Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

PMM Memang Bikin Guru Pintar, tapi sekaligus Bikin Siswa Bodoh karena Terlalu Sering Diabaikan

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
20 Januari 2024
A A
PMM Memang Bikin Guru Pintar, tapi sekaligus Bikin Siswa Bodoh karena Terlalu Sering Diabaikan

PMM Memang Bikin Guru Pintar, tapi sekaligus Bikin Siswa Bodoh karena Terlalu Sering Diabaikan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sepakat dengan tulisan Mas Hammam di Mojok tentang manfaat besar PMM untuk guru, karena di dalamnya berisi banyak materi dan ilmu tentang Kurikulum Merdeka. Namun, ketika platform PMM dijadikan tuntutan wajib untuk semua guru, saya justru melihat ironi baru dari hadirnya Kurikulum Merdeka.

Kebetulan hari ini ada pelatihan pengisian PMM secara serentak di sekolah tempat saya mengajar. Lagi-lagi, agenda Kurikulum Merdeka memangkas waktu guru mengajar, hampir seharian. Malahan, hari ini nyaris semua kelas jam kosong, karena gurunya sibuk ngurus PMM.

Menjadi semakin ironis ketika proses pelatihan berlangsung, sembarang keluhan keluar dari mulut para guru, “Duhh kapan ngajarnya kalau terus dituntut ini dan itu”, “Ganti menteri, nanti ganti kebijakan lagi, guru lagi yang jadi percobaan dan korbannya”, “Dulu E-Kinerja, E-Kinerja belum selesai, sekarang sudah ganti PMM”. Keluh para guru. Sungguh kurikulum yang problematis.

PMM menyeret guru agar seperti dosen

PMM merupakan singkatan dari Platform Merdeka Mengajar. Tak seperti namanya, saya melihat platform ini justru dijadikan alat kontrol oleh Kementerian Pendidikan. Pasalnya, Mas Menteri menargetkan setiap guru untuk dapat tuntas minimal 32 poin perencanaan kegiatannya dalam 1 semester mengajar. Kontrol, kan?

Selain itu, tuntutan-tuntutan yang diberikan pun di luar aktivitas mengajar di kelas. Misalnya guru dituntut ikut seminar, mengadakan seminar, dan mengikuti berbagai pelatihan di luar sekolah. Saya curiga, kalau guru ingin disamakan dengan dosen yang dituntut melakukan banyak hal di luar aktivitas mengajarnya.

Kalau kecurigaan saya benar, maka saya hanya ingin bilang ke para ahli di Kementerian Pendidikan bahwa guru dan dosen memang sama-sama pendidik, tapi sasaran manusia yang dididik jauh berbeda. Kalau dosen, yang dididik adalah mahasiswa. Mahasiswa dianggap sebagai orang yang sudah dewasa. Sehingga secara teori belajar, mahasiswa dapat diberi pendekatan pembelajaran orang dewasa. Artinya, mahasiswa bisa saja sering ditinggal dan diberi tugas mandiri, kendati pun penjelasan dari tugasnya tidak terlalu detail.

Sedangkan siswa berbeda dengan mahasiswa. Siswa perlu penjelasan satu per satu secara detail dan konkret. Siswa perlu perlu ketelatenan seorang guru. Itu pengalaman saya mengajar siswa SMA. Apalagi dengan siswa SMP dan SD.

Apa mungkin para ahli pembuat Kurikulum Merdeka ini nggak pernah turun gunung untuk mengajar siswa ya? Kalau belum, cobain dulu, Pak/Bu. Jangan ujuk-ujuk bikin program dan aturan saja. Apalagi hanya berdasarkan pada instruksi menteri yang nggak pernah jadi guru.

Baca Juga:

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Tolong, Jadi Pengajar Jangan Curhat Oversharing ke Murid atau Mahasiswa, Kami Cuma Mau Belajar

Murid terbengkalai

Secara tegas saya bisa bilang kalau PMM ini memang bikin guru pintar, tapi bikin siswa bodoh karena sering diabaikan. Misalnya, gurunya sibuk ikut seminar dan pelatihan di waktu yang seharusnya KBM berlangsung, maka siswanya sudah pasti jam kosong. Semakin banyak guru yang ikut program PMM, semakin banyak kelas yang kosong tanpa proses belajar. Semakin sering jam kosong, semakin jadi apa siswa-siswi generasi bangsa kita?

Benar bahwa siswa perlu diajarkan belajar mandiri. Tapi apakah dibiarkan mandiri tanpa bimbingan guru? Saya rasa tidak demikian. Belajar mandiri yang dimaksud harusnya dalam bimbingan intensif guru. Artinya, guru harus terus berada di kelas sebagai fasilitator aktif.

Menurut saya, belajar mandiri yang ideal itu begini. Siswa diberi instruksi untuk mempelajari suatu materi. Biarkan saja mereka menelusuri dan mempelajarinya secara mandiri tanpa diberi ceramah. Pasti di tengah mereka belajar ada kesulitan yang ditemukan. Ketika menghadapi kesulitan itu, mereka mencari guru untuk bertanya dan berdiskusi. Maka terjadilah pembelajaran interaktif.

Bukan malah ngasih tugas ke siswa, siswanya mengerjakan mandiri, lalu gurunya lari ngerjain PMM. Yaaa ambyar. Kalau ketika di tengah mengerjakan mereka menemukan kesulitan, harus tanya ke siapa? Google? Kalau gitu, mending profesi guru dihapuskan saja sekalian.

