Krim Abal-abal: Murah, Beda, dan Berbahaya

Artikel

Avatar

Memiliki kulit putih merupakan dambaan setiap orang. Seakan kulit putih, kinclong, glowing, shimmering dan splendid sampai bikin nyamuk terpeleset adalah tolok ukur kecantikan seseorang. Kalau direnungkan kembali, sebetulnya beauty standard masyarakat Indonesia dengan Korea Selatan tidak jauh beda. Kulit putih dan bertubuh kurus adalah dua hal yang harus dimiliki oleh seorang perempuan sehingga banyak perempuan yang berlomba-lomba mengubah dirinya menjadi seperti kertas HVS, putih dan tipis.

Akibat toxic beauty standard inilah aktris sekeren Tara Basro merasa insecure karena memiliki warna kulit “tidak putih”. Padahal Mbak Tara cantiknya eksotis, lho, khas Indonesia banget. Sejatinya orang Indonesia memang terlahir dengan gen kulit berwarna eksotis. Bahkan bule-bule minim pigmen pun ingin menggelapkan kulitnya sampai rela berjemur di pantai Bali.

Nah, karena kebanyakan perempuan Indonesia ngebet sekali punya kulit putih dan sukanya yang instan, maka muncul lah berbagai produk perawatan wajah dan tubuh di pasaran. Mulai dari produk kecantikan dari merek ternama lokal, merek ternama Korea, sampai merek abu-abu.

Larisnya krim abal-abal di pasaran didukung oleh beberapa faktor, terutama dari minat pasar dan pengaruh influencer yang aktif mempromosikan produk tersebut di media sosial, biasanya selebgram. Selebgram berwajah cantik mulus hingga nyamuk pun sungkan untuk menyedot darah karena sudah terpeleset duluan, aktif mengendorse produk krim abal-abal lengkap dengan kalimat manisnya, membuai para pengikut media sosial untuk memakai krim tersebut. Saya juga tahu kok, mereka tidak benar-benar memakai produk itu. Yang penting fulusnya, cyin.

Menurut saya, tindakan para influencer ini sangatlah tidak bertanggung jawab. Bukannya mengedukasi malah membodohi rata-rata masyarakat +62 yang minim literasi. Efek krim abal-abal itu penyesalannya seumur hidup, lho. Makanya saya sangat setuju dengan tindakan Tasya Farasya yang dulu sempat menegur para influencer lain agar tidak sembarangan mengiklankan sebuah produk, entah itu kosmetik, behel gigi, dan sebagainya.

Saya iseng-iseng berselancar di market place Shopee untuk melihat-lihat produk krim abal-abal, mulai dari krim kiloan sampai krim yang sudah dikemas dengan cantik. Ada dua merek yang menarik perhatian saya, yaitu merek inisial dua huruf dan merek ‘kucing’. Angka penjualannya begitu fantastis, untuk satu toko bisa menjual hingga ratusan ribu paket. Dengan harga murah meriah berkisar dari 30 ribu rupiah sampai 150 ribu rupiah untuk satu paketnya.

Jika dikalikan dengan banyaknya paket yang terjual, tentu si penjual sudah kaya raya dengan omzet ratusan juta. Itu baru satu toko, bayangkan jika digabung dengan toko-toko lainnya. Belum lagi pabrik yang membuat krim kiloan tentu lebih tajir lagi. Kekayaan perusahaan krim abal-abal tersebut mungkin akan menyaingi jumlah aset perusahaan-perusahaan multinasional di dunia termasuk VOC.

Saya juga bisa membayangkan bagaimana proses pembuatan krim tersebut. Tidak mungkin menggunakan peralatan higienis dan canggih, cukup bermodalkan baskom dan centong sayur. Ini mau bikin krim wajah atau adonan gorengan?

Baca Juga:  Membedah Potensi Penerimaan Pajak dari para Influencer

Jari saya masih asyik menarik-ulur halaman Shopee, tetapi isi pikiran saya mulai berisik dan hati mulai meringis. Kebanyakan pembeli merupakan ibu-ibu rumah tangga kalangan menengah ke bawah. Di bagian ulasan para pembeli memberikan testimoni produk tersebut yang terdiri dari toner mirip minuman buah, sabun wajah mirip agar-agar, krim siang berwarna kuning mentega dan krim malam. Para pembeli memperlihatkan hasil wajah mereka setelah pemakaian produk. Memang sih putih, tetapi tidak alami.

Belum lagi sang penjual mencantumkan “hasil uji lab” yang menyeret nama Kementerian Perindustrian untuk meyakinkan calon pembeli. Saya menemukan beberapa kejanggalan di sana, mulai dari kop surat yang banyak salah ketiknya, alamat pengirim sampel yang tidak detail, dan hasil pengujian yang agak mencurigakan. Mana mungkin instansi di bawah kementerian bisa salah menuliskan namanya sendiri? ‘Kementerian’ jadi ‘Kementrian’, ‘Laboratorium’ jadi ‘Laboraturium’, ‘Labolatorium’, ‘Raboratorium’.

Kemudian pada bagian hasil uji hanya tercantum sampel krim siang. Ke mana krim malam, toner, dan sabun wajah? Di sana tertulis kadar merkuri yang terdeteksi dalam krim siang adalah sebesar 0,31 mg/kg dan menurut BPOM nilai ambang batas cemaran merkuri dalam kosmetik adalah tidak lebih dari 1 mg/kg atau 1 mg/L (1 ppm). Sehingga di bagian bawah terdapat keterangan ‘Produk ini aman digunakan’.

