Rasanya Ketika Mboncengin Orang Pakai Motor

Artikel

Avatar

Saat ini, siapa sih yang nggak bisa naik motor? Motor memberikan kemudahan untuk berkandara, sehingga menjadi pilihan yang tepat agar dapat digunakan jika ada keperluan. Entah digunakan untuk pergi ke tempat kerja, pasar, kampus, atau hanya untuk sekedar mencari angin di luar. Tetapi nggak semua orang bisa naik motor loh. Lho, kenapa ya? Ya memang karena nggak bisa naik motor lah, mengendarai motor maksudnya.

Ada alasan tertentu pastinya, mengapa mereka nggak bisa mengendarai motor. Alasan-alasan itu muncul karena ya memang orangnya sudah tua (sepuh) dan tidak berani naik motor lagi, ndredheg, sudah tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh, ataupun yang memang dari dulu tidak berani naik motor, nggak mau latihan beneran sih, kalau latihan terus ya pasti bisa kok. Apalagi yang masih bayi atau balita, can’t relate dah. Wqwq~

Sebagai orang yang tidak bisa naik motor, tentunya mereka lebih memilih untuk membonceng motor, menggunakan transportasi umum seperti bus, taksi, ojek online atau jalan kaki saja jika dirasa dekat.

Bertolak dari yang tidak bisa naik motor tersebut, lalu bagaimana rasanya yang bisa naik motor kemudian diminta untuk memboncengkannya ya? Ya kalau jaraknya dekat sih nggak masalah, lha kalau jaraknya jauh banget? Pasti bakalan capek karena nggak ada yang mau diajak gantian pakai motornya. Wqwq

Berboncengan menggunakan motor merupakan sesuatu hal yang lumrah. Entah kita berboncengan dengan teman atau orang tua yang meminta untuk dianterin karena pengen pergi ke pasar atau tempat tertentu. Alasan seseorang untuk membonceng bukan hanya karena tidak bisa naik motor saja, tetapi terkadang juga karena capek jika ngegas sendirian terus. Makannya memilih untuk mbonceng saja. Hehe

Lalu apa sih yang kita rasakan ketika mboncengin orang? Ya tentunya ada rasa-rasa nganu gitu deh. Banyaklah yang dirasakan ketika kita memboncengkan orang lain. Wqwq~

Baca Juga:  Susahnya Jadi Orang yang Susah Mengingat Nama Orang

Ada rasa deg-degan yang muncul ketika itu. Karena apa? Karena kita membawa nyawa orang lain cuy, hehe. Kita harus ekstra hati-hati saat mengendarai motornya. Kalau sendirian mah bebas mau ngebut atau ugal-ugalan juga nggak papa. Semisal jatuh ya cuma kita yang merasakan sendiri sakitnya. Berbeda jika kita jatuh saat berboncengan dengan yang lain. Jadi harus tanggung jawab juga kepada yang kita boncengin, hehe.

Nah, bagaimana rasanya ketika kita diminta untuk mengantarkan emak (ibu) kita menggunakan motor ke suatu tempat? Pasti rasanya ingin cepat sampai di lokasi dah, tegang di jalan, berasa ekstrim banget. Karena nanti pasti akan mendengarkan ceramah-ceramahnya, omelan-omelannya serta kritik-kritiknya saat di jalan, wkwk.

“Yen ngepit alon-alon nduk, ibuk wedi mbok boncengke ngene, deg-degan terus lho.”

“Ojo lali ngetne kiwo tengen, yen meh belok lampu reting e diuripke. Ojo mentengah anggone ngepit, liwat pinggir wae!”

“Banyak anak kecil di sini, jangan ngebut-ngebut pakai motornya!!”

“Nggak usah nyalip, di belakangnya aja.”

“Hati-hati ada lubang di depan, nanti bannya cepet rusak.”

Kalimat-kalimat itu yang biasanya bakal kita dengarkan, tetapi masih ada banyak lagi dah. Padahal pakai motornya juga kecepatan standar. Ngebut sedikit saja langsung dimarahin. Kalau lambat sedikit juga disuruh kencengin. Lha gimana neh? Bingung juga jadinya, susah untuk sesuai dengan keinginannya. Pokoknya kita harus berusaha sesuai dengan apa yang diarahkan sama ibu kita, biar nggak diceramahin nantinya, wkwk.

Saat memboncengkan anak kecil juga harus benar berhati-hati. Karena biasanya anak kecil itu banyak usilnya saat diboncengin. Nggak bisa anteng atau diem gitu. Jadi nggak seimbang, goyang-goyang. Kadang malah saat kita boncengin sampai tidur nyenyak, haha. Dan kalau mboncengin orang yang tidur kan agak susah jadinya. Dan juga ketika mboncengin nenek atau kakek, harus lebih hati-hati. Jangan ngebut-ngebut, nanti beliau bisa jantungan.

Baca Juga:  Rasanya Naik Ojol di Bandung, Jogja, Jakarta dan Malang

Untuk orang yang gelian pasti rasanya risih ketika ada yang mbonceng terus pingganya digunakan sebagai pegangan. Hih! Harus nahan-nahan dan kalau berani ya nolak agar jangan dipegang. Suruh megang jok-nya saja lah, wkwk. Namanya orang gelian ya gitu lah.

Saat berboncengan dan keduanya saling berbicara pasti ada miss communication. Yang belakang ngomong sampai nrocos, yang depan cuma iya-iya terus, pura-pura denger. Karena sebenarnya nggak saling denger apa yang diomongin. Misalnya yang bonceng meminta untuk berhenti terlebih dahulu ketika ada warung, tetapi karena yang depan nggak denger jadinya ya jalan terus, bablas. Wkwk~ Ya maaf lah.

Ada lagi nih, ketika kita mboncengin orang yang berat badanya melebihi kita, pasti rasanya berat sekali saat kita mengendarainya. Serasa nggak sampai-sampai ke tujuan, wkwk. Dan ketika yang kita boncengin itu mengenakan rok, pasti boncengnya dengan posisi duduk miring (lateral sitting). Nah ini yang kita rasakan, jadi bawaannya motornya pengen ke kiri terus karena berat sebelah.

Namun dari hal-hal yang kita rasakan di atas, ada rasa senangnya juga ketika kita bisa mboncengin orang lain. Jadi naik motornya nggak sendirian deh. Dan merasakan helm yang dipakai saling ber-cetok-cetok. Yang paling senang pasti ketika boncengin pacarnya kan? Dengkulnya dielus-elus tuh. Kalau jomblo, bisa apa? Wkwk~

Nah, itulah yang bakal kita rasakan saat memboncengkan orang. Haha nikmati saja gaes. Dan tetap berhati-hatilah dalam berkendara agar selamat dan nyaman semuanya.

---
11


Komentar

Comments are closed.