Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sandeq dan Nilai Filosofisnya

Ulya Sunani oleh Ulya Sunani
19 Juli 2019
A A
sandeq

sandeq

Share on FacebookShare on Twitter

Sandeq merupakan perahu yang lahir dari pertemuan pengetahuan, kearifan tentang laut dan perahu serta keyakinan keagamaan suku Mandar. Perahu ini lahir dari tiang keyakinan dan pahat kearifan lokal Suku Mandar dalam mengarungi kehidupan.

Suku Mandar mayoritas tinggal di sepanjang pesisir pantai Sulawesi Barat. Masyarakatnya identik dengan laut. Saking cintanya terhadap laut, banyak di beberapa pesisir pulau Nusantara ini dihuni oleh mereka—seperti di Bawean dan Lombok tak luput dari domisili mereka.

Sandeq—perahu ini ramping, mengandalkan layar dan kecepatan angin untuk mengarungi lautan. Memang tak sebesar dan tersiar bak Pinisi suku Bugis-Makassar, tetapi beberapa prosesi pembuatan dan bagian perahu tak kalah dalam maknanya.

Ada beberapa jenis Sandeq, namun jenis tradisonal yang menarik untuk dinjelimeti, karena mulai dari cara pembuatan dan bahagian perahu semuanya ‘mentes-mentes dan berisi’—filosofis. Tanda filosofisnya, pembuatan perahu dimulai dan diakhiri dengan kekhusyu’an ma’baca atau doa selamat dan syukuran. Berserah memohon kelancaran usaha kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan lantunan ayat-ayat suci, bershalawat dan barzanji.

Menu wajib dalam ma’baca adalah loka (pisang), sokkol (ketan), cucur (kue kucur), dan telur serta hidangan untuk para tamu. Makna pengharapan lokal Mandar (ussul) dari pisang adalah bentuk sisirnya yang menyerupai tangan ketika berdoa, sokkol kerekatan bahan ketan adalah pengharapan melekatnya rezeki untuk mereka. Cucur dengan rasa manisnya, semoga usaha rezeki mereka selalu berhasil manis dan telur, ndog gludug menyimbolkan kebulatan tekad.

Acara ma’baca ini juga ramai, melibatkan saudara, tetangga dan masyarakat sekitar, bersedekah tentu intinya.  Dipimpin oleh tokoh agama (annangguru), ma’baca juga melibatkan pembuat perahu (pande lopi), dan calon awak perahu, yang dengan merendahkan hati dan fikiran meminta kepada Allah segala kebaikan tentang perahu Sandeq; keselamatan  dan kebaikan rezeki.

Selain khusyu’ juga semarak dan meriah, karena ada sesi rebutan makanan, bagi warga, seperti telur dan hidangan ma’baca lainnya. Rebutan makanan ini merupakan diantara momen riang yang ditunggu, terutama bagi anak-anak.

Sebelum kemeriahan ini, pemilik perahu sowan ke annangguru untuk menanyakan hari yang baik untuk memulai pengerjaan perahu. Menurut mereka, semua hari baik, tetapi ada hari tertentu yang lebih tepat untuk melaksanakan sesuatu.

Baca Juga:

Mamuju Tengah: Miniatur Indonesia di Pulau Sulawesi yang Tidak Punya Lampu Merah

Situs Trowulan: Bukti Ketidakmampuan Kita dalam Menjaga Warisan Nenek Moyang

Ketika sudah mendapat hari yang baik, maka pande lopi akan memulai pekerjaanya, bersamaan dengan prosesi ma’baca tadi. Prosesi mattobo yakni memasang papan sambungan dari lambung perahu, memasang tiang layar dan mapposi’ membuat pusar/pusat perahu, merupakan prosesi inti.

Setiap prosesi selalu diawali dengan Bismillah, Shalawat dan bacaan khusus atau baca-baca, sebuah kekayaan pengetahuan lokal yang tak ternilai. Pemahaman keagamaan yang menyatu dalam sendi kehidupan.

Seperti halnya mahluk hidup, bagian perahu Sandeq juga bernama paccong (kepala perahu), berbentuk limas segi tiga. Bahan paccong bukan kayu sembarang, tetapi kayu yang berasal dari pohon yang berbuah, seperti pohon Nangka, Mangga dan Pohon Durian. Ussulnya semoga perahunya selalu membuahkan hasil tangkapan yang melimpah.

