Rivalitas Nasi Kucing: Nasi Sambal vs Nasi Oseng, Mana yang Terbaik? – Terminal Mojok

Rivalitas Nasi Kucing: Nasi Sambal vs Nasi Oseng, Mana yang Terbaik?

Artikel

Dicky Setyawan

“Apalah arti makanan tanpa rivalitas,” mungkin kalimat tersebut yang cukup relevan bahwa akhir-akhir ini banyak pilihan selera yang ditempurkan. Ambil contoh perdebatan antar sesama penikmat bubur ayam yang diaduk vs tidak diaduk, atau Indomie original vs Indomie sayur. Bahkan yang paling absurd sekalipun kini muncul pula golongan penikmat rendang dengan kecap. Walau saya yakin, massa rendang ditambah kecap ini hanya seuprit, setidaknya mereka berani mengonfrontasi penikmat rendang mainstream.

Herannya, saya malah tidak menemukan rivalitas antar panganan angkringan, yaitu rivalitas sesama klan nasi kucing, antara nasi sambal vs nasi oseng. Atau sebenarnya ada, tapi jelas rivalitas keduanya belum sampai pada level yang lebih keras. Nah, ada apa? Kok, diem-diem bae?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada makanan lain di angkringan, kita harus sepakat bahwa tak ada yang lebih angkringan ketimbang nasi kucing. Mereka adalah pentolan, bahkan nasi kucing adalah angkringan itu sendiri. Walau perlahan, olahan angkringan bungkus lain seperti nasi goreng hingga bakmi mulai menunjukan pesonanya, tapi apalah angkringan tanpa keduanya (nasi sambal & oseng). Terserah pula mau pakem sambal Jogja atau Solo (teri atau bandeng). Sebagai pemuda yang akrab dengan bau arang angkringan, saya ingin membahas keduanya karena keduanya sama atau mungkin lebih layak untuk dirivalkan dibanding makanan lain.

Tidak ada perbedaan yang mencolok dari keduanya. Soal harga dan porsi sama. Peletakkan di meja angkringan pun sama. Paling hanya perbedaan peletakkan antara yang di kanan atau kiri, atau atas dan bawah kalau pakai rak. Dan tidak ada kecenderungan bahwa salah satu di kanan terus atau atas terus, tergantung penjualnya mau menaruh di mana. Sedikit perbedaan paling hanya pada bentuk bungkusan, yang kadang salah satunya lebih lancip. Namun tidak pasti, tergantung pihak penjual dan angkringan.

Jadi tidak ada simbol tersembunyi yang mengesankan salah satu lebih diunggulkan, karena tergantung masing-masing angkringan. Namun, karena tidak ada pakem pasti itulah, pembeli sering salah ambil. Yah, kecelek.

Selain mengamati, saya sering mengalami pengalaman seperti ini, apalagi jika tidak menetap di satu angkringan. Saya bahkan curiga, jangan-jangan ini adalah percikan permusuhan yang sebenarnya diam-diam diciptakan pihak angkringan. Yah, ini serius! Selain bisa diberi tulisan di bungkus atau kalau mau lebih mudah dikasih tulisan di rak dan nampan saja. Dan ini seharusnya adalah cara paling aman sebagai tindakan preventif sebelum terjadi perpecahan yang lebih serius. Dan beberapa memang diterapkan, selebihnya ya itu tadi, tidak diberi tulisan sebagai pembeda.

Perkara salah ambil alias kecelek, bukan permasalahan yang sepele. Saya atau orang sering mengalami kejadian “Bajindul, kok ternyata nasi oseng,”atau sebaliknya. Bagi konsumen dine in, jelas punya solusi yang lebih mudah, terutama kebanyakan orang membeli lebih dari satu jenis nasi. Misal tinggal balikin saja satunya, walau beberapa merasa sungkan atau malas jika harus mondar-mandir menukar satu nasi yang belum terlanjur dibuka. Atau yang lebih bodoh, membuka keduanya bebarengan, lalu rasa lapar campur aduk dengan perasaan kecewa.

Bagi penikmat take away kalau sudah terlanjur, lebih ribet lagi, nggak bisa dibalikin. Walau ada solusi lagi, sebelum beli tanya-tanya dulu sama penjualnya, tapi namanya orang lupa atau malah salah dengar.

Walau sering terjadi, beberapa orang tidak berani bereaksi ke arah yang lebih frontal, misal mencaci maki makanan dan penikmatnya atau ke penjualnya langsung, “Nasi oseng nggak enak!!!!!!” orang cenderung “nrimo-nrimo” aja, termasuk saya sendiri. Herannya, kalau terlalu sungkan secara langsung pun sebenarnya bisa meluapkannya di medsos kayak warganet sekarang.

Mungkin angkringan terlalu sering diromantisasi bahwa orang lupa dibalik harga murahnya. Sering orang kebablasan malah ke arah pemborosan. Di balik orang-orang ramah bercengkrama ada perdebatan-perdebatan kecil mengarah ke arah serius. Dan di balik dua jenis nasi kucing yang saling berdampingan, ada banyak orang kecewa ketika salah ambil.

Sebelumnya, saya perlu menyatakan sikap, dengan tegas saya adalah #TimNasiKucingSambal. Walau sejatinya saya sering mengombinasikan keduanya, tapi jelas soal selera saya tak mungkin mengganti posisi nasi sambal. Perkara nasi oseng diganti nasi goreng hingga bakmi pun, tak masalah. Semoga tulisan ini juga membantu kalian berani menyatakan sikap yang tegas. Terserah mau tim mana. Kalau bisa ribut, kenapa harus damai? Heuheuheu. Lantas kalian #TimNasiKucingOseng atau #TimNasiKucingSambal ?

BACA JUGA Makan di Angkringan: Niatnya Hemat, Ujung-ujungnya Sekarat dan tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Baca Juga:  4 Alasan Kenapa Serie A Tidak Menarik untuk Ditonton
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
2


Komentar

Comments are closed.