Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Acara TV

Plus Minus Acara Jejak Si Gundul buat Pemula yang Lagi Belajar Masak

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
20 Agustus 2021
A A
Plus Minus Acara Jejak Si Gundul buat Pemula yang Lagi Belajar Masak terminal mojok.co

Plus Minus Acara Jejak Si Gundul buat Pemula yang Lagi Belajar Masak terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ada berbagai cara yang bisa ditempuh oleh siapa pun yang pengin mengasah kemampuan mengolah makanan. Cara yang paling mudah adalah dengan berguru kepada ahlinya langsung, yaitu ibu atau nenek. Ada pula opsi lain, yaitu dengan nonton video masak di YouTube, memperhatikan tetangga waktu lagi rewang, ngikutin resep di Cookpad, hingga nonton acara TV.

Acara TV yang saya maksud ini nggak hanya terbatas pada acara masak-masak yang dipandu oleh seorang koki handal yang lulusan luar negeri dan pengalamannya ngeri-ngeri. Acara TV yang disangka nggak ada sangkut pautnya dengan masak pun bisa kita tonton, salah satunya Jejak Si Gundul.

Seperti kata Mas Imron Amrulloh di artikelnya yang ini. Judul acara ini bikin kita mengira bahwa Si Gundul bakal berpetualang, minimal kayak Panji gitu. Rupanya rutinitas Gundul di setiap episodenya “hanya” bantu warga desa panen atau cari bahan makanan, lalu mengolah hasil panen tadi untuk dinikmati bersama. Sebenarnya, saya nggak ada dendam apa pun sama acara ini. Malah acara ini membuat saya dapet berbagai macam ilmu dan trik yang bisa saya pakai selagi dalam proses belajar memasak. Selama menyaksikan program Trans 7 itu, saya menemukan beberapa kelebihan Jejak si Gundul, terutama bagi pemirsa yang lagi belajar memasak.

#1 Rajin ngasih tips

Sisi plus nonton acara ini yang pertama adalah Si Gundul suka ngasih life hacks untuk berbagai macam urusan dapur. Di salah satu episode, Si Gundul yang baru selesai nyari belut di sawah diminta untuk mengolah belut hasil tangkapannya itu oleh warga lokal. Bagi orang awam seperti saya, mbeteti belut adalah hal yang asing. Apalagi belut adalah makhluk yang kulitnya licin dengan ukuran badan yang nggak gede-gede amat, tentunya susah buat membersihkan isi perutnya satu per satu dalam keadaan hidup.

Di episode itu, Si Gundul memberikan tips untuk menggunakan abu sisa pembakaran kayu untuk memudahkan kita membersihkan belut sebelum diolah. Di beberapa episode pun Si Gundul nggak ada males-malesnya buat ngasih cara-cara out of the box khas simbah-simbah kita dalam mengolah makanan.

#2 Bahan dan alat mudah dicari

Faktor pendorong rasa males untuk ngikutin resep yang ada di internet, tabloid, atau vlog koki kondang adalah bahan-bahannya yang asing dan susah dicari. Misalnya saja dulu saya harus muter-muter ke toko bahan kue dan supermarket untuk nyari oregano dan parsley untuk sekadar bikin roti. Sudah beli mahal-mahal, ternyata cuma bahan suplemen saja.

Sementara saat nonton Jejak Si Gundul, belum pernah tuh saya nemuin Si Gundul bikin kue tapi topping-nya pakai blueberry yang didatangkan dari Amerika Serikat atau bikin agar-agar dengan buah persik dari China. Semua bahan yang dipakai oleh Si Gundul adalah bahan yang mudah kita kenali dan bisa ditemui di sekitar rumah bagi penonton rural dan suburban.

Alat masak yang dipakai juga nggak yang aneh-aneh. Jejak Si Gundul membudayakan resep no mixer dan no oven yang selalu jadi penyelamat bagi orang-orang yang mixer-nya rusak dan hanya punya oven tangkring macam saya. Nggak perlu juga beli teflon anti lengket, panci presto, food processor, sampai air fryer yang kalau dijumlahkan harganya bisa melebihi UKT golongan 5. Semuanya tinggal pakai wajan, panci, dan soblok yang digunakan sehari-hari. Hemat dan nggak perlu minta izin ibu buat check out di Shopee, kan?

