Punchline Dijadiin Judul Video SUCI IX Kompas TV, Menyebalkan dan Merusak Mood Penonton – Terminal Mojok

Punchline Dijadiin Judul Video SUCI IX Kompas TV, Menyebalkan dan Merusak Mood Penonton

Featured

Dicky Setyawan

SUCI IX memang banyak kejutan, bukan cuma show eliminasi pertama yang langsung mengeluarkan Ichal Kate yang digadang-gadang bakal bersinar musim ini. Maupun alasan lain yang lebih baik langsung saja baca artikel Mbak Dessy ini daripada saya menjelaskan kembali. Namun, kejutan lain yang diberikan termasuk format baru judul-judul video yang di-upload admin SUCI Kompas TV ke YouTube, yang kelewat nganyeli! Asli!

Beberapa video yang di-upload tersebut menggunakan judul dari punchline-punchline si komika, sebuah format baru yang cukup mengundang kegemesan netizen. Jika kalian menyaksikan SUCI Kompas TV dari awal yang diunggah lama, bukan versi reuploadnya, kalian akan lebih sering menjumpai video-video penampilan komika dengan judul yang cenderung singkat, pun yang dipakai hanya premis atau set-up saja, bukan punchline.

Begini, pada dasarnya punchline kan bagian lucu dari suatu bit, dan untuk mencapai titik lucu itu, biasanya menggunakan pematahan persepsi penonton oleh si komika, yang sejatinya menimbulkan efek kejut. Artinya, dengan menggunakan punchline sebagai judul video, itu kurang lebih seperti orang-orang menyebalkan yang kalian temui di bioskop maupun di depan layar laptop yang suka bilang, “Abis ini, gini, nih.” Bagaimana kita mau terkejut, lha wong sudah di-spoiler?

Dari situasi seperti ini jelas merugikan banyak pihak, baik pemirsa via YouTube dan si komika sendiri. Pertama, dengan digunakannya punchline sebagai judul, artinya penonton tak akan menikmati joke sepenuhnya. Penonton cuma kebagian pertunjukan delivery komika dengan efek kejut yang tipis. Penonton malah lebih mirip mentor combud daripada sebagai penikmat joke seutuhnya. Ya, memang penonton tak memberikan pengaruh ke penilaian, toh juri tetap mendapatkan efek kejut itu. Namun, apakah pertunjukan SUCI IX hanya untuk juri? Hmmm.

Satu contohnya bisa dilihat pada penampilan Davi, di mana punchline yang turut digunakan admin SUCI IX sebagai judul, “Kalau Gunung Sumbing Meletus Bunyinya Nyuar” merupakan salah satu punchline ter-epic di malam itu, yang membuat Pandji tergopoh-gopoh, pun Uus mengakui belum pernah lagi tertawa selepas itu sebelum mendengarkan punchline “nyuar-nya”. Sayangnya, penonton di YouTube tidak merasakan tawa sepenuhnya seperti Pandji dan Uus, wong sudah baca judulnya.

Kedua, tentu komika juga dirugikan dari situasi seperti ini. Menggunakan punchline sebagai judul video sebenarnya merupakan tindakan yang kurang etis, meskipun jelas sudah ada persetujuan kedua belah pihak. Ketika tampil, komika punya ekspektasi lebih ketika mengeluarkan pematahan persepsi yang diharapkan fresh di benak pemirsa, kalau di-spoiler pakai judul, dan penonton tidak merasakan efek kejut sepenuhnya, bisa jadi komika merasakan kurang puas terhadap realita dari ekspektasinya. Biar pun tawa di YouTube nggak nyampe ke Studio Kompas TV. Heuheu.

Hal yang pernah saya saksikan di open mic komunitas, ketika salah satu MC keceplosan mem-present komika dengan punchline si komika, lantas ditegur salah satu MC lainnya, “Wah, parah, masa pakai punchline.” Benar, saat punchline dibawakan oleh si komika, pada akhirnya terasa biasa saja karena separuh porsi tawanya sudah diambil MC. Untuk kasus SUCI IX ini, sebagian porsi tawa sudah diambil si Mimin yang buat judul.

Yang menjadi pertanyaan, apa maksud dan tujuan menggunakan punchline sebagai judul video? Jika saya mengumpulkan asumsi dari netizen, sebagian berpendapat bahwa SUCI IX Kompas TV sengaja memberikan ekslusifitas kepada penonton on air televisi. Jelas, dengan menonton taping di televisi lebih menguntungkan, pun sebagai penikmat yang mencintai SUCI Kompas TV seharusnya lebih baik menonton via televisi. Saya sendiri kalau disuruh memilih, lebih memilih menonton taping televisi di mana saya akan mendapatkan pertunjukan secara utuh yang kadang banyak dipangkas di YouTube, sekalipun dengan cara streaming di situs Kompas.tv. Tapi, kan, tidak setiap waktu penonton punya kesempatan itu.

Bukankah kata Raditya Dika bahwa beberapa komika biar pun nggak juara, bisa dikenal karena berkesan di mata pemirsa, yang beberapa sekilas nonton cuplikannya di YouTube? Jadi, mau penting nggak penting, pada akhirnya penonton di YouTube pun sama pentingnya dengan penonton televisi, terutama bagi karier si komika sendiri.

Atau asumsi lain dari netizen, bisa jadi admin SUCI Kompas TV memang sengaja menggunakan punchline sebagai judul sebagai strategi menarik penonton. Hmm, mungkin. Namun, bukankah video-video lama yang “berkesan di mata pemirsa” dulu cuma menggunakan judul yang biasa-biasa saja dan tidak bombastis, benar, bukan?

Namun, beruntungnya saya sendiri punya cara untuk menikmati penampilan komika di SUCI IX dengan sebisa mungkin tidak melihat judul, thumbnail, dan kolom komentar agar merasakan sensasi kejut punchline seutuhnya. Eh, tapi terserah juga, ding, toh saya cuma penikmat gratisan, kok. Heuheu.

BACA JUGA Wawancara Produser SUCI IX: Kompetisi Stand Up Comedy yang Terimbas Covid-19 atau tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Baca Juga:  Kenapa Tidak Ada Orang dengan Gelar Habib di Muhammadiyah?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
13


Komentar

Comments are closed.