Ingat! Tugas utama guru itu dekat dengan siswa, sehingga memahami siswanya dengan baik dalam belajar. Dengan kata lain, guru harus lebih sering bertemu siswa. Bukan malah ruwet dengan beban birokrasi yang aneh-aneh dari atas itu.

PMM bukan bikin guru belajar ilmu, tapi malah obsesi mengejar poin

Parahnya lagi, PMM ini juga terkesan tidak berniat mengajarkan ilmu dengan tulus. Buktinya, ada poin-poin yang harus dipenuhi. Jadinya para guru hanya sibuk memburu poin. Bukan memburu ilmunya. Mengapa demikian? Sebab, energi guru sudah habis mendidik siswa.

Kalau para ahli kurikulum merdeka belum pernah ngajar, cobain dulu deh ngajar siswa SMA seminggu penuh saja. Kira-kira masih kuat kah mengejar tuntutan-tuntutan PMM tanpa kecurangan. Saya yakin tidak.

Dari sini, saya menilai kok ya Kurikulum Merdeka dan platformnya justru semakin menekan guru dengan tuntutan ini dan itu. Semakin menjauhkan kata merdeka bagi para guru. Merdekanya di mana ini, Mas Menteri?

PMM jualan sertifikat

Sejak PMM mulai menarget poin untuk guru dan mengusik status kepegawaian ASN, maka sejak itu pula sertifikat-sertifikat pelatihan online itu laku keras. Saya yakin bahwa penyelenggara webinar dan pelatihan online itu sadar kalau pesertanya hanya mengejar sertifikat. Sehingga, diberi tarif tanpa tugas yang berat. Hasilnya, ilmu baru nggak dapat, uang malah habis untuk ikut pelatihan.

Kalau pun ada pelatihan dan webinar yang gratis dari PMM-nya, saya yakin sebagian besar guru yang ikut tidak benar-benar menyimak. Lagi-lagi mereka letih setelah mengajar. Atau, mereka sedang sibuk mengajar siswanya di kelas.

Guru Indonesia itu perlu baca buku, bukan pelatihan mengajar dan platform-platform administrasi baru

Saya yakin bahwa PMM ini adalah bagian dari upaya kementerian untuk meningkatkan kualitas guru. Tapi menurut saya PMM yang sekarang ini nggak solutif blas. Justru malah terkesan memperkeruh suasana hati guru.

Kalau saya ditanya, apa yang dibutuhkan guru agar bisa meningkatkan kompetensinya? Sebagai guru muda, saya dengan tegas menjawab BUKU. Buku bacaan ya. Bukan buku paket. Kalau buku paket, saya yakin para guru sudah khatam berkali-kali.

Saran saya, PMM dialokasikan jadi platform yang menyediakan buku bacaan saja. Buku bacaan yang beragam tentang segala hal ya. Nggak melulu soal cara mengajar. PMM perlu menyediakan novel, sastra, cerpen, dan kumpulan puisi karya penulis-penulis kondang.

Modul-modul mengajar tetap perlu, tapi jangan terlalu banyak. Perbanyak buku bacaan dari penerbit-penerbit besar di Indonesia yang sudah jelas reputasinya, seperti Gramedia, Mizan, Cantrik, Basabasi, Pustaka Pelajar, Bukune, Buku Mojok, dan sejenisnya. Jadi guru bisa lebih terbuka dengan informasi yang akurat. Sebab kalau dilihat-lihat, SDM guru rendah bukan karena kurang pelatihan, tapi kurang bacaan.

Menurut saya, rendahnya kualitas guru bukan karena keterampilannya dalam mengajar, tapi mindsetnya dalam berpikir. Maka dari itu, solusinya bukan pelatihan, tapi buku bacaan yang beragam dan berkualitas untuk menghasilkan guru berkualitas.

Untuk membacanya, para guru bisa dipancing dengan pemberian reward bagi guru yang rajin membaca. Ukuran penilaiannya bisa video review hasil bacaan. Kalau yang belum membaca, yaa diberi motivasi dan arahan. Jangan dipaksa-paksa dan ditekan. Tugas guru sudah banyak dan berat, Pak/Bu. Biarkan guru eksplore dirinya sendiri untuk bertumbuh dari membaca buku. Sekian.

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Meratapi Ironi Kurikulum Merdeka: Siswa Belajar Mandiri, Guru Sibuk Sendiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2024 oleh

Tags: guruKBMKurikulum MerdekaPMMSiswa
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

3 Kenakalan Siswa Madrasah, Siswa Non-Madrasah Can't Relate Terminal Mojok

3 Kenakalan Siswa Madrasah, Siswa Non-Madrasah Can’t Relate

1 November 2022
PTM sekolah tatap muka mojok

Mengapa sih Kita Tergila-gila Sekali dengan Sekolah Tatap Muka?

21 September 2021
Guru Swasta Menderita, Harus Serba Bisa tapi Gaji Bercanda (Unsplash) kabupaten bandung barat

Penderitaan Guru Swasta, yang Selalu Dituntut Serba Bisa, tapi Gajinya Sangat Bercanda

23 Januari 2024
Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang sekolah swasta

5 Skill Dasar yang Seharusnya Dikuasai Guru, tapi Kurang Diajarkan di Jurusan Pendidikan

15 Agustus 2024
apakah guru les lebih baik daripada guru sekolah mojok.co

Pandangan Guru Les yang Dicurhati Murid bahwa Guru Sekolahnya Nggak Asyik

22 Agustus 2020
4 Hal Salah Kaprah tentang UNNES yang Bikin Geleng-geleng

4 Hal Salah Kaprah tentang UNNES yang Bikin Geleng-geleng

21 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.