Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

PSG Memang Tidak Ditakdirkan untuk Juara UCL

Bintang Ramadhana Andyanto oleh Bintang Ramadhana Andyanto
9 Maret 2023
A A
Leonardo PSG FIFA PES gim sepak bola Lionel Messi Mojok

PSG FIFA PES gim sepak bola Messi Mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali”

Potongan lirik lagu dari band Noah itu tampaknya sangat cocok untuk menggambarkan nasib Paris Saint-Germain sekarang. Lagi dan lagi, klub asal Paris itu harus terpongkeng di UEFA Champions League. Pada laga yang berlangsung dini hari tadi, Leo Messi dkk. mesti rela dipecundangi Bayern Munich dengan skor 2-0, atau 3-0 secara agregat. Kekalahan itu otomatis membuat impian mereka untuk merengkuh Si Kuping Besar harus kembali kandas.

Setelah pertandingan usai, satu hal yang seketika terpikir adalah PSG sepertinya memang tidak ditakdirkan untuk juara UCL.

Ya, tak peduli seberapa banyak uang yang mereka kucurkan untuk merekrut pemain bintang; tak peduli seberapa sering mereka bergonta-ganti pelatih, hasil akhirnya selalu sama: PSG selalu tumbang di UCL. Musim ini oleh Bayern Munich. Sebelumnya oleh Real Madrid. Lalu sebelumnya lagi oleh Manchester City. Dan masih banyak momen-momen eliminasi menyakitkan lainnya di musim-musim sebelumnya.

Di Champions League, nasib tim yang bermarkas di Stade de France itu tak berbeda jauh dengan Barcelona. Di kompetisi domestik, mereka boleh tampil begitu superior. Namun, ketika mereka mesti berhadapan dengan klub-klub tangguh dari negara lain, segala kehebatan itu seketika sirna.

Dalam kasus PSG, saya dapat mengidentifikasi beberapa faktor yang membuat mereka terus bernasib nahas di UCL. Beberapa faktor ini, jika tak kunjung dibenahi, akan selalu menjadi batu sandungan mereka dalam meraih kejayaan di kompetisi tersebut. Jadi, apa sajakah faktor-faktor yang saya maksud?

Skuad mahal tak selalu berdampak baik

Dalam sekitar satu dekade terakhir, PSG selalu menjadi salah satu tim dengan skuad terbaik di dunia. Hal itu tentu tak lepas dari faktor “uang Arab” yang mereka dapatkan dari sang pemilik klub. Dengan kucuran dana yang seperti tak ada batasnya itu, mereka dapat memboyong deretan pemain bintang yang diharapkan dapat memberikan banyak prestasi bagi klub. Namun, apakah iya seperti itu?

Seperti yang tadi saya katakan, di liga domestik, PSG memang mampu tampil digdaya. Akan tetapi, ketika tiba saatnya berkompetisi di UCL, uang dan kumpulan superstar saja tidak cukup untuk membuat mereka menjadi kampiun. Tak peduli mau lini depan mereka dihuni oleh Messi, Kylian Mbappe, dan Neymar Jr., cita-cita untuk mengangkat trofi UCL masih saja belum dapat direalisasikan.

Baca Juga:

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

Cacat logika menuduh fans timnas Argentina sama dengan mendukung zionis

Lagi pula, skuad mahal memang justru dapat menjadi bumerang tersendiri. Para pemain bintang selalu ingin menjadi bintang; mereka ingin selalu menjadi pusat perhatian dibandingkan penggawa-penggawa lainnya. Maka dari itu, tak usah heran jika melihat performa PSG dalam beberapa musim terakhir seperti tidak begitu kompak; seperti klub yang diisi oleh sebelas pemain bergaji selangit, tetapi terlihat ogah-ogahan untuk bekerja sama sebagai tim.

UCL yang amat kejam

Jika hanya mengandalkan keahlian individu saja, hal itu takkan cukup untuk membuat sebuah tim keluar sebagai juara dari kompetisi sekaliber UCL. Dan itulah yang selalu terjadi pada PSG, bukan?

Selain itu, saya juga selalu memandang Champions League sebagai sebuah ajang yang kejam. Di sana, tim terbaik belum otomatis akan keluar sebagai pemenang. Begitu pun tim dengan skuad paling mewah. Tanpa adanya keberuntungan, langkah mereka akan selalu terhenti sebelum sampai di puncak. Terkadang, tim yang memenangi UCL adalah tim yang paling beruntung, bukan tim yang paling superior dan mempertontonkan sepak bola ciamik.

Atau, sehebat apa pun permainanmu, sejago apa pemainmu, ujung-ujungnya Real Madrid yang jadi juara.

Sekali lagi, UCL adalah kompetisi penuh kekejaman, penuh hasil yang tak adil. Dan menurut saya, Paris Saint-Germain merupakan salah satu tim yang paling sering merasakan kekejaman dan ketidakadilan itu.