Baca Juga:

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

Kalau dibandingkan dengan acara kuliner atau masak-masak yang memang fokus pada makanan semata, tentu Si Gundul cukup tertinggal. Maka dari itu, saya juga mau ngasih tau beberapa kekurangan nonton acara ini buat belajar masak.

#1 Serba secukupnya

Untuk pemula yang lagi belajar masak seperti saya, takaran adalah hal yang penting. Kalau expert bisa pakai istilah “secukupnya” dan masakannya auto sukses. Saya masih perlu menimbang tepung terigu tiap mau bikin kue. Kalau nggak, kemungkinan masakannya bakal gagal.

Sementara itu, Si Gundul dan warga lokal lebih suka memasak dengan segala bahan “secukupnya”. Gundul cuma mengabsen bahan-bahan yang diperlukan. Mbak-mbak yang mengolah pun memasukkan bahan-bahan tadi langsung cemplang-cemplung. Selama proses memasak pun setiap bahan diolah dengan waktu seperlunya. Memang, sih, ini bukan acara memasak yang dibimbing oleh koki dengan resep detail yang mencakup durasi masak, berat bahan, sampai peralatan yang digunakan.

#2 Modifikasi yang kejauhan

Resep-resep dari Gundul dan warga lokal memang sering nggak terpikirkan sama kita. Suatu bahan makanan yang selama ini kita olah begitu-begitu saja, bisa jadi makanan unik nan lezat di tangan Gundul dan ibu-ibu warga desa. Tapi bukan berarti setiap resep saya tiru karena saya sering gemes sama resep-resep makanan yang dibagikan oleh Gundul, jujur.

Waktu itu Gundul yang baru selesai nemenin warga desa nyari batang muda kelapa berencana untuk mengolah temuannya itu jadi tteokbokki. Itu lho, makanan khas Korea yang bahan dasarnya pakai tepung beras. Awalnya semuanya berjalan normal tanpa keanehan. Tapi tiba-tiba, mbak yang bertugas buat ngolah tteok ini tiba-tiba menambahkan pewarna makanan hijau ke adonan kue berasnya.

Seperti yang kita ketahui, tteok umumnya berbentuk silindris memanjang. Waktu direbus, saya merasa makananan itu malah lebih mirip cendol ketimbang tteok khas Korea. Lagian acara Jejak Si Gundul ini sering banget ngasih pewarna makanan ke setiap makanan yang diolah. Selagi bisa dan ada celah, semua makanan diwarnai. Bener, sih, pewarna bikin makanan jadi lebih menarik. Tapi, ya, jangan semua makanan sampai tortilla juga diwarnai merah, Ndul.

BACA JUGA Dilema Program Jejak Si Gundul: Judul Sangar, Ternyata Cuma Acara Kuliner dan tulisan Noor Annisa Falachul Firdausi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 September 2021 oleh

Tags: belajar masakjejak si gundulKuliner
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

kecap

Kecap Manis yang Terdiskriminasi

2 Agustus 2019
Perkenalkan “Mandai” si Kulit Cempedak Favoritnya Orang Banjar

Perkenalkan “Mandai” si Kulit Cempedak Favoritnya Orang Banjar

16 Februari 2020
indomie goreng aceh mojok

Indomie Goreng Aceh, Varian Mi Instan Pedas yang Paling Enak

5 September 2021
Rujak Tal-Ontal: Kuliner dari Madura tapi Nggak Semua Orang Madura Tahu

Rujak Tal-Ontal: Kuliner dari Madura tapi Nggak Semua Orang Madura Tahu

11 April 2020
Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

9 Februari 2026
Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

3 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

20 Juni 2026
Derita Punya Usaha Rumahan di Apartemen Kelas Menengah (Unsplash)

Pengalaman Pahit Buka Usaha Rumahan Kios Makanan di Apartemen Kelas Menengah Jaktim, Mulai dari Rekan Bisnis Berkonflik sampai Menu Jualan Selalu Ditiru Pesaing

18 Juni 2026
Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal Mojok.co

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

18 Juni 2026
Sisi Gelap Budak Elite di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta (Unsplash)

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

20 Juni 2026
Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL Mojok.co

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

21 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.