Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Safety Can Be Fun dan Masa Bodoh dengan Warung yang Buka Blak-Blakan Saat Puasa

H.R. Nawawi oleh H.R. Nawawi
22 Mei 2019
A A
safety can be fun masa bodoh

safety can be fun masa bodoh

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap orang yang hidup di kota-kota besar sangat akrab sekali dengan cuitan itu. Safety Can Be Fun, serupa mantra melakukan hal sebebas-bebasnya untuk kebutuhan biologis secara aman. Itulah jargon jualan pengaman bagi kita untuk gitu-gituan dengan doi. Namun apakah tidak ada cerita di balik itu? Mari kita coba belajar mengurai.

Kemarin teman saya gabut banget, semua terasa hambar dan seperti menunggu kematian menjemput. Semua anak muda pasti merasakan hal begituan ketika realita jungkir balik dari yang pernah dibayangkan, atau paling tidak sedang mengalami kesunyian hidup dan di koyak-koyak sepi. Nah, karena dia gabut, ia hanya ingin berkunjung ke Sarkem (red: Pasar Kembang).

Di malam bulan puasa ke Pasar Kembang? Ya biasa aja sih—tapi saat ia memintaku menemaninya, saya membayangkan semua orang lagi curi-curi waktu untuk mendekat dengan Tuhan dan ia malah menjauh. Aku pikir ia terlampau cari perhatian dengan-Nya. Beberapa menit kemudian sampailah kami di sana setelah sempat muter-muter karena mau masuk pintu yang mana—bingung.

Setelah ketemu, kita lewat pintu barat, kami masuk ke gang yang akrab di telinga para pelancong yang berdatangan ke Kota Istimewaku. Kami berhenti di tempat pembayaran, kawanku sedikit usil bertanya.
“Saya hanya lewat mas.”
“Iya mas, harus bayar.”
“Lewat doang lo mas.”
“Iya, 5000 doang.”

Penjaga memungkasi obrolan kami dengan sibuk main Whatsapp saling kirim voicenote gitu.

Akupun ke belakang berapa centi dari loket penjaga—mengambil berapa helai tembakau yang kusiapkan kalau aku sampai gabut nanti di gang itu. Setelah kita sepakat masuk, kita berjalan di bawah lampu-lampu yang dominan warna merah. Selama berjalan aku hanya menikmati temaram lampu dan saut-sautan para perempuan yang sedang berada di dunia fantasi—realitas yang begitu lain dari kehidupan biasanya yang kami lewati sehari-hari.

Tak lupa ada beberapa pengunjung yang masuk ruangan secara tegas—juga ada yang ragu-ragu. Semua berjalan dengan kehendak diri masing-masing. Kami pun lewat cepat sekali tanpa berhenti—hanya sesekali berbicara namun jalan kembali hingga sampai di ujung gang. Tiket seharga 5.000 tidak terasa, semacam membayar tukang parkir yang hanya duduk santai di ujung parkiran dan menyuruh kita bayar 2.000.

Kemudian ingatan itu mengendap—kami juga tidak kecewa dengan peristiwa itu—karena misi kawan saya hanya berkunjung dan pulang, begitupun saya. Tapi bila di runut bagaimana orang-orang mengingat peristiwa itu jikalau gang Sarkem di tempat umum seperti lapak-lapak penjual Malioboro atau angkringan di sepanjang jalan tugu? Ingatan masa akan menghakimi kami sebagai orang yang tidak baik.

Baca Juga:

Warak Ngendog, Mainan “Aneh” di Pasar Malam Semarang yang Ternyata Punya Filosofi Mendalam

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

Begitulah cara masa mengingat dan menghakimi. Makanya slogan Safety Can Be Fun menjadi tawaran terbaik bagi kami yang gabut. Apalagi dengan hari ini yang semakin hari obrolan kita semakin nyaman untuk mengatakan siapapun boleh puasa dan—di waktu yang sama—juga dipersilahkan tidak berpuasa. Memang hakikat manusia bebas sebebasnya, tapi perlu juga bagimana bebas itu diartikan bebas dari atau bebas untuk yang tentu nantinya menyentuh jalan berbeda secara perspektif.

Pun dengan demikian, saya merasa berat hati saat makan siang hari di tempat terbuka. Saya sesekali tidak puasa, tapi entah mengapa untuk memamerkan diri untuk terlihat tidak puasa membuat tidak nyaman. Bukan sebagai kita yang bebas dan sedang melakukan kebebasan kita, melainkan bagaimana kita punya tepa slira (tenggang rasa) kepada orang lain.

Jadi benar mungkin ada benarnya slogan di atas, lebih baik kita main aman agar kita nyaman. Bagi saya, tidak ada enak-enaknya makan di ruang terbuka saat puasa—lebih baik sembunyi-sembunyi di dalam ruangan, halaman belakang, kamar mandi—yang intinya tidak pamer-pamer amat. Biarlah yang memilih warung makan blak-blakan itu perempuan-perempuan yang dapat tiket untuk tidak puasa.

Karena saya masih yakin betul, bagaimana orang mengingat saya gara-gara hal kecil dalam hidup saya—yang sebenarnya tidak parah betul jika diukur dari kacamata warga negara—yaitu main ke Dolly. Memang saya ke Dolly sudah lebih lama terjadi—ngopi-ngopi dulu gitu di salah satu warung pinggir jalan, dan sekarang sudah tutup—namun ingatan orang-orang terdekat saya tentang hal itu masih menempel, begitupun dengan puasa.  Sudahlah, jangan sombong, puasa atau tidak puasa dirimu diukur dari seberapa kamu tenggang rasa dengan orang lain.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Bodo AmatMasa BodohRamadansafety can be fun
H.R. Nawawi

H.R. Nawawi

Jika di dunia hanya ada dua pilihan antara riang dan menangis. Saya memilih menangis. Kehampaan.

ArtikelTerkait

Harga Gula Naik, Penjual Kue Pancong di Tegal Ingin Beralih Jadi Tukang Kredit di Bulan Puasa

Harga Gula Naik, Penjual Kue Pancong di Tegal Merana. Ingin Beralih Jadi Tukang Kredit Panci di Bulan Puasa

23 Maret 2024
Al-Quds

Al-Quds day: Upaya Merawat Ingatan

28 Mei 2019
Tahlilan di Rumah Tetangga Nasrani Membuat Saya Paham Arti Toleransi intoleransi umat nasrani mojok.co

Di Bulan Ramadan Orang Mendadak Percaya Agama

25 Mei 2019
3 Rekomendasi Tempat Takjil di Bukittinggi, Dijamin Bikin Ngiler!

3 Rekomendasi Tempat Takjil di Bukittinggi, Dijamin Bikin Ngiler!

9 April 2022
5 Hal Nggak Enak Tinggal di Luar Zona WIB Saat Ramadhan

5 Hal Nggak Enak Tinggal di Luar Zona WIB Saat Ramadan

3 April 2022
Kesepian saat ramadan di kampung halaman

Kesepian Saat Ramadan di Kampung Halaman, Kamu Nggak Sendiri!

7 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026
Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

19 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Juga Pasar Minggu yang Nggak Kalah Seru

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.