Pokoknya Belum Kaffah Kalau Belum Ada Link-nya

Banyak tanggapan yang terlontar dari netizen budiman. Di youtube ada mbak? Tolong share link-nya dong mbak (kalo ada). Contoh twit belum kaffah, link dong.

Artikel

Yusuf Abdhul Azis

Fenomena akhir-akhir ini adalah semua terkait bahkan terikat oleh dunia maya baik melalui media sosial atau situs berita. Semua yang tersebar menjadi suatu kebenaran yang akan mengalahkan kebenaran yang ada. Era post-truth memang bisa menjengkelkan bagi yang sudah tahu.

Penggunaan kata kaffah di sini bukan berarti kita akan membahas soal agama saja lho yhaaa. Akan tetapi ini berkaitan dengan fenomena akhir-akhir ini di mana orang makin seenaknya sendiri bebas mengemukakan pendapat bahkan menilai di dunia maya. Seakan tak ada satu aturan dan tembok yang membatasi.

Kemarin sore, di waktu luang setelah seharian sekolah aku tak sengaja membuka Twitter hanya untuk sekadar melihat apa yang sedang trending hari ini. Ketika scrolling beranda munculah Twitter dari Mbak Kalis Mardiasih seperti berikut.

Siapa sih yang nggak tahu Mbak Kalis. Penulis di Mojok yang pokoknya ya gitu deh ciamik tak terkira hehe. Nah setelah beberapa saat aku membuka reply dari cuitan ini. Banyak tanggapan yang terlontar dari netizen budiman. 

Di youtube ada mbak?

Tolong share link-nya dong mbak (kalo ada)

Contoh twit belum kaffah, link dong

Tanggapan diatas membuat aku sedikit berfikir, apakah iya sih semuanya harus melulu berkutat dengan link? Hal inilah yang mungkin banyak dimanfaatkan oleh para buzzer dan creator YouTube dalam membuat konten. Maksudnya cari sendiri bisa kali yhaaa~

Kebanyakan orang mudah percaya dengan hal-hal yang beredar di dunia maya—bahkan tanpa kroscek terlebih dahulu. Hal ini mengakibatkan yang benar menjadi seakan salah dan yang salah menjadi seakan benar. Abu-abu. Inilah yang kemudian menjadi rujukan menjadi sangat perlu adanya. Tentu hal ini bukan melulu soal link. Namun di era digital ini rujukan berupa link multimedia menjadi sangat terpercaya adanya.

Baca Juga:  Ngobrolin Feminisme di Tengah Gelombang Penolakannya

Kelemahan yang seringkali terjadi (semoga aku saja yang mengalami dan melakukan) adalah tidak menelusur siapa sih yang menulis artikel yang dirujuk itu? Rujukan tersebut apakah benar-benar valid dan bisa dipertanggungjawabkan? Salah satu contoh yang fatal adalah penggunaan rujukan dengan blog yang tidak cukup kredibel. Bahkan blog anonim di mana si penulis tidak mencantumkan alamat atau kontak sehingga kita tak tahu siapa sebenarnya si penulis ini.

Minggu ini juga viral di media sosial mengenai sebuah draft skripsi seorang mahasiswa yang dikoreksi oleh seorang dosen pembimbing. Hal yang membuat ramai adalah tulisan “SAMPAH” dan beberapa revisi yang ditulis banyak di laporan tersebut. Setelah diunggah di dunia maya terutama di Twitter, sangat viral dan di-RT sampai ribuan kali.

Keanehan yang terjadi pada kasus ini adalah banyaknya orang yang mengolok-olok dan cenderung menghina kepada skripsi yang ada, bahkan tanpa mengetahui isinya. Di postingan tersebut sang penyebar juga tidak menuliskan mengapa kok bisa dicoret-coret dan ditulis dengan komentar “sampah” itu tadi. Nah hal ini bagi sebagian orang menjadi lahan empuk untuk segala macam komentar. Kebebasan berpendapat mungkin yhaaa~

Ya, mungkin karena netizen maha benar sehingga bebas untuk menilai dengan apa yang dipikirkan. Bahkan tidak meminta klarifikasi kepada yang menulis skripsi tersebut sebenarnya apa yang menjadi kekurangannya. Kalau dosennya nggak baik, nggak mungkin menulis apa yang direvisi sebanyak itu? Gitu juga ada yang protes, “ya itu tugas dosen”. Hmm

Akhirnya dosen yang membimbing memberikan klarifikasi terkait postingan yang viral ini yang intinya bahwa netizen ini tidak tahu apa-apa mengenai isinya, baca pun tidak. Tetapi hanya melihat dua foto saja sudah menilai seenak jidat.

Baca Juga:  Atta Halilintar dan Fenomena Narsisme Kolektif Anak Twitter

Memang kadang ingin kembali ke jaman dahulu saja. Di saat semuanya belum serumit ini. Di saat zaman semakin modern justru ditemukan semakin hilangnya sinkronisasi antara adab dan ilmu. Bukankah sebagai manusia kita harus kaffah dalam hidup? Tapi melalui sebuah link (informasi) saja kita bisa menyalahkan orang yang bahkan kita tidak pernah ketemu sama sekali dan kita belum tahu pribadinya. Nyinyir sana sini. Sangat aneh rasanya jika ada orang yang sukanya menilai dan menuduh orang yang  nggak dikenal sama sekali. Lucu kan!

Jangan sampai dunia digital mengaburkan kebenaran yang haq supaya semuanya selamat dalam berkehidupan. Perkembangan teknologi ada menuntut manusia untuk selalu belajar dan beradaptasi. Jangan lupa untuk belajar pada sumber yang kredibel dan tidak mudah terhasut hanya dengan postingan di Twitter apalagi sekedar broadcast di grup WhatsApp. Duh! (*)

BACA JUGA Wejangan Hidup Ala Kirana Larasati yang Patut Ditiru Oleh Netizen atau tulisan Yusuf Abdhul Azis lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
247 kali dilihat

2

Komentar

Comments are closed.