Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Perubahan Format Champions League: Demi Kualitas atau Keuntungan?

Bintang Ramadhana Andyanto oleh Bintang Ramadhana Andyanto
11 Mei 2022
A A
Perubahan Format Champions League: Demi Kualitas atau Keuntungan?

Perubahan Format Champions League: Demi Kualitas atau Keuntungan? (Stas Rudenko via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sepak bola Eropa kembali diguncang. Beberapa waktu lalu, publik diguncang oleh kabar Super League, yang diinisiasi oleh tim besar di Eropa, meskipun akhirnya batal sebab ditolak banyak pihak. Kini, guncangan baru muncul, yaitu diubahnya format UEFA Champions League.

Perubahan yang dimaksud adalah menambah jumlah kontestan Champions League menjadi 36 klub, alias bertambah empat klub, memakai format mini liga. Otomatis, pelaksanaan turnamen ini jadi lebih panjang. Jelas apa maksud dari penambahan klub dan durasi turnamen ini, yaitu meraip pundi-pundi uang dari penonton dan streaming service. Biasanya sih, harga hak siarnya jadi mahal.

ADVERTISEMENT
Piala Champions League (Stas Rudenko via Shutterstock.com)

Jujur saja, menurut saya pribadi, perubahan yang satu ini hanya akan menurunkan kualitas Champions League. Bagaimana tidak? Selama ini, kita selalu mengenal UCL sebagai sebuah ajang yang hanya diikuti oleh tim-tim terbaik Eropa yang harus terlebih dahulu melewati berbagai “rintangan” dan proses eliminasi.

Sebagai contoh, kita dapat melihat apa yang dilakukan oleh Arsenal di musim ini yang mesti berjuang mati-matian demi bisa finish di peringkat 4 besar pada akhir musim nanti. Jika mereka berhasil mencapai target tersebut, barulah mereka dinyatakan layak untuk berlaga di UCL musim depan. Namun, jika gagal, mereka harus rela untuk kembali bersaing di Europa League atau istilah lucunya, Liga Malam Jumat.

Hal-hal semacam inilah yang membuat Champions League menjadi sebuah kompetisi yang “ekslusif” dan hanya berhak diikuti oleh tim-tim yang memang worthy. Saking eksklusifnya, status sebagai tim-tim besar pun belum tentu bisa membuat mereka dapat bermain di dalamnya. Alhasil, jika dilakukan penambahan jumlah klub, rasa “mewah” tersebut akan hilang dan UCL akan menjelma kompetisi yang tidak sekeren sebelumnya. Tentu sangat disayangkan, bukan?

Ilustrasi menonton bola lewat streaming (Pixabay.com)

Apalagi katanya penambahan tim ini untuk memberi tempat bagi tim yang punya sejarah dan ranking koefisien yang tinggi. Lha, lalu apa gunanya berjibaku finis di peringkat atas?

Perubahan format kedua yang sukses membuat saya mengangkat alis adalah akan digunakannya sistem liga dan tidak lagi menerapkan babak fase grup seperti yang kita kenal selama ini. Dengan begitu, setiap tim akan memainkan delapan laga yang terbagi menjadi empat laga kandang dan empat laga tandang. Kemudian, barulah pada babak 16 besar sistem gugur akan kembali diterapkan seperti biasa.

Namun, lagi-lagi, kecurigaan seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya kembali hinggap di benak saya. Penambahan jumlah laga tentu akan menghasilkan banyak keuntungan besar bagi para pemangku kebijakan. Sementara itu, bagi para pesepak bolanya sendiri, hal ini hanya akan membuat stamina mereka semakin terkuras. Jika tidak benar-benar pandai mengatur kebugaran, sudah pasti akan berdampak pada badai cedera.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Yang lebih menyedihkan adalah, hal ini bikin tim dengan bujet belanja pemain yang kecil tak bisa berbuat banyak. Sebab, panjangnya durasi turnamen lebih menguntungkan tim-tim besar yang punya bujet belanja yang besar. Sehingga, mereka bisa memperdalam skuat, yang otomatis bikin pemain mereka lebih bugar ketimbang tim lain. Tim dengan kantong cekak, mau tak mau, menerima nasib.

Pada intinya, saya meyakini bahwa UEFA memang lebih peduli soal uang, dan abai terhadap pemain dan fans. Andai terjadi badai cedera yang merata di tiap tim, UEFA pun besar kemungkinan tutup mata.

Ceferin (Belish via Shutterstock.com)

Ironis memang, ketika UEFA menuduh pendiri Super League seperti Perez, Agnelli, dan Bartomeu hanya peduli uang, padahal mereka sendiri dengan gamblangnya menunjukkan keberpihakan mereka pada uang. Pun, tak tegas dalam memberi sanksi pada tim. Ujung-ujungnya, mereka mengotak-atik Champions League agar makin maksimal dalam mengisap kantong penikmat sepak bola.

Seharusnya sih, Champions League tak perlu diubah-ubah formatnya. Cukup naikkan saja kualitasnya, dengan memastikan wasit melakukan tugasnya dengan baik, menghukum tindak rasisme, dan beri jadwal yang lebih manusiawi. Tapi, hal itu nggak bikin pundi-pundi gemuk. Iya kan, Ceferin?

Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Rodrygo, The Starboy

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2022 oleh

Tags: Ceferinchampions leagueSepak BolaUEFA
Bintang Ramadhana Andyanto

Bintang Ramadhana Andyanto

Anak negeri. Tukang ngopi. Pakar senjalogi.

ArtikelTerkait

bahasa di wakatobi pelestarian lingkungan sepak bola bajo club wakatobi poasa-asa pohamba-hamba mojok

Militansi Pendukung Bajo Club, Klub Tarkam di Wakatobi

9 Desember 2020
nutmeg Lionel Messi tarkam sepakbola anak-anak mojok.co

Memahami Buruknya Naturalisasi Melalui Tarkam

1 September 2020
taro misaki captain tsubasa penghasilan karier cerita kekayaan timnas jepang mojok

Menghitung Penghasilan Taro Misaki, Pasangan Emas Tsubasa Ozora yang Beda Nasib

2 Mei 2020

Betapa Menyenangkannya Mendukung Tim Kecil dalam Kejuaraan Sepak Bola

18 Juni 2021
giant killing Real Madrid vs chelsea taktik sepak bola Eden Hazard Main 20 Menit Jauh Lebih Bagus dari Vinicius Junior dalam 3 Musim terminal mojok.co

Real Madrid vs Liverpool: Kesalahan Line Up Klopp dan Kejelian Toni Kroos

7 April 2021
zidane

Menanggapi Tulisan ‘Real Madrid itu Butuh Ronaldo, Bukan Zinedine Zidane’: Real Madrid Bukan Hanya Sekadar Kehilangan Cristiano

25 Juli 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Modal 20 ribu rupiah, kamu bisa makan tiga kali sehari di Ngaglik, Jogjakarta

26 Agustus 2026
Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Saya pernah mengira Tegal kota yang sepi, ternyata saya salah besar

27 Agustus 2026
Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

22 Agustus 2026
Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

26 Agustus 2026
Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa Mojok.co

Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa

24 Agustus 2026
In this economy punya rumah warisan itu repot, dipertahankan butuh duit, dijual susah laku Mojok.co

In this economy punya rumah warisan itu repot, dipertahankan butuh duit, dijual susah laku

26 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.