Menjadi Bucin dan Penikmat Lagu Galau adalah Passion Kita (Hah, Kita?)

Artikel

Avatar

“Kalau nggak suka galau, mending kita jangan temenan deh.”

Tanpa mengamati dunia jagad media sosial pun semua orang juga pada tahu, kok lagu-lagu galau zaman nyokab gue laku lagi ya? Benar sekali, fenomena cover song menjadi begitu akrab dalam nadi pemuda pemudi hari ini. Begitulah kiranya awal negara api menyerang kenapa lord of brokenheart Didi Prasetya dan Abid Ghofar Aboe DJa’far mendapatkan panggungnya kembali. 

Sebenarnya sudah lama sekali lagu percintaan sudah sangat akrab dengan kehidupan kita. Contoh saja Dewa 19 dengan lagu kangennya di kisaran tahun 2000-an. Alm. Chrisye dengan Cintaku di kisaran tahun 1990-an. Mungkin Ida Laila dengan sepiring berduanya di kisaran tahun 1980-an. Maaf Ani dan Roma irama sebenarnya ingin saya sebutkan, tapi untuk menghormati KPI, makanya tidak jadi. 

Memasuki tahun 2010-an ke atas, rasa-rasanya telinga ini belum bisa move on dari lagu cinta yang mendayu-dayu. Benar memang kata Cholil Mahmud, lagu cinta melulu, apa memang karena kuping melayu. Suka mendayu-dayu. 

Benar sepanjang tahun-tahun berikutnya Anji dengan “Dia” padahal nggak tahu dia siapa sempat mewarnai jagad viral dan cover dunia maya. Lantas Payung Teduh menyusul dengan pengen “Akad”-nya, karena mungkin di balik payung yang teduh itu, banyak yang harus diselamatkan dari dosa-dosa indah. Menyusul pula Starla dengan sepucuk “Surat Cinta untuk Starla”, meskipun Starla ini sebenarnya adalah anaknya Virgoun Putra Tambunan. 

Lantas Sa Su Sayang menampakkan warnanya dengan tema kesetiaannya. Beralih lagi Andmesh dengan Cinta yang Luar Bisanya. Semakin ke sini, tiba-tiba Pamer Bojo, Layang Kangen, dan tidak boleh dilupakan Katonyono Medot Janji dengan Sahabat Ambyarnya, mana suaranya…

Sorry terbawa suasana…

Ehm.! Baik-baik. Kita fokuskan kepada pembahasan kali ini. Pemuda-pemudi hari ini sangat akrab dengan sebutan milenials. Sebuah kiseki no sedai generasi keajaiban yang katanya Analisa Widyaningrum seorang Psikolog Klinis generasi milenials di mata generasi sebelumnya itu generasi yang idealis? Punya visi yang tidak realistis? Yang terpenting asal bisa gaya? Padahal gak sepenuhnya bener sih. 

Faktanya generasi ini diisi oleh kalian yang berumur 18-38 tahun. Ciri khas generasi ini sebenarnya mereka itu cari nyaman dalam urusan-urusannya, baik hoby, passion, pekerjaan, dan lain sebagainya. Baiklah sepertinya kita dapat 2 poin penting di sini. Pertama, penilaian generasi tua itu semuanya salah, dan kedua faktor suka cari kenyamanan. Nah, coba distabilo garisbawahi 2 poin dan akan kita ulas.

Generasi milenials adalah generasi idealis? Kurang tepat mungkin generasi egois lebih cocok. Maaf generasi kami tidak kenal dengan idealis, yang kami tahu bahwa kami cukup egois mementingkan diri kami sendiri dengan kenyamanan versi kami. Tapi kami begini ini sebenarnya niru dari generasi sebelumnya lo, yang katanya baby boomers itu orang-orangnya idealis banget. 

