Pihak yang Jelas-jelas Bahagia atas Vaksin Berbayar Adalah Orang-orang yang Nggak Percaya Covid-19 – Terminal Mojok

Pihak yang Jelas-jelas Bahagia atas Vaksin Berbayar Adalah Orang-orang yang Nggak Percaya Covid-19

ArtikelFeatured

Tahu pihak mana yang paling bahagia mendengar kabar vaksin berbayar? Betul, covidiot.

Bayangkan, ratusan, mungkin ribuan orang berusaha men-debunk semua teori konspirasi tak masuk akal tentang Covid-19 setiap harinya. Energi yang tak sedikit itu dikerahkan agar semua orang tercerahkan. Arena yang dulu dipakai cebong vs kampret sekarang dipakai orang bernalar melawan covidiot. Bukan, bukan karena cebong dan kampret tak lagi ada, tapi memang hanya orang yang benar-benar nggak punya kerjaan aja yang masih terbelah karena pilpres. Dan orang macam itu sebaiknya nggak usah dikasih panggung.

Coba ngana bayangin, masih ada orang yang bangga ngaku cebong aja udah nggak masuk akal. Kalau kalah debat, ngatain kadrun. Padahal ya nggak punya modal buat debat. Punya otak, contohnya.

Kembali ke vaksin berbayar dan covidiot.

Ratusan, mungkin ribuan orang tersebut berusaha keras agar sebaran virus bisa dikontrol dengan memberi edukasi kepada orang yang belum paham. Kasus naik ini setidaknya bisa membuat orang sadar tentang bahaya Covid-19. Mulia betul orang ini.

Dan tahu apa yang menghancurkan usaha tersebut? Yak, vaksin berbayar. Dan yang mengurusi vaksin berbayar tersebut adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang medis.

Bayangin, pihak medis JUSTRU membenarkan apa yang orang anti-medis gembor-gemborkan. Top 10 anime betrayal bangeeetzzz.

JRX yang kita maki terus-terusan sekarang bisa dengan lantang berkata “apa ghuwe bilaaang”. Membayangkannya saja sudah kecut. Apalagi mengingat vaksin berbayar tersebut bisa dibilang dicetuskan oleh orang yang sadar akan bahaya covid-19 bela. Fans Mardigu dan Jerinx sorak-sorak bergembira.

Saya nggak mau ngomongin undang-undang, atau konstitusi yang dilanggar. Percuma, orang bansos aja dikorupsi. Ngomongin konstitusi dan undang-undang ke orang yang punya kuasa untuk melanggarnya sesuka hati mah bikin bete. Yang mau saya omongin sih, betapa nelangsanya orang-orang yang sudah mati-matian mengedukasi dan betapa bahagianya covidiot kini.

Kira-kira seperti ini. Kamu nemenin orang dari minus. Minus loh, bukan nol lagi. Nah, ketika dia udah di angka yang… yah, lumayan lah, dia tiba-tiba mengkhianatimu. Pedih? Pasti. Mangkel? Jelas.

Gambaran di atas sebenarnya hanya sebuah usaha untuk menggambarkan setengah dari rasa sakit dan malunya orang-orang yang berusaha mengedukasi dan benar-benar melawan covid. Tenaga kesehatan yang berjibaku di lapangan rasanya kayak pion-pion yang expendable demi keuntungan semata.

Keuntungan? Yaaa apalagi kalau bukan keuntungan?

Maksudnya begini. Kalau memang vaksin berbayar tersebut ada agar distribusinya lancar, ya harusnya yang diperbaiki distribusinya. Solusinya jelas bukan bikin program vaksin berbayar. Ini bukan gim yang butuh topup biar progresnya jalan. Ini adalah hak warga yang harus dipenuhi oleh negara. Jujur saja, logika vaksin berbayar adalah solusi agar distribusi vaksin makin cepat itu jelek aja belum.

Tapi, serius kita nggak perlu kaget kalau pada akhirnya omongan covidiot—kecuali bagian bahwa Covid-19 itu tidak ada—jadi nyata. Kita udah terlalu sering melihat hak untuk rakyat dipersulit untuk dimanfaatkan oleh oknum yang mencoba mencari keuntungan. Entah calo SIM, pungli ini itu, pelicin untuk bikin KTP, dan laian-lain.

Itu udah saya bold lho, kalau sampe saya kena UU ITE, mending ambil kejar paket dah biar belajar baca.

Vaksin berbayar ini, dilihat dari sisi mana saja, tetep nggak bisa dibenarkan. Kalau memang penyebarannya nggak cepat, ya dipercepat. Caranya? Tinggal cari permasalahannya, dan dibenahi. Sumpah, solusi akan permasalahan yang ada itu di depan mata, tinggal mau dilakuin atau tidak. Ya kalau nggak tau jika solusi sudah di depan mata, ya mon maap nih, kompetensinya perlu dipertanyakan.

Jadi, bagi kalian pejuang akal sehat, saran saya sih ambil istirahat bentar. Kalau emang kalian mau terus berperang, monggo. Tapi, kalau mau istirahat, nggak apa-apa. Toh, nggak ada jaminan juga kalau bakal nggak ada lagi atraksi-atraksi baru yang bikin covidiot menepuk dada.

BACA JUGA Korupsi Bansos dan Dana Haji, Mana yang Lebih Bajingan? dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Baca Juga:  Survei bahwa Orang Tua Setuju Sekolah Tatap Muka Hasilnya Tinggi, kok Bisa?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.