Langsung Nge-Mute Notifikasi Pas Join Grup WhatsApp Baru Bukan Suatu Dosa

Artikel

Seto Wicaksono

Sudah nggak bisa dimungkiri lagi kalau WhatsApp adalah aplikasi chatting paling populer saat ini. Sejak awal kemunculannya beberapa tahun silam, penggunanya semakin banyak, ditambah dengan fitur yang juga mumpuni untuk memberi kepuasan kepada para penggunanya. Beberapa aplikasi chatting baru memang bermunculan, tapi rasa-rasanya WhatsApp masih tetap menjadi pilihan utama bagi banyak orang.

Di samping beberapa fiturnya yang user-friendly bagi banyak kalangan, dalam perkembangannya, menurut saya, WhatsApp memiliki efek laten yang kini sudah disadari oleh banyak orang. Sudah bisa menebak? Yak, tul! Sedikit-sedikit dibuatkan grup WhatsApp. Nggak peduli berapa total membernya, pokoknya, dibuatkan aja dulu grupnya.

Ketemu teman yang udah lama nggak ketemu dikit, dibuat grup WhatsApp. Keluarga besar dibuatkan grup. Di kantor per-divisi dibuat grup WhatsApp. Temen nongkrong dibuat grup. Sahabatan hanya empat orang pun dibuat grup WhatsApp. Semuanya aja dibuat grup di WhatsApp. Saya berani jamin, saat ini, tiap orang yang menggunakan WhatsApp, pasti tergabung dalam banyak grup.

Saya sendiri, saat ini tergabung dalam 21 grup WhatsApp aktif! Mungkin banyak juga yang lebih banyak dari saya.

Nggak bisa dimungkiri, grup WhatsApp memang memudahkan satu sama lain dalam berkomunikasi atau berbagi informasi. Tapi, please, nggak perlu sampai berbagi kabar yang belum pasti. Bikin risih dan ogah menanggapi. Dan kayaknya, nih, petinggi WhatsApp harus betul-betul segera mempertimbangkan bikin fitur: Gimana caranya supaya para pengguna bisa keluar dari grup yang tidak dikehendaki atau nggak bikin nyaman sebagai anggota grup, tanpa ketahuan atau ada notifikasinya, deh.

Soalnya, tiap mau keluar grup selalu ada notifikasinya. Ujung-ujungnya malah ditanya kenapa keluar, kenapa ini dan itu. Akhirnya malah diundang lagi ke dalam grup. Hih, malesin.

Baca Juga:  Sebulan Tak Melihat Story Medsos: Ini yang Kurasakan!

Akhirnya, saya yang termasuk dalam anggota di 21 grup WhatsApp, hanya bisa mengambil inisiatif untuk nge-mute semua grup. Nggak tanggung-tanggung, saya mute langsung satu tahun. Mau baru diundang dalam suatu grup, kek, mau grup yang sudah lama, kek. Pokoknya langsung saya mute. Selain itu, kolom ceklis “show notification” juga tidak saya centang. Artinya, saya nggak akan pernah tahu kalau pun ada chat baru yang masuk dalam grup. Dan itu memang tujuannya utamanya.

Saya pikir, itu bukanlah suatu dosa. Biasa aja. Sah-sah aja, dong? Lha, WhatsApp-WhatsApp saya, kok. Jadi, saya akan tahu ada chat yang masuk di grup ketika saya membuka WhatsApp. Atau saya akan mengetahui ada chat di suatu grup, jika saya di-mention seseorang (dengan simbol @ dan dilanjut dengan nama yang saya cantumkan di WhatsApp).

Serius, deh. Bukannya saya nggak mau berkomunikasi atau bersilaturahmi dengan yang lain. Akan tetapi, ada kalanya saya nggak kepengin ikut nimbrung dalam suatu percakapan yang saya sendiri lagi nggak pengin membicarakannya. Nggak, saya bukan orang yang introvert, kok. Hanya saja, ada kalanya saya males bales WhatsApp. Males dapet notifikasi yang terlalu ramai, meski hanya berupa getaran.

Menurut saya, sih, cara saya bisa dibilang mendingan dibanding beberapa teman saya yang notifikasinya tetap dinyalakan, grup nggak di-mute, tapi-tiap ada chat yang masuk di grup, nggak pernah dicek atau dibuka. Bahkan chat menumpuk sampai 1.300-an lebih! Saya semakin mangkel ketika saya mengetahui alasan teman saya, kenapa chat-nya bisa numpuk segitu banyak. Katanya, “Biar keren aja, Mas.” Hah?! Coba bayangin, apa yang membuat menumpuk chat sebegitu banyak jadi terlihat keren?

Baca Juga:  Memaknai Kata-Kata Dzawin Soal Laki-laki yang Mati Ketika Menikah

Tapi, ya sudah lah. WhatsApp-ku ya WhatsApp-ku, WhatsApp-mu ya WhatsApp-mu.

Mangkanya, saya betul-betul salut sama orang yang masih menyalakan notifikasi untuk setiap grup di WhatsApp-nya. Kuat betul menanggapi setiap notifikasi chat yang masuk. Beberapa di antaranya bisa jadi penting dan memang harus segera direspons, tapi sebagian lain, biasanya hanya haha-hihi agar grup WhatsApp tidak sepi. Padahal, kalau memang lagi nggak ada topik obrolan, nggak perlu dipaksakan juga.

Ada masanya grup ramai memperbincangkan sesuatu, ada kalanya juga grup menjadi sepi. Entah karena kesibukan masing-masing atau sebagian besar hanya butuh waktu untuk menyendiri. Mengasingkan diri sementara waktu dari sekadar obrolan basa-basi di grup yang katanya bisa mengisi kekosongan hati, tapi malah lebih banyak digunakan untuk mencaci. Membagikan informasi yang kebenarannya saja belum pasti.

Pada akhirnya, jika sudah dihadapkan dengan hal seperti itu, maka nge-mute notifikasi selama satu tahun jika join ke dalam suatu grup WhatsApp menjadi sesuatu yang rasanya tidak salah-salah amat, kok.

BACA JUGA 5 Fakta Chat Keluarga yang Ngeselin tapi Ngangenin atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
11


Komentar

Comments are closed.