Mahasiswa Sastra Inggris Pasti Bisa Dapat Skor TOEFL Tinggi? Belum Tentu – Terminal Mojok

Mahasiswa Sastra Inggris Pasti Bisa Dapat Skor TOEFL Tinggi? Belum Tentu

Artikel

Avatar

Saya teringat ketika anak dari jurusan yang berbeda dengan saya sedang berkumpul dan membahas masalah skor TOEFL sebagai syarat wisuda. Kebetulan saat itu saya sedang berada tidak jauh dari mereka dan bisa mendengar jelas apa yang mereka ceritakan.

Mereka terlihat cemas karena merasa tidak akan mampu untuk mendapatkan skor TOEFL minimal menurut peraturan di jurusan mereka. Jadi mereka saling tukar pikiran bagaimana supaya bisa lulus tes.

Banyak juga teman saya dari jurusan lain tidak lulus tes TOEFL. Ada yang sampai mengulang tiga kali akan tetapi belum juga lulus. Ada juga yang wisudanya tertunda karena belum mampu mencapai skor minimal TOEFL. Kira-kira itulah gambaran menyeramkan dari tes TOEFL yang banyak ditakuti mahasiswa tingkat akhir.

Di kampus saya, biasanya jurusan selain Sastra Inggris, minimal skor TOEFL yang harus dicapai sekitar 400. Lebih baik lagi ketika mereka mendapatkan skor di atas 400. Bagi teman-teman saya di jurusan lain, skor TOEFL  400 menurut mereka sudah cukup tinggi karena mereka jarang belajar bahasa Inggris dan tidak terlalu paham dengan TOEFL.

Oleh karena saya mengambil jurusan Sastra Inggris mereka sering bertanya kepada saya tentang trik supaya lulus TOEFL. Biasanya saya hanya menjawab tes TOEFL itu berbeda dengan kita belajar bahasa Inggris biasa. Mereka juga bilang pada saya kalau saya pasti akan dapat skor TOEFL yang tinggi karena saya jurusan Sastra Inggris.

Saya bukan tidak mau bilang secara detail tentang tips supaya lulus, tapi masalah tes TOEFL memang sulit untuk dijelaskan secara rinci kalau belum dipelajari secara langsung.

Mereka sering bilang kalau anak Sastra Inggris pasti semuanya akan lulus karena mereka menganggap anak Sastra Inggris sudah terbiasa dengan bahasa Inggris. Menurut saya, pendapat seperti itu sangat keliru.

Teman yang satu kos dengan saya juga sering dianggap bisa mengerjakan tes karena berteman dengan anak Sastra Inggris. Padahal, teman saya juga pernah sekali tes namun tidak mencapai skor minimal yang ditetapkan oleh jurusannya.

Anggapan teman saya akan lulus tes karena satu kos dengan saya sangat salah. Logikanya, tidak mungkin saya langsung bisa menguasai ilmu Biologi hanya karena teman saya jurusan Biologi.

Anak Sastra Inggris memang terbiasa dengan bahasa Inggris karena setiap belajar memang menggunakan bahasa Inggris. Dari semester satu sampai semester akhir kami selalu diberikan tugas yang berhubungan dengan bahasa Inggris. Kecuali, ada beberapa mata kuliah yang memang harus menggunakan bahasa Indonesia.

Kami juga ada mata kuliah khusus untuk mempelajari TOEFL dari listening, structure, dan reading. Seingat saya, mata kuliah tersebut ada pada saat kami semester enam. Pada mata kuliah itu, kami diajari berbagai trik supaya bisa lulus TOEFL. Lebih tepatnya, berbagai macam rumus yang harus diingat supaya mudah menguasai tes tersebut.

Rata-rata saat belajar mata kuliah itu, kami kebingungan karena banyaknya rumus yang harus dihapal. Ketika tes pun kami kurang bisa mengisi jawaban dengan benar. Ada beberapa teman saya yang tidak mencapai skor minimal ketika mata kuliah tersebut dijadikan tes untuk nilai UAS.

Jadi, saya katakan lagi anak Sastra Inggris memang sudah terbiasa dengan bahasa Inggris tapi tidak terbiasa dengan TOEFL. Jelas jauh berbeda antara tes TOEFL dengan mata kuliah bahasa Inggris sehari-hari.

Di jurusan saya, untuk lulus itu harus mendapatkan skor 500 atau lebih. Kalau sudah mencapai skor TOEFL minimal tersebut kami baru bisa dinyatakan lulus dan dapat mengikuti wisuda.

Walaupun sudah semester akhir, banyak teman-teman angkatan saya belum berani untuk tes TOEFL. Alasan mereka adalah takut tidak lulus tes. Anggapan mereka sama dengan anak jurusan lain, untuk mencapai skor 500 sangat sulit.

Ada juga teman saya yang sudah mencoba untuk tes tapi belum bisa mencapai skor minimal di jurusan. Jadi dia harus mengulang lagi untuk tes kedua kalinya. Padahal, saat belajar di kelas dia termasuk anak yang lumayan pintar.

Jadi singkatnya seperti ini. Benar, sebagai anak Sastra Inggris, kita terbiasa dengan bahasa Inggris. Namun, bukan berarti anak Sastra Inggris pasti lulus tes, sebab urusannya udah berbeda itu, Bro. 

BACA JUGA 3 Pandangan Umum yang Keliru tentang Jurusan Sastra Inggris dan artikel Dwi Aryani lainnya.

Baca Juga:  Menghitung Total Utang Harian Abdel dan Temon kepada Muklis
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
6


Komentar

Comments are closed.