Fenomena Akun Gosip di Media Sosial

Akun gosip di media sosial tersebut juga punya stock istilah yang cukup banyak. Saking banyaknya, bisalah untuk dibuatkan sebuah kamus.

Artikel

Avatar

Waktu yang terus berjalan, zaman yang terus berubah dan teknologi yang terus berkembang, pada akhirnya membuat sebagian besar orang-orang di muka bumi ini mulai meninggalkan cara lama dan beralih ke hal baru—yang dirasa lebih mudah dan cepat. Dulu, untuk berbelanja, pesan tiket, cari ojek dan berbagai macam keperluan lainnya harus dengan keluar rumah, kini tidak lagi. Semua sudah ada aplikasi online-nya.

Begitu juga dalam hal kebutuhan akan berita update tentang publik figur. Jika dulu nya kabar dan gosip dari publik figur hanya bisa dinikmati melalui tayangan infotainment di televisi, kini kabar dan gosip publik figur justru bisa dinikmati melalui media sosial. Hal ini tentu saja berkat munculnya berbagai macam akun-akun gosip di media sosial.

Dalam mencari bahan pemberitaan, akun-akun gosip ini menggunakan metode: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maksud saya, yah tidak perlu menjadi reporter atau wartawan untuk menjadikan informasi yang didapatkan bisa menjadi bahan pemberitaan. Istilah kerennya citizen journalism. Atau kalau menurut istilah khas akun gosip: “dengan kekuatan hengpon jadul, cekrek, cekrek, aplot” dan voila…jadilah sebuah berita.

Dalam mengunggah foto atau video tentang publik figur, akun gosip di media sosial tersebut juga punya stock istilah yang cukup banyak. Saking banyaknya, bisa lah untuk dibuatkan sebuah kamus. Kamus besar khusus akun gosip. Misalnya penyebutan admin, ada yang menulis minceu, ada juga yang menulis mimin. Ada lagi istilah semacam sesertong, sesebapak, seseibu,sesekakak, seseadik, indang, dikamsud, dan istilah-istilah lainnya yang jika saya tuliskan akan sangat ketahuan bahwa saya adalah followers aktif akun gosip @lambe_turah.

Berita yang up to date ditambah dengan caption yang kadang unik kadang membingungkan (saking bingungnya kadang harus scroll kolom komentar sampai bawah biar dapat jawaban) menjadikan akun gosip sebagai salah satu akun yang punya banyak followers. Followers-nya bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, publik figur pun banyak yang ikut nge-follow. Karena pada dasarnya kita-kita (kita??? lo aja kali, gue nggak) ini memang selalu haus akan keributan berita.

Baca Juga:  Eksploitasi Karya Orang Lain Demi Keuntungan Pribadi

Publik figur yang diberitakan pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang yang terkenal sampai pada orang yang kurang terkenal—dan akhirnya menjadi terkenal berkat pemberitaan di akun gosip. Respon publik figur yang diberitakan pun bermacam-macam, ada yang mengambil sikap diam, tapi tidak sedikit juga yang langsung membuat klarifikasi.

Respon para followers untuk pemberitaan itu sendiri juga tidak selalu sama. Batas antara hujatan dan pujian yang memenuhi kolom komentar sangat tipis sekali. Lihat saja bagaimana ucapan ikut berbahagia disertai doa—yang baik—bersaing ketat dengan kalimat hujatan dan sindiran pada unggahan kabar pernikahan seseincess  Syahrini dan Reino Barack. Saya dan kamu (kalau tidak boleh disebut kita) juga pasti punya komentar sendiri tentang kabar pernikahan yang cetar, membahana, dan ulala ini. Meski pada kenyataannya, dalam berbagai kesempatan Syahrini selalu mengingatkan “Hey…andahh jangan julid.”

Sekarang mari kita tinggalkan Syahrini dan melangkah lebih jauh, yaitu tentang dampak bagi orang yang menjadi bahan pemberitaaan. Sejauh pengamatan saya, dampak dari pemberitaan di akun gosip itu juga tidak boleh diremehkan. Orang-orang yang menjadi bahan pemberitaan di akun gosip akan di hadapkan pada dua hal. Kalau bukan jadi terkenal, ya jadi tidak terkenal.

Untuk hal yang pertama, saya rasa sudah bukan rahasia umum lagi bahwa ada orang-orang yang memang sengaja ingin diberitakan. Entah oleh akun gosip atau akun apa pun. Yang dilakukan juga tentu saja adalah hal yang dirasa bisa menarik perhatian. Mulai dari hal yang positif sampai pada hal yang nggak banget.

Setelah diberitakan di akun gosip, biasanya orang-orang ini akan sering diundang di berbagai stasiun televisi. Yang melakukan hal positif—dalam hal ini bakat yang unik misalnya—akan diundang untuk menunjukkan bakatnya secara langsung, sedangkan untuk yang melakukan gimmick akan diundang untuk memberikan klarifikasi tentang benar tidaknya yang dilakukan adalah untuk menaikkan popularitas semata. Sesuatu yang sebenarnya adalah hal yang terkesan percuma, makanya sampai ada imbauan “stop making stupid people famous.”  Dan saya sangat setuju akan imbauan tersebut.

Baca Juga:  Penghapusan Jumlah Like di Instagram dan Kebiasaan Pamer Kehidupan

Untuk hal yang kedua, yaitu menjadi tidak terkenal atau meredup karirnya setelah menjadi bahan pemberitaan di akun gosip biasanya terjadi jika orang tersebut diketahui (pernah) melakukan hal yang kurang beretika.

Salah satu contohnya bisa kita lihat pada kasus sesebapak motivator. Dulu dia punya program khusus yang tayang di salah satu stasiun televisi. Banyak orang yang menjadikan kalimat yang dia ucapkan atau yang dia tuliskan sebagai bahan untuk memotivasi diri sendiri, tapi setelah ketahuan melakukan hal yang mengecewakan di masa lalu, banyak orang mulai antipati. Nama dan wajahnya tidak pernah lagi muncul di stasiun televisi. Sesebapak motivator bak hilang ditelan bumi.

Berkaca dari kejadian tersebut, wajarlah jika banyak publik figur merasa risih dengan kehadiran akun gosip di media sosial. Bukan hanya takut masa lalunya—yang katakanlah buruk—terungkap di khalayak ramai tapi juga merasa tidak lagi punya privasi. Rasanya seperti ada kamera yang siap mengabadikan gerak-gerik mereka. Ihh…ngeri euy.

Terlepas dari semua hal di atas, saya rasa kehadiran akun gosip di media sosial ini akan menjadi satu fenomena yang bertahan cukup lama. Tidak seperti kehadiran dia yang cuma sesaat. Datang memberi harapan, lalu pergi meninggalkan luka. Huhuhu…

---
844 kali dilihat

1

Komentar

Comments are closed.