Review Film 'Bucin' yang Nggak Tahu Bedanya Bucin dan Pekok – Terminal Mojok

Review Film ‘Bucin’ yang Nggak Tahu Bedanya Bucin dan Pekok

Artikel

Gusti Aditya

Saya sangat menyayangkan industri bioskop sunyi senyap selama pandemi ini. Ketika film Bucin (2020) dengan segala gembar-gembornya muncul ke permukaan, tebersit rasa bersyukur untuk tidak melihat film ini di bioskop. Saya bisa melihat film ini sambil duduk di kamar, malam hari atau kapan pun saya mau. Ongkos akses platform streaming ini juga bisa urunan dengan kawan. Sudah hemat waktu, tenaga, uang, dan tentunya emosi.

Saya blas nggak menyematkan hemat emosi itu kepada film ini. Film ini nggak menguras emosi dengan cara mengocok-ngocok perasaan atau memainkan plot dengan luar biasa. Blas nggak. Kalau boleh jujur, saya lebih menyukai konten “Reaksi Para Editor” atau “YouTube Got Talent” ketimbang film ini. 

Nah, saya nggak menyimpan sentimen kepada para pelakonnya, namun murni karena film ini mengandung hal yang bikin kita bergumam “apa sih…” di sana-sini.

Sebagai “hadiah” perpisahan YouTuber kondang, Skinnyindonesian24, film Bucin digadang-gadang akan sangat berkesan. Ya, berkesan, sih, tapi kesannya itu kesan buruk. 

Fans mereka telanjur menganggap film ini akan sukses besar di pasaran. Branding yang baik dan menggandeng YouTuber kondang, ekspektasi demi ekspektasi menyeruak ke permukaan.

Nggak ada yang salah dengan YouTuber merambah ke dunia film. Ewing HD dengan #MalamJumat The Movie adalah contoh lainnya. Namun, kembali lagi, subscriber di YouTube itu menyukai persona atau karya idolanya? Melalui film Bucin, setidaknya Chandra Liow sebagai sutradara mencoba mengemas film ini tanpa mengubah nama dan persona pemerannya.

Well, cara ini tergolong baik karena fans mereka, sejatinya menyukai persona. Namun, ketika disuguhi sebuah tayangan yang panjang, penuh cerita, plot dan penokohan—yang berbeda dengan konten YouTube mereka—apakah fans akan selalu suka? Saya sebagai pengikut kanal YouTube mereka, merasa akting Andovi terlalu berlebihan, Jovial terlalu kaku dan nggak mencerminkan tokoh utama yang “disayang” penontonnya, dan Chandra Liow ngapain sih ada di cerita ini? Nggak ada pun rasanya nggak masalah.

Sesungguhnya karakterisasi film ini sangat hancur. Kita dipaksa untuk meresapi bahwa mereka itu ya para YouTuber yang kita saksikan di platform berbagi video. Nggak diulik dulu siapa itu Andovi, siapa itu Jovial, dan tokoh lainnya. Hal ini membuat saya terhenti begitu saja ketika mencoba mencerna bahwa mereka bertiga ini bucin (budak cinta) ke pacarnya dan satu orang lagi nggak paham ngapain.

Salah satu yang dapat diapresiasi adalah kelas antibucin yang dihadirkan. Mirip-mirip Saw, tapi ya lumayan lah sebagai “tamba lara” kekosongan plot-plot awal dan ending nge-twist yang dipaksa plot twist. 

Tapi, tetap saja pertanyaan timbul, Chandra ngapain ikut kelas anti-bucin? Kenapa nggak ambil kelas antijomblo, kelas Indonesia Tanpa Pacaran yang jualan merchandise itu, atau ambil kelas matematika aja di Kumon?

Terminologi bucin yang dihadirkan mereka juga amat rumpang. Ya, maaf, sebagai generasi melek istilah, saya bisa membedakan mana bucin dan mana pekok. Justru yang sulit dibedakan itu antara orang yang tulus dan orang yang sedang diperbudak cinta. Dalam film Bucin, harapan saya untuk mendapatkan pencerahan dari problem tersebut menguap begitu saja. Film ini intinya cuma balas dendam.

Ganti saja judulnya, “Dendam Nyi Bucin” atau “Dendam”. Iya, paham, kalau judulnya begitu, nggak ada milenial yang tertarik, tapi setidaknya judulnya bertanggung jawab terhadap apa yang disampaikan dalam film.

Kita diajak untuk menelan mentah-mentah sisi “gelap” penghianatan, kejahatan, perselingkuhan, dan pelecehan sesama jenis yang dikalahkan begitu saja dengan klaim “Itulah cinta!”  dan “Itulah komedi!”

Ealah, Cuk! Saya justru tidak melihat bahwa si tokoh utama ini adalah tokoh yang baik. Diakhiri dengan tangis antara antagonis dan protagonis, lagi-lagi kita diajak berspekulasi. Namun, caranya tidak serapi seperti apa yang dikembangkan dalam film Sabar Ini Ujian (sebab muncul di saat yang kurang lebih sama dan sama-sama drama komedi).

Melalui cara paling liar, film Bucin mengajak saya pada sebuah akhir bahagia, di mana sang pangeran dan putri menikah. Kurang satu plot saja sebenarnya, si putri meninggalkan sepatu kacanya di altar kerajaan. Kalau nggak ya sekalian saja Jovial mengendarai kuda putih, dengan rambut berkibar-kibar.

Soal komedi, Chandra Liow rasanya masih terjebak dengan lawakan di kanal YouTubenya sendiri. Entah standar lucu menurutnya itu bagaimana, namun guyonan yang dihadirkan di film Bucin, terasa hadir dari 2010 dan dipaksakan masuk ke 2020. Zaman-zaman film Raditya Dika masih berjaya di bioskop-bioskop Indonesia dengan terminologi jomblo, jones, dan sejenisnya.

Saya justru merasa nyaman menonton film pendek bergenre drama komedi, Kuyup (2020) di kanal YouTube ketimbang menonton film Bucin di platform streaming yang premium pula. Sebuah pengalaman berharga untuk mereka dan sebuah kerugian untuk waktu saya dan akses premium yang terbuang sia-sia.

BACA JUGA Tips Beli Tanaman Hias di Grup Jual Beli Facebook biar Kamu Nggak Ketipu dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Bukan Joker: Seribu Kebaikan Dilupakan Hanya Karena Satu Keburukan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
22


Komentar

Comments are closed.