Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

Iqbal AR oleh Iqbal AR
3 Maret 2026
A A
Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial Mojok.co

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi banyak orang, bulan puasa (termasuk Lebaran) menjadi momen yang mungkin paling ditunggu-tunggu. Bulan puasa jadi momen untuk berkumpul dengan keluarga, menghidupkan tradisi-tradisi khas bulan puasa yang hanya muncul setahun sekali. Bulan puasa jadi momen yang penuh kehangatan, sukacita, dan kebersamaan. Seakan-akan menjalani bulan puasa harus dengan rasa bahagia, nggak boleh sebaliknya.

Akan tetapi, bagi saya, momen bulan puasa (termasuk Lebaran) kini memiliki makna yang berbeda dalam hidup. Bulan puasa yang seharusnya jadi momen penuh kehangatan, penuh kebahagiaan, dan momen yang istimewa, berubah jadi bulan yang biasa saja. Saya sudah nggak merasakan kehangatannya, kebahagiaannya, dan keistimewaannya. Semuanya karena sudah nggak ada lagi beberapa orang tersayang dalam hidup saya.

Sudah 13 tahun lamanya saya ditinggal oleh ayah dan nenek (ibunya ayah). Keduanya meninggal pada 2013 dan hanya berselang beberapa bulan saja. Dan, sejak tahun itu hingga sekarang ini, saya merasa bulan puasa termasuk Lebaran jadi kehilangan makna, kehilangan daya magisnya. 

Selama 13 tahun ini, setiap menjelang bulan puasa, rasa gundah selalu menghampiri. Bukan karena saya benci bulan puasa, melainkan karena saya harus menjalani bulan puasa dengan perasaan yang aneh, perasaan yang campur aduk lagi. Saya senang karena bisa berjumpa dengan bulan suci, tapi juga sedih karena saya harus menjalani bulan suci ini tanpa adanya orang-orang tersayang, nggak bisa lagi menghidupkan “tradisi-tradisi” yang pernah kami lakukan sebelumnya.

Bukber keluarga jadi momen yang aneh, momen yang sarat akan kemuraman

Salah satu momen yang paling nggak enak ketika menjalani puasa tanpa orang-orang tersayang adalah ada buka bersama (bukber) dengan keluarga. Bukber seharusnya menjadi momen yang penuh kehangatan, kebahagiaan, momen di mana seluruh keluarga besar saling berkumpul, malah jadi momen yang aneh. Bukber menjadi momen yang penuh rasa awkward, momen yang penuh kemuraman, terutama di tahun-tahun pertama setelah kehilangan.

Di keluarga saya, tepatnya di keluarga besar ayah, bukber sudah jadi agenda rutin selama bertahun-tahun. Tempatnya selalu di rumah nenek (rumah induk keluarga), dan nenek akan masak banyak makanan. Mulai dari rawon (rawon buatan nenek saya adalah rawon terbaik sedunia), segala macam sayur, hingga berbagai macam lauk. Bagi saya, momen bukber ini adalah momen yang paling saya tunggu-tunggu.

Akan tetapi, setelah ayah dan nenek meninggal, momen bukber jadi terasa aneh. Kebahagiaan dan kehangatan yang dulu pernah ada kini sudah sirna. Nggak ada lagi masakan nenek, nggak ada lagi guyonan receh ayah. Rasa makanannya jadi terasa biasa saja, dan rasa kebersamaannya juga nggak sehangat dulu. Inilah yang bikin bulan puasa saya jadi terasa nggak lagi spesial.

Nggak ada lagi agenda mbakso sekeluarga setelah tarawih

Di lingkup yang lebih kecil, tepatnya di keluarga inti, ada “tradisi-tradisi” yang juga sudah nggak hidup semenjak ayah meninggal. Salah satu “tradisi” di keluarga saya adalah mbakso atau pergi makan bakso sekeluarga setelah tarawih.

Baca Juga:

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

Sejak saya kecil sampai bulan puasa terakhir sebelum ayah meninggal, kebiasaan mbakso ini sudah berjalan terus, dan selalu kami lakukan minimal seminggu sekali ketika bulan puasa. Jadi, setelah tarawih, kami berempat (saya, ayah, ibu, dan adik) langsung pergi ke warung bakso langganan kami, namanya Bakso Arief, yang letaknya nggak terlalu jauh dari rumah. Pesanan saya selalu sama: semangkuk bakso dengan isi pentol besar, dan sebotol fruit tea.