Pelatih yang tidak tahu cara mempersatukan bintang

Di musim ini, jabatan juru taktik PSG dipegang oleh Christophe Galtier, pelatih yang sebelumnya sukses membuat Lille menjadi juara Ligue I musim 2020/2021. Prestasi itu lantas membuat manajemen PSG kepincut dengan sang pelatih, lantas memutuskan untuk merekrutnya guna menukangi tim yang identik dengan warna biru itu.

Ketika di Lille, Galtier terbiasa memberikan instruksi kepada pemain-pemain yang statusnya bukanlah superstar. Oleh sebab itu, para penggawa tersebut otomatis cenderung akan mudah untuk diatur dan lebih “nurut” dengan kehendak sang pelatih. Namun, di PSG, yang terjadi adalah suatu hal yang sangat berbeda. Pria 56 tahun itu mesti memberikan arahan kepada Neymar, Mbappe, Messi, Marco Verratti, Sergio Ramos, dan nama-nama besar lainnya. Ketahuilah, bukan tugas yang mudah untuk dapat mempersatukan mereka semua agar mau “nurut”.

Bagi saya, hal ini menjadi salah satu faktor tersendiri mengapa Galtier belum bisa membuat PSG-nya tampil seimpresif Lille di era kepelatihannya. Di satu sisi, ia memang dibekali dengan skuad menawan dan para pemain yang “sudah jago dari sononya”. Namun, di sisi lain, para pemain tersebut barang tentu menyadari bahwa mereka sudah jago, sehingga mungkin akan lebih bandel untuk mau menuruti segala macam perintah ribet yang diberikan.

Andai saja Galtier mampu mempersatukan mereka, saya yakin hasilnya akan seperti yang diraih oleh Zinedine Zidane dan Carlo Ancelotti di Real Madrid. Dengan bimbingan yang tepat, sebuah skuad yang dihuni oleh banyak superstar pasti akan menjelma tim tangguh yang sulit dikalahkan. Tengok saja El Real yang mampu meraih banyak prestasi bergengsi selama dilatih oleh dua manajer tersebut. Apa rahasia di balik kejayaan tersebut? Ya, apa lagi kalau bukan kepiawaian sang pelatih dalam mempersatukan bintang-bintangnya. Saya rasa, kemampuan itu masih belum dimiliki oleh Christophe Galtier saat ini.

PSG memang tidak sehebat itu

Faktor terakhir yang saya pikir menjadi alasan mengapa Paris Saint-Germain selalu bernasib apes di UCL adalah kenyataan bahwa PSG memang tidak sehebat itu. Kasus ini kurang lebih sama seperti ungkapan “Di atas langit masih ada langit”. Dengan kata lain, PSG memang tim hebat, tetapi masih banyak tim yang lebih hebat lagi di atas mereka. Entah itu Real Madrid, Manchester City, ataupun Bayern Munich yang baru saja membuktikannya beberapa jam lalu.

Jika inilah yang sesungguhnya terjadi, kekalahan PSG di UCL haruslah diterima dengan lapang dada. Akui saja fakta bahwa masih ada klub lain yang performanya lebih baik, taktiknya lebih ciamik, dan permainannya lebih efektif. Maka dari itu, yang perlu PSG lakukan adalah berbenah; meningkatkan kualitas tim agar bisa menjadi lebih baik lagi agar kelak bisa menjadi kampiun di UCL.

Namun, itu masih kelak, loh, ya. Untuk sekarang, saya masih percaya pada perkataan saya di awal: “PSG sepertinya memang tidak ditakdirkan untuk juara UCL”.

Jadi, untuk setiap fans PSG, yang sabar, ya. Jangan lupa makan, nanti sakit, loh. Hehehe.

Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Leonardo, Pelawak Arogan dari Paris

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2023 oleh

Tags: christophe galtiermbappemessipsgUCL
Bintang Ramadhana Andyanto

Bintang Ramadhana Andyanto

Anak negeri. Tukang ngopi. Pakar senjalogi.

ArtikelTerkait

Chelsea vs Real Madrid Perempat Final UCL: Pertarungan Dua Tim yang Terluka

Chelsea vs Real Madrid Perempat Final UCL: Pertarungan Dua Tim yang Terluka

5 April 2022
ansu fati barcelona bangkrut fcb femeni la masia arthur melo barcelona pjanic juventus MOJOK

Sampai Kapan Jadi Menyedihkan seperti Ini, Barcelona?

18 September 2021
Nuduh semua fans Argentina pendukung zionis itu memang tolol (Unsplash)

Cacat logika menuduh fans timnas Argentina sama dengan mendukung zionis

12 Juli 2026
Fly Valverde, Fly!

Fly Valverde, Fly!

22 September 2022
nasser al khelaifi psg tenis mojok

Menilik Jabatan Nasser Al-Khelaifi, Penguasa Transfer Musim Panas Tahun Ini

22 Agustus 2021
Bayern Munchen Memakukan Paku Terakhir di ‘Peti Mati’ Barcelona 8-2! MOJOK.CO

Bayern Munchen vs PSG: Efektivitas Taktik Pochettino dan Buruknya Finishing Bayern

8 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

1 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.