Punk yang Dianggap Lebih Berbahaya daripada Komunis dan Fasisme

Artikel

Ariz Rahman Hasraf

Banyak perspektif negatif yang dicapkan masyarakat kepada anak punk, mereka dianggap tidak lebih dari preman, tukang mabuk, dan biang onar. Hal ini terjadi ketika musik punk berubah menjadi ideologi yang mengusung kehidupan mandiri dan bebas tanpa aturan. Punk merupakan sebuah subkultur yang lahir di London, Inggris untuk menentang budaya dominan yang dilakukan oleh kaum golongan atas. Kemunculan pertama punk di Inggris, pada waktu itu hanya sebatas pemberontakan di bidang musik, namun ternyata merambah menjadi sebuah subkultur.

Kata punk berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Public United Not Kingdom” kemudian disingkat menjadi P.U.N.K atau diartikan suatu komunitas di luar kerajaan. Musik punk lahir dari anak muda masyarakat kelas bawah sebagai bentuk perlawanan terhadap kerajaan Inggris akibat krisis ekonomi pada tahun 1970-an. Bentuk perlawanannya melalui semangat bermusik dengan lirik yang menyindir atau mengkritik pemerintah.

Kebanyakan orang menganggap musik punk sebagai musik yang distorsi gitarnya tidak jelas dan beat drum yang cepat tidak beraturan. Pada saat itu musik di Inggris didominasi oleh rocker, yang notabene memiliki skill suara tinggi dan melodi yang ciamik. Maka musisi yang memiliki keterbatasan skill dan modal membuat musik yang keras namun mudah untuk dimainkan.

Kehidupan merekabisa terlihat dari cara mereka berpakaian dengan nyentrik seperti, rambut mohawk ala suku Indian, tubuh penuh tattoo dan tindik, dan jaket jeans sobeknya. Bagi mereka, cara berpakaian itu merupakan simbol perlawanan yang identik dengan sikap anti-kemapanan dan menunjukkan golongan kelas bawah di Inggris. Selain itu, konser musik punk dilakukan secara indie atau mandiri dalam bermusik, banyak perusahaan rekaman tidak mau bekerja sama karena liriknya yang mengkritik pemerintah secara frontal.

Baca Juga:  7 Rekomendasi Kuliner Semarang ala Food Vlogger Ria SW

Komunitas mereka mulai berkembang pesat di ranah Inggris pada tahun 70-an. Hal ini membuat masyarakat golongan atas menjadi resah dengan perilaku mereka yang tidak bermoral hingga dicap sebagai “agen keruntuhan moral”. Fenomena ini diarsipkan pada sebuah dokumenter berdurasi satu jam pada tahun 1977 dalam siaran BBC seperti yang telah dikemukakan dalam “Brass Tacks, Documentary Manchester 1977”

Dokumenter itu berisi perdebatan remaja punk dengan politikus yang membahas ancaman sosial budaya punk di Inggris. Mereka beranggapan budaya tersebut lebih berbahaya dari komunis atau fasisme. Karena sikap mereka yang tidak mau diatur oleh pemerintah dan membuat jalanan dipenuhi komunitasnya sehingga menjadi kumuh. Musik punk memang terkenal ganas dengan sikapnya di atas panggung ditambah dengan lirik-lirik yang kasar. Para golongan atas menuntut musisi punk agar lebih bertanggung jawab dengan sikapnya di atas panggung.

Selain sikapnya di atas panggung, komunitas punk juga terkenal dengan fashion yang memiliki ciri khas tersendiri. Fashion mereka seolah-olah sengaja untuk menandingi budaya dominan. Melalui fashion menjadikannya sebagai identitas bentuk perlawanan. Fashion mereka mempunyai arti tersendiri yaitu semangat anti kemapanan dengan ditunjukkannya memakai celana robek, sepatu boots, dan rambut acak-acakan. Gaya mereka merepresentasikan kehidupan masyarakat kelas bawah yang penuh kekerasan dan kemiskinan. Mereka berpakaian seperti ini agar mencuri perhatian pemerintah Inggris untuk menyejahterakan kaum kelas bawah.

Kehidupan yang tidak layak disertai upah yang sedikit melahirkan sebuah pemberontakan secara non-fisik, dengan mengharapkan agar pemerintah dapat mengatasi permasalahannya. Pada awalnya, pemberontakan ini merupakan sebuah bentuk protes oleh kaum kelas bawah dengan cara bermusik. Namun seiring berkembangnya waktu berubah menjadi sebuah subkultur.

Popularitas punk berkembang pesat karena besarnya pengaruh terhadap kehidupan sosial, mulai dari musik hingga fashion. Pada saat itu, kemunculan mereka menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada pemerintah. Punk merupakan suatu wadah bagi orang-orang yang menginginkan perubahan sosial dengan cara yang berbeda, dan menyuarakan suara anti kemapanan atau kapitalisme. Tindakan komunitas punk memang bisa dikatakan kurang tepat karena membawa pengaruh buruk bagi sekitarnya, namun mereka hanya ingin pemerintah memberikan perhatian dan membantu perekonomian masyarakat kelas bawah.

Baca Juga:  Alasan Mengapa Seragam Sekolah Warnanya Tak Pernah Berubah

BACA JUGA Lagu “Kangen” Dewa 19, Tembang Tumpuan Kerinduan Lintas Generasi dan tulisan Damar Senoaji lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
17


Komentar

Comments are closed.