Bagi mahasiswa di Samarinda, tidak bisa mengendarai motor rasanya seperti kehilangan satu kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Alasan utamanya mungkin sepele tapi menurut saya cukup fatal, yaitu ketiadaan transportasi publik yang inklusif dan ramah kantong.
Sebenarnya ada sih ojek online (ojol) yang selalu siap sedia di ujung jari, tapi bagi dompet mahasiswa, ojol adalah penyedot keuangan yang tak disadari. Jika setiap hari harus mengeluarkan biaya pulang-pergi yang setara dengan dua porsi makan siang, ojol bukan lagi solusi, melainkan beban finansial yang serius.
“Memangnya nggak ada pilihan lain kah?” Ada, Angkot atau yang akrab disebut taksi hijau, taksi oren, atau taksi biru oleh orang Samarinda. Murah sih memang. Tapi mereka bekerja dengan sistem jalur yang kaku, rutenya sangat terbatas dan hanya menyisir jalan-jalan utama.
Bagi mahasiswa yang tinggal di dalam gang atau perumahan yang lokasinya jauh ke dalam, angkot hampir tidak bisa diandalkan. Mereka tidak akan masuk ke gang-gang kecil tempat kos mahasiswa berada. Kalaupun kita merayu supirnya untuk masuk ke dalam, harganya akan melonjak drastis, hingga jatuhnya sama saja dengan tarif ojol, bahkan bisa lebih mahal.
BACA JUGA: 4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua
Samarinda memang beda
Belum lagi kalau kita bicara soal topografi Samarinda. Kota ini bukan dataran rata seperti kota-kota di pesisir Jawa. Samarinda adalah kota dengan ribuan tanjakan, agak lebay sih tapi beneran banyak tanjakannya. Bayangin aja kalau kita harus berangkat kuliah pagi hari, mendaki tanjakan di bawah terik matahari atau saat jalanan mulai becek setelah hujan deras. Sampai di kampus, bakal bermandikan keringat dan energi sudah habis duluan sebelum kelas dimulai.
Belum selesai sampai di situ, infrastruktur pejalan kaki Samarinda pun masih jauh dari kata layak. Trotoar yang ada sering kali terputus, beralih fungsi menjadi tempat parkir motor, atau justru menjadi lapak jualan yang membuat pejalan kaki harus bertaruh nyawa di bahu jalan. Tidak ada kanopi yang melindungi pejalan kaki dari cuaca ekstrim entah itu panas yang membakar atau hujan deras yang tiba-tiba datang membawa risiko banjir.
Berjalan kaki di Samarinda terasa seperti ikut lomba lari yang penuh rintangan mengerikan, tapi tanpa medali di garis finis.
Beban
Lebih jauh lagi, ada beban sosial yang tidak terlihat. Mahasiswa yang tidak bisa mengendarai motor seringkali dicap “beban” atau dianggap merepotkan teman karena sering nebeng. Padahal, ketergantungan pada motor ini juga akibat dari gagalnya Samarinda menyediakan alternatif bagi warganya.
Akibatnya, banyak mahasiswa yang akhirnya membatasi diri. Mau ikut organisasi malam hari? Mikir ongkos pulang. Mau kerja kelompok di perpusda? Mikir akses ke sana. Tentu saja ini jelas menghambat pengembangan diri mahasiswa secara akademis maupun sosial.
Jujur, saya ada rasa iri ketika melihat teman-teman mahasiswa di pulau Jawa. Di sana, mereka punya TransJakarta, KRL, atau bus yang berhenti di setiap halte dengan harga yang sangat terjangkau. Mereka punya pilihan untuk tidak bergantung pada kendaraan pribadi. Sementara di sini, kita terjebak dalam budaya car-centric yang memaksa semua orang untuk memiliki kendaraan pribadi.
Saya cuma ingin Samarinda mulai memperhatikan warga atau mahasiswa yang mobilitasnya nggak bergantung pada motor. Kita butuh transportasi publik yang terintegrasi dan trotoar yang lebih baik. Karena kenyamanan dalam berpindah tempat seharusnya tidak ditentukan oleh bisa atau tidaknya kita memutar gas motor, tapi oleh seberapa baik kota ini menyediakan fasilitas bagi semua kalangan.
Penulis: Wisda Aprilia Syaka
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.










