Relasi Dan Kuasa Sinting Terhadap Perempuan

Si korban kasus pelecehan perempuan biasanya memilih takut dan bungkam, didukung dengan pelaku yang mengaminkan ketundukan perempuan atas kediamannya.

Artikel

“Orang saleh hiburannya tasbih. Orang kaya hiburannya perempuan!”

Waduh! Sebait tulisan Kuntowijoyo dalam novel Pasar tersebut sanggup membuat saya meringis, disusul tertawa sinis. Perempuah oh perempuan, nasib mu hanya sebatas sebagai hiburan! Benarkah?

Kasus pelecehan terhadap perempuan memang terus berulang. Si korban biasanya memilih takut dan bungkam, didukung dengan pelaku yang mengaminkan ketundukan perempuan atas kediamannya.

Ketakutan perempuan untuk melapor salah satunya karena pelaku yang harus mereka hadapi adalah orang-orang yang punya relasi dan kuasa lebih besar! Lihat saja berita di https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-47288665 , misal. Relasi dan kuasa sinting laki-laki itu yang menyebabkan perempuan memakan mentah-mentah traumanya. Belum lagi, kalau ada perempuan yang berani mengadu, bukannya merasa aman, malah diserang balik dengan aduan pencemaran nama baik oleh si pelaku. Edan!

Beberapa waktu lalupun berita pelecehan perempuan di kereta PT KAI muncul. Si perempuan yang diendus-endus oleh laki-laki tak dikenal kemudian berani mengadu. Bukannya disambut baik, eh malah diceramahi “Ah, biasalah mbak. Mbaknya terlihat seperti anak karaokean.” HAH?! Biasa? Anak karaokean? YOUR HEAD!!!

Nasib menjadi perempuan ditengah kesintingan relasi ini, menjadikan perempuan terus menjadi sasaran objek laki-laki yang mendominasi. Di ruang kelas, dosen laki-laki bisa melakukannya. Di ruang publik, pengguna fasilitas laki-laki bisa melakukannya. Di dunia politik, anggota dewan laki-laki bisa melakukannya.

Di dunia guyonan pun, acap kali perempuan menjadi sasaran candaan birahi laki-laki. Candaan tersebut ditanggapi dengan tawa renyah dari laki-laki lainnya, kadang juga perempuan yang tidak mengerti sakitnya. Korban? Menderita dan tidak baik-baik saja!

Misalkan, suatu ketika pernah saya berkumpul di sebuah rumah makan dengan laki-laki dewasa yang memiliki relasi dan kuasa besar. Saya tidak sendiri. Banyak kawan-kawan aktivis lainnya saat itu. Kegiatan kumpul tersebut karena ada agenda yang akan dibahas. Itu adalah pertemuan pertama saya dengannya.

Selesai diskusi, diajaklah saya dan beberapa kawan saya oleh si laki-laki dewasa tersebut bernyanyi di panggung kecil milik rumah makan. Meski sudah saya sambut dengan ogah-ogahan, tapi dipaksa juga, akhirnya saya memilih mengikuti kemauan laki-laki tersebut. Ingat! Tidak berdua, tapi beramai-ramai di panggung terbuka, dan didokumentasikan dalam foto dan video.

Setelah hari itu, besoknya saya dihubungi oleh laki-laki tersebut dengan chat basa-basi yang tidak saya pedulikan. Saya tahu, niat terdalamnya adalah meminta bantuan saya untuk menolongnya dalam kontestasi yang harus dia jalani.

Beberapa waktu kemudian, sialnya, saya harus dipertemukan lagi oleh laki-laki tersebut dalam suatu forum. Sialnya lagi, dia menjadi laki-laki yang lagi lagi memiliki kuasa atas forum saat itu, karena dia adalah pembicara. Bukannya melakukan sebuah diskusi yang progresif dalam forum tersebut, eh malah menjadikan saya sebagai objek pembahasan.

Baca Juga:  Perempuan, Ini Cara Menghadapi Nyinyiran Mengerdilkan

“Saya pernah karaokean dengan dia, loh! Saya ada foto dan videonya. Atau mau kita putar videonya bareng-bareng di sini?”

Hancur betul rasanya saat itu! Sedangkan dia menikmati candaannya sendiri yang menjurus. Kalimat tersebut terus terngiang selama forum berlangsung, bahkan setelah empat bulan berjalan. Redaksi yang ia gunakan, dengan tawa yang mengiringi itu berbahaya. Seakan-akan saya karaoke berdua hanya dengan dia! Dih! Amit-amit jabang bayi!

Tapi, apa yang saya lakukan? Yap, diam. Memilih merawat rasa takut dan bungkam, bahkan tidak melakukan klarifikasi apapun dalam forum tersebut, yang tentu menimbulkan tanya di setiap kepala yang hadir. Saya melanggengkan relasi dan kuasa sinting saat itu. Belum lagi dampak yang harus saya tanggung sendiri, seperti anggapan negatif orang lain.

