Galang Sarendra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kalau Ada yang Bilang Jurusan Sastra Inggris Itu Overrated, Udah, Iyain Aja biar Cepet
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















