Pesan yang Bisa Jokowi Petik dari Tangisan Kim Jong-un di Depan Publik

Artikel

Avatar

Kim Jong-un menangis karena rakyatnya. Tapi harus dipahami, air mata Kim adalah bukti cinta paling paripurna. Meskipun Kim Jong-un suka bikin ribut dunia internasional dengan ancaman-ancaman rudalnya, ternyata terhadap rakyatnya sendiri ia sangat peduli. 

Seorang Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara itu tak lagi sanggup menahan air mata, mendadak menangis karena merasa gagal menaikkan standar kehidupan sekaligus berterima kasih kepada rakyatnya atas pengorbanan mereka ditegah krisis.

Kita harus apresiasi momen tersebut sebagai sebuah bukti cinta yang tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa dengan air mata.

Tangisan Kim secara tersirat menggambarkan tentang sosok pemimpin yang kalau rakyatnya sedang menjerit, ia pasti hadir. Meskipun bisa dikatakan Kim hadir terlambat karena rakyatnya telanjur merasakan krisis, tetapi paling penting ia mau hadir di tengah-tengah dan turut merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Kehadirannya sekaligus membangkitkan kembali gairah dan optimisme dengan narasi-narasi yang sehat.

Awalnya, berita tentang tangisan Kim Jong-un ini membuat saya heran. Kim biasanya selalu diframing media sebagai lelaki yang suwangarnya minta ampun, kalau marah ancamannya bukan main, langsung dipaketin rudal. Tapi, kali ini dia menangis di hadapan semua rakyatnya dan di hadapan dunia yang menyorot gerak-gerik Korea utara.

Kim Jong-un berhasil membuat saya geleng-geleng kepala. Lihat, betapa rendah hatinya seorang Kim. Kendati rakyat se-Korea Utara telah menaruh kepercayaan setinggi langit kepadanya, ia masih saja mengakui bahwa dirinya gagal. Sungguh rendah hati sekali.

Kita harus akui, air mata di pipi Kim Jong-un bukan mencerminkan bahwa ia adalah pemimpin yang cemen. Tapi, memang Kim adalah sosok pemimpin yang langka dan patut dicontoh oleh para pemimpin dunia. Pikirkan lagi, memangnya Trump pernah begini?

Gaya kepemimpinan Kim berbeda sekali dengan pemimpin-pemimpin di negara lain seperti Indonesia misalnya. Biasanya, pemimpin yang kalau hasil angka survei tentang kepercayaan atau kepuasan terhadap kinerjanya meningkat, ia tak lagi mau main bareng, turun, mendengar keluhan-keluhan rakyatnya.

Apa yang dilakukan Kim baru-baru ini mengingatkan kita pada sosok Ki Hajar Dewantara dalam adagium pendidikan politiknya. Yakni, ing garsa sung tuladha (yang di depan sebagai pemberi contoh), ing madya mangun karsa (yang di tengah sebagai pemberi semangat), dan tut wuri handayani (yang di belakang sebagai pemberi dorongan).

Saya akhirnya termenung, membayangkan bagaimana nasib negara yang ketika rakyatnya sudah muak atas kebijakan-kebijakan dan memberikan mosi tidak percaya terhadap pemimpinnya, tapi pemimpinnya malah cuek? Bagaimana jika mereka merasa sengsara hidup di negerinya sendiri karena berbagai macam krisis yang dirasakan? Bawaannya pengen pindah negara saja.

Krisis yang dialami masyarakat membuat massa marah kepada pemimpinnya. Saya rasa ini hal yang wajar. Ironisnya, pemimpinnya malah enggan hadir dan memilih untuk bersembunyi.

Salah satu contoh, mungkin kalian masih ingat dengan kasus pembunuhan George Floyd yang memicu aksi unjuk rasa dengan menaikkan tagar #bankerboy itu? Lantas siapakah “boy” di balik tagar itu? Ternyata Tuan Besar Donald Trump yang dikabarkan “bersembunyi” ke bunker bawah tanah.

Bukannya hadir di tengah-tengah massa aksi dan menangis memberikan keterangan, eh malah bersembunyi. Parahnya lagi, ia malah mengerahkan militer untuk menghadang massa. Betapa cemennya seorang Trump yang menggunakan kekerasan, tapi takut dengan massa aksi.

Tangisan Kim Jong-un sebetulnya tamparan keras buat pemimpin-pemimpin dunia saat ini. Terutama bagi pemimpin yang masih berkutat pada angka pandemi, tapi cenderung abai. Menurut Direktur Divisi Korut Institut Unifikasi Nasional Korea, Hong Min, di balik pesan yang disampaikan Kim Jong-un, dapat dirasakan bahwa Supreme Leader itu merasakan tekanan yang berat dalam masa kepemimpinannya.

Tetapi, dari tangisan Kim, sepertinya terdapat pesan penting buat Pakde Jokowi, presiden andalan kita. Sebab, sudah sewajarnya apa yang dialami Kim juga dirasakan Pakde Jokowi.

Pertama, Kim Jong-un ingin berpesan bahwa Pakde Jokowi tidak perlu latah menirunya yang menangis karena lambat mengatasi krisis. Pakde harus komitmen, tegas, dan segera bertindak.

Kalau kemarin sudah menyepelekan Covid-19, setelah itu berulang kali mengingatkan soal sense of crisis, dan kini melanjutkan pilkada. Itu sama aja bohong.

Kim Jong-un sepertinya paham betul dengan kondisi Indonesia. Bagaimana penanganan Covid-19 yang amburadul, angka kasus yang semakin tidak bisa dikendalikan, praktik mafia alat kesehatan, belum lagi krisis kepercayaan. Ia mungkin merasakan hal yang tidak jauh beda.

Kedua, meskipun Pakde Jokowi tidak akan mau mengakui bahwa dirinya gagal, paling tidak Pakde Jokowi hadir di tengah masyarakat saat demo UU Ciptaker. Jokowi harusnya segera mengobati luka rakyat dan melayani rakyat dengan sepenuh hati dahulu, bukannya bepergian mengunjungi peternakan itik menunggu beberapa hari kemudian baru menyapa rakyat.

Jangan banyak-banyak, kemarahan rakyat beberapa semenjak 2019-2020 ini saja sebenarnya menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa kepemimpinan Jokowi sedang tidak baik-baik saja.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Menunggu Penjelasan Ariel Heryanto yang Suka Upload Bunga di Media Sosial dan tulisan Muhammad Kamarullah lainnya.

Baca Juga:  PPG Tidak Menghasilkan Guru Berkualitas? Tunggu Dulu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.