Belum juga sembuh dari trauma masa lalu, beberapa waktu lalu saya kembali menjadi objek relasi dan kuasa laki-laki berbeda di ruang kelas. Saya dijadikan guyonan bahwa saya bertemu dengannya di salah satu hotel di luar kota. Kalimat tersebut disampaikannya dalam ruang kelas, dan kawan-kawan tentu dapat mendengarnya. Memang benar kejadiannya, tapi kenapa redaksi yang digunakan sangat tidak bijaksana?

Belum sembuh kesakitan dulu, kini saya harus menghadapinya lagi. Maka, dendam harus dibayar tuntas. Saya berani untuk melawan dengan menjawab kata-kata yang disampaikan laki-laki tersebut di ruang kelas.

Jelas bahwa pertemuan tidak sengaja saya dengan laki-laki tersebut di sebuah hotel karena saya sedang melaksanakan tugas. Tugas, coi, tugas! Diapun tahu itu. Tidak lebih! Namun kalimat, “kamu ga keluar kota lagi? Waktu itu saya ketemu dia tuh di depan hotel. Kalau mau tau ngapain, kalian tanya aja ke dia.” Lagi, perasaan saya dihancurkan oleh relasi dan kuasa sinting!

Saya melawan dengan menagih sikap bijaksana dalam membuat kalimat di ruang kelas. Apa yang diucapkan itu bermasalah, mampu menimbulkan seribu tanya di benak setiap kepala yang menjurus kepada saya. Kebanyakan orang kan memiliki tendensi negatif terhadap “perempuan dan hotel”. Bukannya disambut dengan bijaksana yang tumbuh, malah cengengesan.

Kalau cerita ini saya sampaikan pada laki-laki lainnya, yang sederajat relasi dan kuasanya dengan pelaku, dan saya tahu ilmunya lebih tinggi dari saya, mantan aktivis pula, tanggapannya hanya, “alah itu mah biasa saja. Untung ga diapa-apain, kan.YOUR EYES!!!! Memangnya dibicarakan dengan nada menjurus begitu saya merasa beruntung?

Baca Juga:  Kenapa Mudah Sekali Sakit Hati? Kasihan Hatinya

Pengalaman saya tersebut membuktikan bahwa praktik relasi dan kuasa sinting dari laki-laki terhadap perempuan masih sering terjadi. Di level perguyonan saja sudah menindas, bagaimana di level sentuh-menyentuh sebagaimana kasus di awal tulisan ini?

Sentimen negatif lebih sensitif untuk diarahkan ke perempuan. Dalam rangka “menjaga” perempuan, maka tumbuhlah pikiran bahwa perempuan harus “begini dan begitu”. Padahal, walaupun sudah menjadi “begini dan begitu” seperti pikiran yang tumbuh dalam mayoritas kepala tersebut, tidak menjadi jaminan bagi perempuan untuk merdeka dari relasi dan kuasa yang sinting, bro!

Atau jangan-jangan membiarkan perempuan dalam tempurung, menjadikan perempuan yang pemalu dan tunduk, menumbuhkan perempuan dalam ruang gerak yang terbatas, adalah sebagai upaya yang masif untuk melanggengkan kekuasaan yang mendominasi dari laki-laki “mesum”? Menjadikan laki-laki memiliki relasi dan kuasa yang besar, sehingga dapat bebas melakukan apapun pada perempuan beserta mengancam perempuan? Huh!

Mari kita kembali sama-sama mengingat, bahwa yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah tingkat ketakwaannya. Bukan soal siapa yang memiliki relasi dan kuasa lebih besar, karena urusan kemanusiaan, kita begitu sama. Kita diciptakan dengan tugas merawat ibu bumi dengan cinta kasih, menjadi pemimpin minimal bagi dirinya sendiri untuk menjaga keseimbangan bumi, dan bahkan saling bersolidaritas untuk melawan segala bentuk ketidakadilan.

Untuk kepentingan solidaritas tersebut, maka seharusnya ada ruang bergerak bagi laki-laki dan perempuan untuk berserikat, berkumpul dan berpendapat. Ada pula kita saling menjamin keamanan dan kenyamanan satu sama lain. Jangan ada salah satu merasa

Tidak ada pilih kasih dari Pencipta dalam memberikan peluang bagi laki-laki maupun perempuan untuk beramal. Dibukakan sebesar-besarnya sempat untuk siapa saja yang menghendaki.

Laki-laki dan perempuan, kalian berdamailah dalam keharmonisan cinta untuk saling melengkapi, bukan menunjukkan siapa lebih hebat.

Kenangan-kenangan pahit tentang relasi dan kuasa sinting itu ingin saya lupakan. Tapi kemudian, saya memilih melawan dengan merawat ingatan, dan saya kisahkan. Jangan ada lagi saya yang berikutnya! Bagaimana kisahmu, Puan?

Menolak untuk lagi dan lagi menjadi pembicaraan basi, atas kekuasaan dan dominasi sinting! Setelah kau gertak menagih sikap, kau hanya candaan yang tak dihiraukan. Teruslah sesak di ruang-ruang sempit nan memuakkan. Sampai tangan terangkat meninju mulut-mulut yang kejam. Mereka yang terlihat berakal namun krisis moral. Setidaknya kau telah berhasil meludahi dengan kata-kata. Halah. Edan!

---
654 kali dilihat

11

Komentar

Comments are closed.