Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Raffi Ahmad Divaksin Duluan Adalah Bentuk Kreativitas Pemerintah Memamerkan Kelemahannya

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
14 Januari 2021
A A
reality show raffi ahmad baim wong MOJOK.CO

reality show raffi ahmad baim wong MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Urgensi paling umum yang digembar-gemborkan pemerintah ketika menunjuk Raffi Ahmad sebagai perwakilan manusia dari kalangan anak muda yang disuntik vaksin pertama kali adalah guna menginspirasi milenial. Namun, rasa-rasanya hal tersebut nggak bakal menginspirasi siapapun alih-alih hanya memperlihatkan kelemahan pemerintah dengan gamblangnya.

Getaran tangan dokter yang menyuntik Jokowi memang menarik diperbincangkan, namun betapa pentingnya seorang artis dan influencer bernama Raffi Ahmad sebagai orang kedua yang divaksin setelah orang nomor satu di Indonesia juga menarik untuk dipikirkan, mengapa harus Raffi?

Ketika saya melihat berbagai argumen yang berseliweran soal betapa akan berpengaruhnya seorang Raffi Ahmad jika ia menjadi corong suara pemerintah untuk menyukseskan vaksinasi di Indonesia. Saya melihat ada sesuatu yang aneh.

Pertama, memang iya Raffi adalah influencer nomor satu di Indonesia dengan jumlah followers Instagram sebanyak 49,4 juta dan subscriber YouTube sebanyak 19 juta. Tapi, apakah pemerintah tidak lebih gagah dari seorang Raffi Ahmad? Tidakkah Jokowi seharusnya lebih punya daya influence yang lebih masif karena beliau presiden ketimbang seorang artis? Sebegitu takutnya kah pemerintah melihat ketidakpedulian rakyat kepadanya sampai harus menggandeng influencer yang memiliki pengikut yang lebih sedikit dari pemerintah? Ya, sebanyak-banyaknya followers Raffi, tidak lebih banyak dari jumlah rakyatnya pemerintah.

Kedua, jika pemerintah ingin menunjukkan kekuasaan dan kesolidannya alih-alih pamer kreativitas sambil menunjukkan kelemahannya. Bukankah Raffi Ahmad sungguh sangat tidak penting ketimbang para tenaga kesehatan yang berjibaku di luar sana. Di sana ada petugas kebersihan rumah sakit, dokter, sampai perawat yang sebenarnya lebih penting daripada Bapak Rafathar itu untuk disuntik vaksin.

Saya paham maksud pemerintah menggandeng Raffi Ahmad selain ingin menyimbolkan sesuatu, pemerintah juga ingin agar para fans Raffi yang konon katanya banyak itu mau untuk divaksin. Hitung-hitung sebagai sebuah langkah strategis melawan golongan penolak vaksin, pemerintah mungkin menganggap Raffi Ahmad seperti seorang mesias yang bisa membawa umatnya untuk bergerak ke jalan kebaikan.

Saya akui dan apresiasi, selama Covid-19 menerpa Indonesia, pemerintah sudah menunjukkan berbagai kreativitasnya. Mulai dari gonta-ganti istilah PSBB sampai PPKM, berbagai kebijakan menterinya, keputusan presidennya, hingga pada akhirnya membuat rakyatnya perlahan cuek bebek akibat pemerintah yang kelewat kreatif membuat kebijakan. Kreativitas dari pemerintah ini memang bagus, tapi kalau kelewatan kreatif ya jadinya seperti sekarang. Jumlah kasus positif terus bertambah sedangkan berbagai pendekatan seolah mentah tak bertuah.

Ketimbang berorientasi popularitas, bukankah lebih baik pemerintah berorientasi humanis dalam proses penyuntikan perdana vaksin? Suntik saja sopir ambulans, para tukang gali kubur, dokter, cleaning service rumah sakit yang pada kenyataannya lebih berisiko terpapar ketimbang Ariel Noah, Bunga Citra Lestari, bahkan kalau perlu seluruh pemain Ikatan Cinta juga baiknya disuruh vaksin duluan demi menginfluence para penontonnya di seluruh Indonesia. Saya yakin ibu-ibu seluruh Indonesia akan teriak, “aduhhh, Mas Aaal.”

Baca Juga:

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

Kebiasaan mengutamakan budaya puja dan puji alih-alih berorientasi pada konteks yang paling membutuhkan benar-benar menunjukkan wajah pemerintah selama pandemi ini. Pemerintah semacam kehilangan wibawa ketika berhadapan dengan para influencer yang punya berbagai pemikiran aneh selama pandemi ini dan pada akhirnya memilih jalan pintas dengan mengcounter lewat sesama influencer. Dengan potongan biaya yang nggak murah serta menciptakan siklus influencer oriented yang di mana seolah-olah influencer adalah jawaban atas semua masalah selama pandemi ini sungguh sangat tidak baik.

Kreativitas yang dilakukan pemerintah dengan menjadikan Raffi Ahmad sebagai orang kedua setelah Jokowi memang nampak bagus dan keren, namun juga menunjukkan bahwa pemerintah punya banyak pekerjaan rumah menyoal kepercayaan rakyat kepadanya.

