Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Merawat Kebhinnekaan

Yoseph Yoneta Motong Wuwur oleh Yoseph Yoneta Motong Wuwur
30 Mei 2019
A A
Refleksi Hari Lahir Pancasila: Merawat Kebhinnekaan

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Merawat Kebhinnekaan

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini telah muncul dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia adalah hadirnya paham radikal. Dengan hadirnya paham ini kebhinekaan bangsa Indonesia terasa telah dicabik-cabik. Paham radikalisme memberikan nuansa hidup penuh dengan ketakutan, kegelisahan akan hilangnya rasa damai. Pada titik ini, Indonesia butuh refleksi tentang kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejak 17 Agustus1945 telah memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka dan terbebaskan dari penjajahan.

Rupanya dengan kemajuan teknologi dan peradaban dunia yang kian berkembang, bangsa ini sedang menghadapi suatu keadaan pasca kolonial yakni penjajahan dengan mempengaruhi psikologi anak bangsa. Pengaruh psikologi yang diterapkan memang tepat sasaran yakni sistem kerja paham radikal ini telah merasuki pola pikir dan perilaku manusia bangsa ini sehingga hilang kendali dari tatanan kehidupan negara ini.

Bangsa Indonesia sesungguhnya berada pada suatu titik balik untuk melihat kembali apa yang selama ini terjadi. Salah satu titik lemah yang perlu diperhatikan bangsa ini adalah sistem pendidikan bangsa ini yang tidak lagi memperhatikan moral dan etika sebagai suatu ilmu yang perlu diajarkan di sekolah dan diperguruan tinggi—melainkan moral dan etika di pandang sebatas pengetahuan semata. Moral dan etika bangsa yang terlupakan sejak reformasi sesungguhnya telah memberikan dampak—di mana generasi bangsa seolah-olah lupa dan tidak tahu akan moral dan etika bangsa yang menjunjung tinggi kebinekaan. Kebhinnekaan atau keberagamana bangsa ini sesungguhnya perlu dijaga dan dirawat sehingga mejadi kekuatan bangsa ini saat berhadapan dengan bangsa lain.

Dengan dihilangkannya pendidikan moral dan etika generasi bangsa ini menjadi tidak bermoral dan tidak beradab. Ketika sikap generasi muda tidak taat moral dan etika, maka paham radikalisme dengan mudah mempengaruhi dan merasuk keberagaman bangsa ini. Hal ini sesungguhnya menjadi tanggung jawab semuah pihak untuk mengembalikan suasana kehidupan bangsa menjadi lebih aman serta keluar dan terhindar dari paham radikalisme yang terus merasuki tatananan kehidupan bangsa ini.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural—dalam berbagai aspek suku, agama, dan ras—untuk itu dibutuhkan suatu sikap untuk menjaga dan merawat kebhinnekaan ini. Bukannya mejadi sekat dan pemicu pertikaian seperti yang terjadi selama ini.

Kehidupan demokrasi yang diimpikan dan diciptakan oleh pendahulu bangsa ini terkoyak hanya karena paham radikalisme yang merongrong keutuhan bangsa yang terpelihara dalam kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi sikap tolerasi ini. Paham radikalisme telah merasuki generasi bangsa ini dengan sikap intolerasi sehingga tercipta relasi sosial yang kurang harmonis antar sesama—kebersamaan sebagai warga negara menjadi renggang—dengan demikian tidak terciptanya kehidupan yang nyaman bagi masyarakat. Untuk itu butuh kerja sama semua pihak untuk menciptakan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Belakangan ini energi bangsa terkuras habis untuk menyatukan dan menguatkan semangat kebhinnekaan Indonesia. Semangat persatuan sebagai negara yang hadir dengan kebhinnekaan yang dari hari ke hari kian pudar. Pudarnya khazanah kebhinnekaan bangsa merupakan bagian dari kehidupan bangsa yang terlupakan.

Sesungguhnya bangsa Indonesia tidak berpegang pada ajaran suatu agama, melainkan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjunjung tinggi dan menghargai kebhinnekaan bangsa. Dengan hadirnya paham radikalisme yang merongrong keutuhan bangsa menjadikan bangsa terpecah. Untuk itu sebagai warga negara yang baik sepatutnya saling menghargai, saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada demi menjaga keutuhan negara.

Baca Juga:

5 Pekerjaan yang Bertebaran di Indonesia, tapi Sulit Ditemukan di Turki

Pengalaman Melepas Penat dengan Camping ala Warlok Queensland Australia

Sebagai negara dengan pluralitas agama, masyarakat Indonesia pun perlu menjalin hubungan yang harmonis antarumat beda agama. Pluralitas religius adalah kekayaan bangsa Indonesia tetapi sekaligus menjadi lahan subur pertikaian. Pluralitas religius menuntut sikap terbuka dan kerelaan berdialog antar umat beragama demi menghindari dan mewaspadai terjadinya intoleransi. Butuh kesadaran baru untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa ini. Dari satu sisi perbedaan-perbedaan yang ada dilihat sebagai kekayaan bangsa. Hal ini mendorong setiap penganut untuk saling menghargai, saling memperkaya nilai-nilai keagamaan masing-masing.

Perbedaan tidak boleh dilihat sebagai pertentangan tetapi dipandang sebagai pendorong, penguat dan pemurni. Penganut agama yang berbeda-beda harus mampu hidup bersama dalam perbedaan. Sebab dalam perbedaan itu kita menyadari bahwa kita adalah makluk sosial yang saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Kita harus sadar dengan belajar—bahkan dalam sejarah perbedaan agama menjadi pemicu pertengakran atau perpecahan. Sehingga sudah sepatutnya kita tidak mengulang hal tersebut, bukan?

Mari kita menjaga perbedaan karena dengan perbedaan yang ada kita menyadari bahwa kita adalah makluk yang unik. Walau kita berbeda namun kita adalah satu dalam kebhinnekaan Indonesia.

Selamat hari kelahiran Pancasila.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: BhinnekaBhinneka Tunggal IkaHari Lahir PancasilaIndonesia
Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Yoseph Yoneta Motong Wuwur

ArtikelTerkait

lelaki turki

Sebelum Pesona Lelaki Turki Merebak, Segera Ajak Doi ke KUA

27 Juli 2019
4 Skincare Perempuan Indonesia di Masa Kerajaan terminal mojok.co

4 Skincare Perempuan Indonesia di Masa Kerajaan

24 November 2021
batu bara

Wacana Pindah Ibu Kota di Tengah Tekanan Bisnis Sawit dan Batu Bara

28 Agustus 2019
bahasa slang g

Nostalgia Bahasa Slang Iginigi

7 Juli 2019
pendukung khilafah

Mbak-Mbak Pendukung Khilafah Bilang Umat Islam 96 Tahun Tertindas: Ah, Masyaaa?

5 Maret 2020
apriyani olimpiade sistem olahraga indonesia mojok (1)

Apriyani dan Pertaruhan Orang Tua yang Kadang Gagal

6 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

18 Januari 2026
Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

19 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

17 Januari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.