Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

RUU PDP dan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Bawah Umur yang Perlu Dibatasi

Salmaa Aura Fitri oleh Salmaa Aura Fitri
22 Januari 2021
A A
RUU PDP dan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Bawah Umur yang Perlu Dibatasi terminal mojok.co

RUU PDP dan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Bawah Umur yang Perlu Dibatasi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, ramai pembahasan soal aturan penggunaan media sosial untuk anak di bawah umur yang tertuang dalam RUU PDP. Beberapa berpendapat anak di bawah umur memang belum siap menghadapi atmosfer media sosial yang begitu kompleks. Tapi, apakah memang begitu seharusnya?

Menurut data BPS pada 2018, jumlah anak muda yang menggunakan media sosial adalah 54% dari 143 juta jiwa. Bisa kalian bayangkan seberapa besar pengaruh media sosial terhadap masa pertumbuhan anak-anak.

Mungkin ada beberapa dari orang tua yang menjadwalkan penggunaan media sosial termasuk media elektronik per hari atau per minggunya, tetapi saat pandemi ini, pembelajaran jarak jauh mengharuskan anak-anak menggunakan media elektronik tersebut untuk pembelajarannya. Tapi, pasti anak memiliki kesempatan untuk membuka media sosial di tengah jam pelajarannya.

Contohnya adik sepupu saya yang sudah duduk dibangku kelas 6 SD. Orang tuanya membiarkan adik sepupu saya untuk membuka laptopnya karena alasan sedang dilakukannya pembelajaran lewat aplikasi Zoom, tanpa adanya pengawasan dari orang tuanya. Tapi, apa yang saya lihat saat saya menemaninya melakukan sekolah online? Dia memang sih membuka aplikasi Zoom yang memperlihatkan guru dan teman-temannya. Sayangnya, dia juga membuka aplikasi YouTube untuk menonton. Saya tegur dia sebab menonton saat sekolah online sedang berlangsung, bahkan dia menonton tayangan yang bukan untuk umurnya.

Seharusnya orang tuanya maupun orang tua di luar sana lebih mengawasi anak-anaknya dalam penggunaan media sosial. Sebab, sudah jelas di hampir seluruh aplikasi itu sudah dibuatkan peringatan untuk anak di bawah umur agar tidak menggunakan aplikasi tersebut. Tapi, kecurangan itu mudah dilakukan, anak akan selalu mencari cara untuk mencuri waktu membuka media sosial lain dan berselancar di internet.

Keresahan saya soal penggunaan media sosial pada anak di bawah umur ini meningkat karena semakin banyak yang cepat menggiring opini keliru dan jadi topik hangat yang dibicarakan netizen. Hanya karena opini di media sosial tersebut banyak dibicarakan banyak orang, lantas opini tersebut dianggap benar. Padahal kebanyakan dari pengguna media sosial itu cuma ikut-ikutan tanpa tahu konteks yang sedang dibicarakan. Ini tentu bahaya bagi anak-anak jika mereka terjebak dan tumbuh besar dalam asumsi yang salah.

Untungnya, kelegaan saya muncul setelah adanya RUU PDP (Perlindungan Data Pribadi) : Medsos Cuma untuk 17 Tahun Keatas yang masih digodok oleh pemerintah dan DPR RI. Walaupun sebenarnya masih banyak anak di bawah umur yang kontra dengan RUU PDP, tapi menurut saya RUU PDP ini seharusnya segera disahkan.

Di RUU PDP ini sebenarnya sudah tertulis jelas bahwa anak di bawah 17 tahun boleh menggunakan media sosial asal mendapatkan persetujuan oleh orang tua. Tapi, masih tetap saja banyak yang kontra dengan alasan bahwa seharusnya orang tualah yang perlu dibatasi dalam penggunaan media sosial.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Lho kenapa jadi orang tua yang harus dibatasi? Beberapa orang yang menuliskan opininya di media sosial bilang bahwa sebenarnya orang tua sering banget percaya dengan berita hoaks yang tersebar di grup WhatsApp.

Memang, ada benarnya juga sih. Banyak orang tua yang selalu termakan berita hoaks yang dan berujung beradu mulut sama anaknya karena ingin memenangkan kebenaran informasi yang ia dapat. Sangat meresahkan bukan?

Hmmm… saya juga jadi bingung. Orang tua yang seharusnya mengawasi anak sebenarnya meresahkan juga. Jadi siapa, dong, yang cocok menggunakan media sosial?