Seandainya tanpa seorang influencer, Pak Jokowi sebenarnya bisa bikin gerakan yang bisa membuka mata masyarakat di gelaran perdana penyuntikan vaksin. Misal dengan bikin gerakan 1.000 dokter di seluruh Indonesia disuntik vaksin bareng Pak Jokowi. Atau bikin gerakan 1 juta tenaga kesehatan disuntik vaksin yang disiarkan streaming di tempat masing-masing. Selain lebih urgent, gerakan tersebut juga tepat sasaran. Bukannya para artis yang setiap hari cuma pakai face shield doang dan di luar kamera malah asyik ngumpul-ngumpul bikin kerumunan.

Apa yang dilakukan pemerintah memang tidak seratus persen salah. Saya paham bahwa itu adalah sebuah langkah yang coba dilakukan pemerintah demi rakyatnya. Namun mau sampai kapan pemerintah memilih menyerahkan kepopulerannya kepada seorang Raffi Ahmad dan influencer lainnya? Sampai kapan semua masyarakat lebih percaya kepada influencer ketimbang presidennya sendiri?

Lagipula penyebutan Raffi Ahmad sebagai representasi anak muda itu menurut saya kurang tepat. Pemerintah seharusnya lebih up to date dengan menggandeng orang-orang seperti Pamungkas, Nadin Amizah, Hindia, hingga Feast yang kemudaan mereka sungguh bikin kebas golongan tua.

Jika semakin hari pemerintah semakin bergantung pada influencer, bukan tidak mungkin lama-lama pekerjaan influencer dapat dikategorikan sebagai Pegawai Negeri Sipil saking berpengaruhnya bagi pemerintah dan bangsa ini.

Saya akui kreativitas pemerintah menggandeng Raffi Ahmad saat penyuntikan vaksin perdana diawali dengan niat yang baik. Namun, kreativitas itu sungguh tidak mempertimbangkan urgensi utama alih-alih seperti hanya ingin membuat kesan untuk seluruh fans Raffi Ahmad.

Iya saya tahu fans Raffi Ahmad itu banyak, cuma masa sih jumlah fans pemerintah kalah sama fansnya Raffi Ahmad? Fans pemerintah kan seharusnya lebih banyak?

Kalau dikit-dikit mengandalkan Raffi Ahmad atau influencer, bukan nggak mungkin di Pilpres 2024 nanti Raffi Ahmad sadar bahwa dirinya layak jadi presiden karena ia merasa punya banyak followers. Ia tahu, cukup dengan modal terkenal ia bisa menggerakkan rakyat dan dengan modal kepopuleran serta punya banyak followers maka semua masalah bisa teratasi. Jika semakin hari peran influencer semakin berpengaruh, ada baiknya Pak Jokowi bikin kementerian Influencer dengan mengangkat Raffi Ahmad jadi menterinya. Mungkin dengan begitu masyarakat akan respek kepada pemerintah, atau mungkin sebaliknya, bakal semakin kagum melihat betapa kreatifnya pemerintah memperlihatkan kelemahannya.

BACA JUGA Cari Film Mirip Crows Zero? Coba High&Low dan artikel M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2021 oleh

Tags: influencerraffi ahmadvaksin
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Saat ini aktif menangani proses rekrutmen harian serta seleksi kandidat.

ArtikelTerkait

Nikita Mirzani dan Baim Wong Adalah Alasan untuk Berangus Influencer dari Indonesia terminal mojok.co

Nikita Mirzani dan Baim Wong Adalah Alasan untuk Berangus Influencer dari Indonesia

14 Oktober 2021
Nia Ramadhani MC raffi ahmad terminal mojok

Sebuah Nasihat dari MC Amatir untuk Nia Ramadhani

2 Februari 2021
Uncle Muthu di “Upin dan Ipin” Diam-diam Adalah Influencer, Ini Tiga Konten yang Mungkin Membuatnya Viral Mojok.co

3 Konten yang Membuat Uncle Muthu “Upin dan Ipin” Jadi Micro Influencer

1 Januari 2024
Kalau Kamu Bukan Orang Terkenal, Bikin Podcast Nggak Seindah Kelihatannya terminal mojok.co

Kalau Kamu Bukan Orang Terkenal, Bikin Podcast Nggak Seindah Kelihatannya

18 November 2020
dindasafay

Dindasafay Adalah Bukti Kalau Orang Indonesia Punya Bakat Alami Buat Jadi Ahli

15 April 2020
Saya Punya Alasan untuk Tidak Perhitungan Follow IG Orang terminal mojok.co

Tips Mengendorse Influencer di Instagram

22 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Sate Klopo Surabaya Masih Kalah Populer dari Sate Madura, padahal Sama-sama Enak Mojok.co

Alasan Sate Klopo Surabaya Masih Kalah Populer dari Sate Madura, padahal Sama-sama Enak

7 Mei 2026
Nasihat Penting untuk Gen Z yang Pengin Banget Jadi ASN

Daripada ASN Day, Kami para ASN Lebih Butuh Serikat Pekerja!

5 Mei 2026
4 Kebiasaan yang Umum di Semarang, tapi Jadi Aneh di Jogja (Unsplash)

4 Kebiasaan yang Umum Dilakukan di Semarang, tapi Aneh saat Saya Lakukan di Jogja

3 Mei 2026
Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan Terminal

Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan

9 Mei 2026
Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya "Menolak" dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

7 Mei 2026
Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

9 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM
  • Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan
  • JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk
  • Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi
  • Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat
  • Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.