Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pokoknya Belum Kaffah Kalau Belum Ada Link-nya

Yusuf Abdhul Azis oleh Yusuf Abdhul Azis
18 Oktober 2019
A A
kaffah

kaffah

Share on FacebookShare on Twitter

Fenomena akhir-akhir ini adalah semua terkait bahkan terikat oleh dunia maya baik melalui media sosial atau situs berita. Semua yang tersebar menjadi suatu kebenaran yang akan mengalahkan kebenaran yang ada. Era post-truth memang bisa menjengkelkan bagi yang sudah tahu.

Penggunaan kata kaffah di sini bukan berarti kita akan membahas soal agama saja lho yhaaa. Akan tetapi ini berkaitan dengan fenomena akhir-akhir ini di mana orang makin seenaknya sendiri bebas mengemukakan pendapat bahkan menilai di dunia maya. Seakan tak ada satu aturan dan tembok yang membatasi.

Kemarin sore, di waktu luang setelah seharian sekolah aku tak sengaja membuka Twitter hanya untuk sekadar melihat apa yang sedang trending hari ini. Ketika scrolling beranda munculah Twitter dari Mbak Kalis Mardiasih seperti berikut.

Penjelasan Gus Baha' soal jilbab asik banget. 🤗🤗🤗

— Kalis Mardiasih (@mardiasih) October 14, 2019

Siapa sih yang nggak tahu Mbak Kalis. Penulis di Mojok yang pokoknya ya gitu deh ciamik tak terkira hehe. Nah setelah beberapa saat aku membuka reply dari cuitan ini. Banyak tanggapan yang terlontar dari netizen budiman. 

Di youtube ada mbak?

Tolong share link-nya dong mbak (kalo ada)

Contoh twit belum kaffah, link dong

Baca Juga:

Netizen Indonesia Memang Paling Nggak Sopan, di Tengah Kabar Duka Masih Ada yang Bacot Ngeributin Agama Kiki Fatmala

Laporan Microsoft DCI Keliru, Netizen Indonesia Itu Cuma Baperan kok

Tanggapan diatas membuat aku sedikit berfikir, apakah iya sih semuanya harus melulu berkutat dengan link? Hal inilah yang mungkin banyak dimanfaatkan oleh para buzzer dan creator YouTube dalam membuat konten. Maksudnya cari sendiri bisa kali yhaaa~

Kebanyakan orang mudah percaya dengan hal-hal yang beredar di dunia maya—bahkan tanpa kroscek terlebih dahulu. Hal ini mengakibatkan yang benar menjadi seakan salah dan yang salah menjadi seakan benar. Abu-abu. Inilah yang kemudian menjadi rujukan menjadi sangat perlu adanya. Tentu hal ini bukan melulu soal link. Namun di era digital ini rujukan berupa link multimedia menjadi sangat terpercaya adanya.

Kelemahan yang seringkali terjadi (semoga aku saja yang mengalami dan melakukan) adalah tidak menelusur siapa sih yang menulis artikel yang dirujuk itu? Rujukan tersebut apakah benar-benar valid dan bisa dipertanggungjawabkan? Salah satu contoh yang fatal adalah penggunaan rujukan dengan blog yang tidak cukup kredibel. Bahkan blog anonim di mana si penulis tidak mencantumkan alamat atau kontak sehingga kita tak tahu siapa sebenarnya si penulis ini.

Minggu ini juga viral di media sosial mengenai sebuah draft skripsi seorang mahasiswa yang dikoreksi oleh seorang dosen pembimbing. Hal yang membuat ramai adalah tulisan “SAMPAH” dan beberapa revisi yang ditulis banyak di laporan tersebut. Setelah diunggah di dunia maya terutama di Twitter, sangat viral dan di-RT sampai ribuan kali.

Keanehan yang terjadi pada kasus ini adalah banyaknya orang yang mengolok-olok dan cenderung menghina kepada skripsi yang ada, bahkan tanpa mengetahui isinya. Di postingan tersebut sang penyebar juga tidak menuliskan mengapa kok bisa dicoret-coret dan ditulis dengan komentar “sampah” itu tadi. Nah hal ini bagi sebagian orang menjadi lahan empuk untuk segala macam komentar. Kebebasan berpendapat mungkin yhaaa~

Ya, mungkin karena netizen maha benar sehingga bebas untuk menilai dengan apa yang dipikirkan. Bahkan tidak meminta klarifikasi kepada yang menulis skripsi tersebut sebenarnya apa yang menjadi kekurangannya. Kalau dosennya nggak baik, nggak mungkin menulis apa yang direvisi sebanyak itu? Gitu juga ada yang protes, “ya itu tugas dosen”. Hmm

Akhirnya dosen yang membimbing memberikan klarifikasi terkait postingan yang viral ini yang intinya bahwa netizen ini tidak tahu apa-apa mengenai isinya, baca pun tidak. Tetapi hanya melihat dua foto saja sudah menilai seenak jidat.

Memang kadang ingin kembali ke jaman dahulu saja. Di saat semuanya belum serumit ini. Di saat zaman semakin modern justru ditemukan semakin hilangnya sinkronisasi antara adab dan ilmu. Bukankah sebagai manusia kita harus kaffah dalam hidup? Tapi melalui sebuah link (informasi) saja kita bisa menyalahkan orang yang bahkan kita tidak pernah ketemu sama sekali dan kita belum tahu pribadinya. Nyinyir sana sini. Sangat aneh rasanya jika ada orang yang sukanya menilai dan menuduh orang yang  nggak dikenal sama sekali. Lucu kan!

Jangan sampai dunia digital mengaburkan kebenaran yang haq supaya semuanya selamat dalam berkehidupan. Perkembangan teknologi ada menuntut manusia untuk selalu belajar dan beradaptasi. Jangan lupa untuk belajar pada sumber yang kredibel dan tidak mudah terhasut hanya dengan postingan di Twitter apalagi sekedar broadcast di grup WhatsApp. Duh! (*)

BACA JUGA Wejangan Hidup Ala Kirana Larasati yang Patut Ditiru Oleh Netizen atau tulisan Yusuf Abdhul Azis lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2019 oleh

Tags: beragamaera post-truthkaffahlinkMaha Benar Netizen
Yusuf Abdhul Azis

Yusuf Abdhul Azis

ArtikelTerkait

Netizen Indonesia Memang Paling Nggak Sopan, di Tengah Kabar Duka Masih Ada yang Bacot Ngeributin Agama Kiki Fatmala

Netizen Indonesia Memang Paling Nggak Sopan, di Tengah Kabar Duka Masih Ada yang Bacot Ngeributin Agama Kiki Fatmala

2 Desember 2023
ngatur-ngatur tuhan ritual agam islam mojok.co

Jangan Kira Aktivitas Agama Hanya Seputar Ritual Syariat

11 September 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois

17 Mei 2020
kebebasan berpendapat

Maha Benar Netizen: Kebebasan atau Kebablasan Berpendapat?

18 Oktober 2019
Laporan Microsoft DCI Keliru, Netizen Indonesia Itu Cuma Baperan kok terminal mojok.co

Laporan Microsoft DCI Keliru, Netizen Indonesia Itu Cuma Baperan kok

28 Februari 2021
intoleransi

Intoleransi dan Betapa Ngerinya Ujaran Kebencian

3 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.