Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Rivalitas Penikmat Musik Jawa: Mulai Koplo hingga Campursari

Dicky Setyawan oleh Dicky Setyawan
10 November 2020
A A
Rivalitas Penikmat Musik Jawa: Mulai Koplo hingga Campursari terminal mojok.co

Rivalitas Penikmat Musik Jawa: Mulai Koplo hingga Campursari terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Selera musik, kok, diperdebatkan? Ya, mau gimana lagi kita hidup di dunia yang penuh debat, debat, debat. Apalagi dengan adanya media sosial. Salah satu kaum yang pada akhirnya dibenci tersebut ialah kaum music snob. Singkatnya, kaum music snob ini selalu merasa musik mereka lebih tinggi kastanya dibanding penikmat musik lain, walau kadang soal referensi belum banyak juga. Tapi, judge mereka sering memancing keributan di dunia maya.

Kaum snob kebanyakan berkutat pada musik edgy. Kalau kata Hai Magazine, kaum edgy ini kaum yang merasa seleranya paling anti mainstream. Walau kata Fico di final SUCI 3 silam, “Bro anti mainstream itu udah mainstream bro,” heuheu. Tapi gitulah perdebatan soal selera, kalau men-jugde selera orang dikata snob, kritis dibilang elitis, menikmati musik pop mainstream dibilang nggak punya selera. Perdebatan semacam ini bahkan sampai hari ini masih sering saya temui di beragam media sosial. Parahnya, kadang perdebatan semacam ini turut membawa si pelaku seninya, bukan cuma si oknumnya. Katakanlah Bhaskara .Feast alias Hindia yang saat ini sering dicap, “Tuhannya anak edgy,” parah.

Namun, perdebatan antara sesama penikmat hingga menjurus ke pelakunya sendiri masih kalah seru dibanding persaingan selera musik Jawa. Seperti halnya persaingan musik mainstream, persaingan antar pendengar musik Jawa kadang juga dipengaruhi persaingan lintas generasi. Kalau kata Bryan Barcelona di Podcast Bergumam, musik jawa sendiri dibagi 4 zaman, yaitu keroncong, campursari, koplo, hingga pop Jawa.

Saya sendiri besar melewati tiga zaman tersebut: campursari, koplo, dan terakhir pop Jawa. Dan tentu masih merasakan sisa-sisa musik keroncong dari para tetua yang masih tersisa. Artinya, saya melewati tiga masa ditambah sisa-sisa nafas musik lawas. Soal rivalitas, penikmat musik Jawa tidak seperti perdebatan musik mainstream yang lebih berkutat pada dunia maya, persaingan mereka persaingan nyata. Rivalitas tersebut telinga dibalas telinga, melalui speaker yang diputar kencang-kencang.

Saya yang lahir dan besar di desa dengan kultur musik Jawa yang kental, tentu merasakan imbas persaingan ini. Belum lagi jika tetangga berbeda generasi, persaingan keempat sub-genre tersebut akan terasa keras. Persaingan tersebut bahkan sudah dimulai semenjak matahari masih malu-malu di timur, speaker kencang adalah fase selanjutnya bebunyian di desa setelah ayam berkokok.

Saya memiliki tetangga yang menguasai speaker di rumah mereka masing-masing dengan generasi yang berbeda. Tetangga sebelah kiri besar di masa-masa kejayaan musik koplo, tetangga depan rumah yang lebih tua menggemari campursari, dan tetangga sebelah kiri yang masih SMP melawan dengan musik pop Jawa ala Denny Caknan. Belum lagi dari kejauhan terdengar sayup-sayup musik keroncong dari kakek yang muda di masa musik tersebut. Tidak ada yang lebih pelan, semuanya kencang, saya sampai bingung harus memihak ke mana. Atau kadang ketika bapak saya turut ikut dalam persaingan, mau tidak mau saya terkungkung dalam selera bapak saya.

Sentimen antar generasi jelas ada, bagi si muda, musik-musik keroncong dan campursari bikin ngantuk, “Halah-halah, lagune marai ngantuk” kata si muda. Pun bagi si tua, musik-musik baru dianggap kurang nyeni, atau dianggap melanggar pakem lama Jawa. Persaingan semacam ini juga terjadi dalam lingkupan “seatap”. Seperti warung mi ayam di depan kos, yang kebetulan dikelola oleh dua generasi yang berbeda. Si mas mi ayam selalu tampak lesu ketika si bapak memutar lagu-lagu Jawa lawas. Kemudian, ketika si bapak bosan, sang anak membalas dengan musik woyo-woyonya, barulah si mas mi ayam tampak lebih bersemangat, dan si bapak tampak sedikit sinis.

Lebih seru lagi jika persaingan dilakukan oleh generasi yang sama, pasti ada satu orang yang berusaha mencekoki temannya dengan musik kesukaannya. Dari sinilah si penikmat dengan speaker anti nyeprek menang. Lebih lagi, saya jarang menyaksikan penikmat musik Jawa memutar lagunya melalui earphone. Mau di pos, di rumah, pokoknya kudu kenceng. Persaingan lebih seru ketika ada acara semacam lomba 17-an, di mana speaker milik karang taruna pasti diperebutkan oleh banyak orang. Lebih gila lagi, teman saya pernah punya ide untuk beli seperangkat sound system dan memutarnya kencang-kencang agar sekampung turut mengikuti selera koplonya, lebih spesifik OM New Pallapa dengan ketipung khas Cak Met-nya.

Baca Juga:

Cidro 2 Adalah Lagu Jawa Terbaik, yang Lain Minggir Dulu

Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok

Rivalitas antar penikmat musik Jawa memang keras, tapi yang patut diacungi jempol persaingan mereka fair. Kalau tidak mau kalah, ya harus beli seperangkat speaker untuk ikut persaingan. Telinga dibalas telinga, tanpa perlu berkoar panjang di media sosial.

BACA JUGA Dari ‘Buka Sitik Jos!’ hingga ‘Semongko’: Senggakan Adalah Unsur Penting Dangdut Koplo Jawa dan tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 November 2020 oleh

Tags: campursaikoplomusik jawa
Dicky Setyawan

Dicky Setyawan

Pemuda asal Boyolali. Suka menulis dan suka teh kampul.

ArtikelTerkait

Cidro 2 Adalah Lagu Jawa Terbaik, yang Lain Minggir Dulu

Cidro 2 Adalah Lagu Jawa Terbaik, yang Lain Minggir Dulu

23 Desember 2023
5 Alasan Charly ST 12 Sebaiknya Jadi Penyanyi Dangdut Koplo Jawa Saja terminal mojok.co

5 Alasan Charly ST 12 Sebaiknya Jadi Penyanyi Dangdut Koplo Jawa Saja

16 Desember 2020
Semua Lagu Akan Koplo Pada Waktunya dan Semua Orang Akan Joget Bareng Karenanya

Semua Lagu Akan Koplo pada Waktunya dan Semua Orang Akan Joget Bareng Karenanya

1 November 2019
daftar lagu yang sebaiknya jangan pernah dibuat dalam versi koplonya lagu koplo mojok.co

6 Lagu yang, Tolong Sekali, Jangan Pernah Dibuat Versi Koplonya

3 September 2020
Makna Ungkapan 'Semongko' dan Filosofi Gambaru di Jepang terminal mojok.co

Makna Ungkapan ‘Semongko’ dan Filosofi Gambaru di Jepang

31 Oktober 2020
Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Karya Abah Lala Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok

Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok

20 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

20 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026
4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang Mojok.co

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.