Apakah urusannya selesai hanya sampai di sana? Tidak semudah itu, Maemunah. Menurut BPOM, sebuah produk kosmetik abal-abal umumnya mengandung merkuri, hidrokuinon, asam retinoat, dan rhodamin B. Mereka sendiri telah melarang penggunaan bahan-bahan tersebut sesuai Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.03.1.23.08.11.07517 tahun 2011 Tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika.

Merkuri

Meskipun kadar merkuri dalam krim siang tersebut di bawah nilai ambang batas, tetap saja penggunaan merkuri dilarang sesuai Permenkes RI No.445/MENKES/PER/1998 karena jika merkuri atau raksa digunakan berulang kali apalagi dalam jangka waktu lama akan membahayakan kesehatan.

Merkuri termasuk logam berat dan dalam konsentrasi kecil pun bersifat racun. Meski cuman diolesin ke kulit, dia bisa meresap masuk ke dalam darah dan memasuki sistem saraf tubuh, sehingga dapat menyebabkan bintik hitam pada kulit, iritasi, kerusakan permanen pada syaraf otak, dan gangguan pada perkembangan janin. Makanya saya sangat ingin berkata kasar saat ada penjual krim abal-abal yang mengatakan produknya aman bagi ibu hamil dan menyusui.

Hidrokuinon

Sebuah krim pemutih wajah sudah pasti berkhasiat memutihkan kulit wajah. Nah, di sinilah hidrokuinon berperan. Hidrokuinon merupakan senyawa aktif untuk pencegahan pigmentasi dengan menghambat kerja enzim tirosinase yang berperan dalam penggelapan kulit. Kalau hidrokuinon terus terakumulasi dalam kulit dapat menyebabkan mutasi dan kerusakan.

Penggunaan hidrokuinon hanya sesuai resep dokter ya. Penggunaan hidrokuinon lebih dari 4% akan menyebabkan iritasi kulit, kulit terasa terbakar dan merah, menyebabkan kelainan ginjal, kanker darah, dan kanker sel hati. Sebetulnya Food and Drug Administration (FDA) alias BPOM-nya Amerika pun sudah melarang penggunaan hidrokuinon dalam pemutih wajah dan BPOM kita juga sudah melarang sejak 2008.

Baca Juga:  Pesta, Peran Penting Tukang Masak dan Kebaikan yang Kalian Peroleh

Asam retinoat

Asam retinoat merupakan turunan dari vitamin A yang terbentuk dari all-trans retinol (retiniod dalam bentuk alkohol), biasa disebut tretinioin. Asam retinoat biasa digunakan dalam terapi jerawat. Penggunaan asam retinoat dapat menimbulkan iritasi kulit, bersifat karsinogenik, dan menyebabkan cacat janin.

Rhodamin B

Rhodamin B merupakan pewarna sintetis berupa serbuk kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, serta mudah larut dalam larutan warna merah terang berfluoresen digunakan sebagai bahan pewarna tekstil, cat, kertas, atau pakaian. Dari sana sudah jelas bahwa rhodamin B tidak diperuntukkan untuk makanan dan kosmetik. Rhodamin B dapat mengiritasi kulit, saluran pernapasan dan bersifat karsinogenik (memicu pertumbuhan sel kanker) dalam paparan jangka pendek.

Adapun ciri-ciri krim abal-abal bisa dibedakan dengan mudah, biasanya krim modelan begitu dibuat dalam dua versi yaitu krim siang berwarna kuning dan krim malam berwarna putih. Hmm, nggak sekalian aja bikin krim subuh, krim sepertiga malam, krim magrib, misalnya. Dari tekstur pun berminyak dan tidak langsung menyerap ke kulit ketika diaplikasikan. Juga terkadang warna krim bisa custom jadi mejikuhibiniu sesuai keinginan pelanggan. Gila.

Krim abal-abal biasanya dijual dalam pot berwarna putih (kadang warna-warni juga) dan berkedok sebagai krim racikan dokter. Umumnya krim ini dijual sepaket bersama toner dan sabun wajah. Lucunya, selalu ada calon pembeli yang menanyakan : ‘Ini ori nggak, Sis?’ dan imbauan dari penjual agar tidak terkecoh dengan produk KW krim abal-abal itu. Sudah palsu, dipalsuin lagi. Cape deh.

Pemakaian krim wajah abal-abal ini juga mengakibatkan ketergantungan karena efek dari hidrokuinon dan merkuri itu sendiri. Sekali lepas dari penggunaan rangkaian krim tersebut, wajah konsumen akan mengalami kerusakan, sangat sensitif saat terpapar matahari dan keringat. Akhirnya? Mau tidak mau konsumen repurchase krim tersebut dan memakainya kembali. Bahkan jika keadaan wajah sudah parah dokter kulit pun angkat tangan.

Tujuan saya menulis ini bukan bermaksud untuk menghentikan rezeki orang, saya hanya bermaksud ingin mengingatkan kepada calon-calon konsumen agar lebih cermat dalam memilih produk perawatan kulit terutama wajah. Pilihlah produk yang memang sudah terdaftar di BPOM dan punya nama. Sayangi kulitmu dan jangan lupa tersenyum. Karena semakin banyak tersenyum maka akan terpancar energi positif dan aura kecantikan dirimu.

BACA JUGA ‘Bekal untuk Suami’ Nggak Akan Diprotes kalau Menghilangkan Kata ‘Suami’ dan tulisan Jasmine Nadiah Aurin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.