Generasi milenials punya visi yang nggak realistis? Salah besar, kami sebenarnya tidak nyaman saja menceritakan visi-visi kita-kita iya nggak? Biar kami dan generasi kami saja yang tahu, kalian cukup tunggu dan bersabar. Tunggu revolusi gebrakan-gebrakan dari generasi paling kreatif, inovatif dan inspiratif ini. 

Generasi milenials penting asal bisa gaya dan terkesan luarnya aja, dalamnya kosong? Salah besar, sebenarnya itu semua adalah bentuk literasi kami dalam passion-passion yang kami ketahui melalui foto, video dan bahan-bahan bacaan yang menurut kami renyah dan bergizi, macam rumah uya, cumi-cumi, katakan putus kompas muda, narasi entertainment, atau mungkin watchdoc. 

Keseluruhan alasan ini sebenarnya didominasi oleh faktor kami yang ingin mencari kenyamanan. Kalau kami nyaman sama passion-passion kami, lantas generasi baby boomers mau apa? 

Maaf saya tidak bermaksud untuk tidak sopan disini, saya hanya mencoba meyakinkan bahwa generasi kami ini generasi yang paling dinanti-nantikan. Kalau nggak percaya, mari kita buktikan fakta-fakta akibat perbuatan kami. 

Fakta pertama. Atta Halilintar masuk nominasi Youtuber terkaya ke-8 dunia. Kalau seandainya ada nominasi mengharumkan bangsa menjadi Youtuber, saya orang pertama yang merekomendasikan Atta Halilintar sebagai nominasi pahlawan Milenials pertama Indonesia. Pahlawan yang berjasa memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Suatu saat saya bermimpi foto Atta akan terakomkdir di uang 50 ribuan. Bukan begitu sahabat Ahsyiaaap?

Fakta kedua. Pasca baby boomers generasi kami membuat hampir separuh penduduk Indonesia sudah melek internet lo. Menurut rilis BPS sih, saya tinggal percaya aja. Bayangkan sudah 64% nih penduduk Indonesia telah melek internet. Mayoritas dari angka itu, kita generasi milenials yang paling mendominasi. Jadi kita-kita, generasi milenials yang punya potensi memviralkan segala sesuatu yang bersebaran di dunia maya. Semua bentuk berita viral, pasti kita-kita yang bikin. Mau contoh nih? KKN di Desa Penari, Mawang-Kasih Sayang kepada Orangtua.  Masih kurang? Pamer Bojo Didi Prasetyo karena kalau nggak di cover sama Guyon Waton dan Via Valen, pasti ndak seramai sekarang. 

Fakta ketiga. Istilah bucin adalah bentuk proses riil kebudayaan kami. Kalau kata analisa widyaningrum pada channel youtubenya yang masih 48k subscriber sih bilang, generasi milenials itu sebenarnya suka terhadap hal yang membikin mereka nyaman. Nah, atas dasar asumsi inilah saya berani berpendapat bahwa mengejar cinta itu sama dengan mengejar kenyamanan. Alhasil semuanya akan dikorbankan mulai dari tenaga, pikiran, uang, jiwa, raga, mimpi, cita-cita, sampai nama baik kampus orangtuapun kadang ikut dikorbankan. 

Sudah tendensi mencari kenyamanan generasi kami tuh sudah tidak peduli lagi sama yang namanya malu, segan, apalagi sungkan. Kita tuh sebenarnya hanya ingin merasa nyaman, udah gitu doang. Kalau kita nyaman, udah deh kita pasti pergi ke Gejayan atau Tugu Surabaya kok, ikut menolak RKUHP, RUU KPK, dan aneka rancangan undang-undang yang bermasalah lainnya deh, tenang aja. (*)

BACA JUGA Kalau Mau Cover Lagu-Lagunya Didi Kempot, Minta Izin Dulu, Lah atau tulisan Theo lainnya.

Baca Juga:  Hanya karena Nama Terkesan Feminin, Saya Sering Disangka Perempuan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
16


Komentar

Comments are closed.