Akan tetapi, setelah ayah meninggal, tradisi itu sudah nggak bisa saya lakukan lagi. Seakan tradisi itu mati bersamaan dengan meninggalnya ayah. Sebenarnya saya bisa saja melanjutkan tradisi itu, dengan mengajak ibu dan adik, tapi entah mengapa ada perasaan janggal ketika saya pengin menghidupkannya lagi. Kayak aneh aja gitu. Dan, kalaupun terjadi, bakal jadi momen yang berat, sedih, dan penuh haru. Makanya, saya biarkan saja tradisi itu mati.

Tanpa ayah dan nenek, Lebaran juga jadi momen yang biasa saja, momen yang kurang spesial

Setelah ayah dan nenek meninggal, nggak hanya bulan puasa yang jadi biasa saja. Lebaran juga jadi momen yang juga biasa saja, momen yang kehilangan magis dan spesialnya dalam hidup saya. “Berkumpul merayakan lebaran tapi dengan keluarga yang sudah nggak lengkap ya buat apa?” Begitu batin saya.

Maksudnya begini. Ketika momen Lebaran, selain kumpul dengan keluarga, saya selalu menunggu seenggaknya dua hal: masakan nenek, dan sungkeman dengan ayah dan nenek. Setelah mereka berdua meninggal, saya jadi kehilangan keduanya. Saya jadi nggak bisa merasakan masakan nenek, dan nggak bisa sungkeman ke nenek serta ayah. Saya hanya sungkeman ke ibu, dan itu pun rasanya kayak kurang lengkap. Rasanya kayak aneh aja gitu, meskipun kalau lebaran, kami ngumpulnya ya di rumah nenek yang sekarang jadi rumah induk keluarga besar.

Menjalani puasa dan lebaran tanpa orang-orang tersayang memang nggak bisa dibilang mudah. Di balik kemeriahan dan kehangatan bulan puasa dan lebaran, ada terselip perasaan ganjil, perasaan aneh, perasaan yang sedih. Tapi saya juga nggak bisa ngapa-ngapain. Saya nggak bisa protes juga, cuma bisa menerima dan menjalani semuanya dengan perasaan yang legowo. Saya cuma bisa mencoba untuk tetap kuat.

Tentunya saya bukan satu-satunya yang merasakan hal ini. Di luar sana, ada banyak yang merasakan hal serupa, bahkan lebih parah, lebih dalam dari yang saya alami. Dan di bulan puasa tahun ini, saya, dan orang-orang lain yang senasib, mau nggak mau harus menjalani momen ini lagi, mengulangi perasaan semacam ini lagi. Aneh? Tentu. Berat? Jelas. Tapi ya nggak ada pilihan lain selain tetap menjalaninya. 

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2026 oleh

Tags: bukaBuka BersamaBukberBulan PuasaIdulfitriKeluargaLebaranPuasatarawih
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

orang minang gegar budaya culture shock minangkabau mojok

5 Hal Baru yang Saya Temukan setelah Menikah dengan Orang Minang

26 Juli 2021

5 Hal yang Bikin Saya Nggak Jadi Batalkan Puasa Ramadan Saat Kecil. #TakjilanTerminal45

9 Mei 2021
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru

19 Mei 2020
ucapan idul fitri lebaran MOJOK.CO

Ucapan Idul Fitri Tak Perlu Bertele-tele, Kamu Nggak Lagi Bikin Naskah Pidato MLM

23 Mei 2020
5 Tanda Lebaran Sudah Dekat di Cikarang Terminal Mojok

5 Tanda Lebaran Sudah Dekat di Cikarang

26 April 2022
Membela Orang-orang yang Menyewa iPhone ketika Lebaran Mojok.co

Membela Orang-orang yang Menyewa iPhone ketika Lebaran

1 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Tetangga, Tolong Kendalikan Hewan Peliharaan Anda! (Unsplash)

Tetangga yang Nggak Niat Mengurus Hewan Peliharaan Wujud Kehidupan Tanpa Adab: Kalau Nggak Niat Pelihara, Mending Nggak Usah

24 Maret 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

27 Maret 2026
ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

25 Maret 2026
Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

24 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan
  • WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal
  • Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi
  • Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja Muka Dua
  • Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan
  • Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.