Selanjutnya, layar segi tiga perahu Sandeq yang melakat pada pallayarang (tiang layar). Layar segi tiga merupakan simbol keharmonisan hubungan antara manusia-alam dan Tuhan, sedangkan pallayarang merupakan simbol pokok keyakinan suku Mandar, yakni Alif. Hal ini merumuskan bagaimana hubungan antara manusia-alam-Tuhan harus bersandar pada tegaknya keyakinan.

Posi lopi (pusar/pusat perahu) adalah bagian perahu berikutnya. Posisinya berada di lambung perahu tepat di bawah tiang layar. Kayu Benalu sebesar jari kelingking yang didalamnya diisi jarum, minyak, lumut sumur dan kerak nasi. Ussul-nya adalah pengharapan keselamatan dan rezeki. Seperti halnya pusat diri manusia yang harus suci dan bersih, begitupula perlakukan suku Mandar terhadap pusar Sandeq-nya. Prosesi pemasanganya dengan ma’baca dan biasa pula dilakukan tengah malam dengan lantunan Barzanji yang mengiringi.

Bagian paling belakang, guling atau kemudi. Posisinya bersandar pada sanggilang tommoane dan sanggilang towaine atau sanggar kemudi laki dan perempuan.

Hal ini sesuai dengan konsep gender lokal Mandar yang disebut siwaliparri, penghargaan dan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam membangun dan mengarahkan perahu kehidupan.

Bukan soal selera, warna sandeq selalu putih. Bagi suku Mandar, sandeq adalah alat pencari rezeki, maka haruslah bersih nan-suci. Mereka menyakini, manfkahi anak-istri harus dengan sarana dan cara ‘putih’. Sebuah prasayarat sarana  pencari rezeki yang kian langka, tetapi bukti nyata sublimasi nilai agama yang larut menyatu, meskipun dalam perahu.

Inilah yang membuat suku Mandar begitu berani mengarungi ketidakpastian lautan kehidupan. Keberanian yang bersandar pada nilai ke-Islam-an dan keyakinan pokok Alif , tegak bersih nan suci.

Tentang ini, kita ingat pada sosok Baharuddin Lopa. Pendekar Hukum dari Mandar yang dicatat dengan tinta emas dalam sejarah penegakan hukum Indonesia. Dari sosoknya, ‘tegak dan bersih dalam hidup’ adalah rekaman indah dan teladan bagi generasi Suku Mandar dan juga anak bangsa tentunya. Semoga.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: Kearifan Lokalnenek moyangsandeqsuku mandarsulawesi barat
Ulya Sunani

Ulya Sunani

ArtikelTerkait

pamali

Tentang Pamali dan Nilai Filosofisnya

27 Juni 2019
Alasan Kenapa Orang Pacaran Memacu Motornya Begitu Pelan terminal mojok.co

Bahasa Lisan Indonesia Timur Kalau Ditulis Kaya Gini

25 Juni 2019
makan sinonggi

Sinonggi: Makanan Khas Orang Timur yang Kayak Lem

29 Juni 2019
makhluk halus

Pledoi untuk Makhluk Halus yang Selalu Terpojokkan

16 Agustus 2019
situs trowulan candi berahu mojok

Situs Trowulan: Bukti Ketidakmampuan Kita dalam Menjaga Warisan Nenek Moyang

5 Agustus 2021
Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria terminal mojok.co

Bagi Kami di Sulawesi Barat, Menjadi PNS dan Polisi adalah Cita-Cita Kami. Kalau Gagal? Balik Lagi Jadi Petani dan Nelayan

3 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

11 Juli 2026
Tahlilan di Sumatera beda dengan Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan Mojok.co

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

13 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Ironi Puncak Pulek Cilacap: Ramai Dikunjungi karena Viral, padahal Area Privat

Ironi Puncak Pulek Cilacap: ramai dikunjungi karena viral, padahal area privat

15 Juli 2026
Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia Mojok.co

Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia

12 Juli 2026
Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak Mojok.co

Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.