Menurut pendapat saya, media sosial itu sebenarnya cocok digunakan oleh siapa pun, tapi untuk anak di bawah umur tetap harus diawasi dalam penggunaan media sosial karena banyak konten-konten yang seharusnya tidak dikonsumsi dan bertebaran di platform media sosial.

Sedangkan untuk orang tua, seharusnya lebih memperhatikan dan menyaring kembali informasi-informasi yang didapat, apakah informasi tersebut benar atau tidak dengan cara bisa mencari kebenarannya dengan sering menonton berita di televisi ataupun membaca berita lewat media pemberitaan di ponsel.

Untuk remaja dan orang-orang dewasa juga lebih bijak lagi dalam penggunaan media sosial dan menyebarkan konten karena banyak anak di bawah umur yang masih memakai media sosial. Banyak juga orang-orang yang selalu memberitakan berita tidak jelas demi kepentingan pribadi. Jangan sampai Anda menyebar berita hoaks dan berujung di jeruji besi ya. Sumpah, perkara ini memang kelihatannya gampang, tapi aslinya susah banget diaplikasikan. Minimal jangan turut membagikan informasi yang kebenarannya belum jelas. Kalau informasinya berantai dan cuma nyebar di grup WhatsApp, tolong banget, Pak, Bu, disaring lagi. 

Anda bisa lihat di UU ITE 28 (1), sebuah jeratan pidana yang jelas untuk penyebar hoaks. Nggak ikut membuat berita bohong, tapi ikut menyebarkan saja bahaya. Orang tua yang nalarnya dianggap sudah dewasa tentu perlu lebih dilatih lagi kepekaannya. Sebab nantinya, kitalah yang akan memberikan pada anak-anak di bawah umur. Saya sih berharap RUU PDP ini bisa ditindaklanjuti sebagai sebuah jembatan untuk solusi penggunaan media sosial yang semakin hari semakin meresahkan saja.

Photo by Jessica Lewis via Pexels.com

BACA JUGA Facebook dan 3 Stigma yang Dilekatkan kepada Anak Muda yang Masih Menggunakannya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: Media Sosialregulasi
Salmaa Aura Fitri

Salmaa Aura Fitri

Mahasiswi Jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi yang suka menulis dan melukis.

ArtikelTerkait

Grup Facebook Warga Demak Nggak Kalah Gayeng dari Info Cegatan Jogja terminal mojok.co

Menuai Banyak Likes, Tapi Mampus Dikoyak Sepi

5 September 2019
Auto Base

Auto Base dan Kecenderungan Bersembunyi di Balik Akun Anonim

24 Oktober 2019
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial?

12 Mei 2020
Katanya Konten TikTok Itu Banyak yang Cringe: Masak, sih? terminal mojok.co

Katanya Konten TikTok Itu Banyak yang Cringe: Masak, sih?

11 Juli 2021
merdesa

Merdesa, Indonesia

6 Agustus 2019
julid

Julid Online: Maraknya Auto Base Twitter yang Mewadahi Julid Together

7 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Sombong Saat Dapat PhD, Gelarmu Ada Jasa Banyak Orang di Baliknya Mojok.co

Jangan Sombong Saat Meraih PhD, di Balik Gelarmu Ada Jasa Banyak Orang

12 Februari 2026
Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong di Banyumas (Wikimedia Commons)

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

15 Februari 2026
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung

11 Februari 2026
5 Kasta Sirup Indomaret Paling Segar yang Cocok Disuguhkan Saat Lebaran Mojok.co rekomendasi sirup

Urutan Sirup dengan Gula Tertinggi hingga Terendah, Pahami agar Jangan Sampai Puasamu Banjir Gula!

15 Februari 2026
Nihilnya Posisi Ideal Mesin Tap JakLingko Justru Melestarikan Budaya Tolong Menolong Warga Jakarta

3 Tipe Penumpang Menyebalkan Jaklingko yang Harusnya Lebih Peka dan Introspeksi Diri

11 Februari 2026
Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Orang Bangkalan Madura yang Ternyata Beragam Mojok.co

Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Bangkalan Madura yang Rasanya Nggak Kaleng-kaleng

15 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tren “Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta
  • Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan
  • Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman
  • Jangan Buka Puasa di Blok M kalau Tidak Mau Lanjut Puasa tanpa Sempat Makan
  • Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir
  • Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.