Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pertashop Beneran Bangkrut Berkat Nalar Timpang Pertamina

Fareh Hariyanto oleh Fareh Hariyanto
25 September 2022
A A
Pertashop Beneran Bangkrut Berkat Nalar Timpang Pertamina (Unsplash.com)

Pertashop Beneran Bangkrut Berkat Nalar Timpang Pertamina (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pada 31 Maret 2022 yang lalu, Prabu Yudianto meramal bahwa Pertashop bakal bangkrut. Kini, 25 September 2022, ramalan Prabu menjadi kenyataan. Tiga pekan setelah pemerintah menaikkan harga BBM, banyak outlet Pertashop tumbang. Nalar bisnis Pertamina sungguh tiada banding anehnya.

Mengutip Antara, ribuan Pertashop sepi pembeli usai kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp9.000 ke Rp12.500. Tak lama, harga resmi Rp14.500 disepakati di awal September 2022 lalu. Kebijakan ini berimbas pada banyaknya outlet Pertashop gulung tikar.

Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Pertashop Seluruh Indonesia (DPD HIPSI) Jawa Tengah, Jengkar Tundung Janu Prihantoro mengatakan, disparitas harga yang tinggi menyebabkan pelanggan beralih ke Pertalite. Sementara itu, faktanya, banyak Pertalite ilegal dijual oleh pengecer atau Pertamini sehingga mematikan usaha Pertashop.

Akibat maraknya BBM subsidi eceran, Pertashop terdampak dan penjualannya anjlok. Kini, sebagian besar mereka hanya bisa menjual kurang dari 100 liter per hari. Akibatnya, sebagian bangkrut dan pilih tutup karena sudah tidak bisa menutup biaya operasional harian, seperti gaji karyawan, listrik, dan pengeluaran lainnya.

Tentu dampak kebangkrutan yang dialami Pertashop memang sudah dapat diprediksi sejak awal. Mengingat kehadirannya di tengah masyarakat kala itu seakan ingin menggantikan hegemoni masifnya Pertamini yang sudah menjamur di masyarakat dengan alat dan cara kearifannya.

Disisi lain, langkah Pertamina juga tidak jelas secara yuridis hukum. Ini terlihat dengan masifnya penjualan BBM bersubsidi yang ada di lapak-lapak dagangan warga yang notabene dilarang oleh aturan Undang-Undang.

Larangan tersebut tertuang dalam Undang-Undang nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas. Di sana tertulis siapa saja yang memperjualbelikan kembali BBM bersubsidi, maka ia melanggar aturan niaga BBM, pasal 53 dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp30 miliar.

Nomenklatur hukum tersebut secara jelas mengatur tentang larangan menjual kembali BBM bersubsidi. Sehingga, idealnya, harus ada penindakan yang dilakukan agar subsidi BBM yang ditetapkan pemerintah bisa tetap sasaran.

Baca Juga:

Suzuki Thunder, Raja Tangki Besar Penguras SPBU di Luwu Timur

Sambatan Pelanggan Shell, SPBU Pelarian yang Ternyata Punya Masalah Juga

Jika itu tidak ditangani, tentu dampaknya bisa ditebak, Pertashop tidak akan mampu bersaing dengan Pertamini yang menjual BBM bersubsidi. Alih-alih mendapatkan untung, justru mitra bisnis Pertamina ini mati dengan sendirinya.

Misalnya di tempat tinggal saya, Kabupaten Banyuwangi. Sejak 2 tahun terakhir, bisnis ini mulai menjamur. Namun, kini, mereka seperti mati enggan hidup tak mau.

Oleh sebab itu, izinkan saya menjelaskan 4 cara yang bisa dilakukan Pertamina untuk menyelamatkan bisnis Pertashop.

#1 Hentikan kebocoran pengguna

Diakui atau tidak, BBM bersubsidi milik pemerintah memang tidak tepat sasaran. Oleh karenanya, pemerintah, lewat Pertamina, sebaiknya menghentikan kebocoran penggunaan BBM bersubsidi. Salah satunya melalui kebijakan pembatasan pembelian BBM bersubsidi di setiap SPBU.

Sebetulnya, aturan di atas sudah diterapkan secara berkala. Namun, sejauh pengamatan saya, praktik di lapangan sangat berbeda. Masih ada SPBU yang menjual BBM bersubsidi melebihi batas yang ditentukan. Oleh sebab itu, segala nalar yang dimiliki Pertamina akan selalu salah. Ya karena BBM bersubsidi akan selalu salah sasaran jika tidak ada perencanaan matang dan ketegasan.

#2 Pengawasan di SPBU

Penulis sempat menemui seorang kawan yang bekerja di SPBU di wilayah Krikilan, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Dia mengakui, dengan santainya, jika setiap malam selalu ada pesanan dari oknum pembeli yang menggunakan mobil pick up L300 yang di atasnya berjejer puluhan jerigen untuk mengangkut BBM jenis Pertalite.

Teman saya mengakui kalau yang seperti itu masih lumrah terjadi dan selalu dilakukan setiap malam. Bahkan, pembeli tersebut adalah pelanggan tetap yang dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari sekali akan kembali membawa puluhan jerigen. Pengawasan dari Pertamina? Kendor banget. Gimana Pertashop nggak bangkrut.

#3 Ketegasan petugas SPBU

Jika berkunjung ke SPBU di Banyuwangi, saat akan mengisi BBM, kalian akan selalu melihat motor dengan tangki besar yang antre. Biasanya, yang sering digunakan ini adalah Suzuki Thunder yang memiliki volume tangki bahan bakar hingga 15 liter. Lucunya, dia akan bolak-balik mengisi dengan motor yang sama dan didiamkan oleh petugas.

Jika menggunakan nalar, petugas SPBU pasti tahu modus seperti itu. Apalagi kalau sudah bolak-balik beberapa kali. Cara klasik seperti ini masih ada, lho. Namun, tidak ada ketegasan dari petugas. Mungkin antara takut atau nggak enak menegur karena kenal. Oleh sebab itu, petugas harus dapat perlindungan dan sosialisasi rutin supaya mereka berani tegas. 

#4 Disparitas harga BBM

Penulis akui jika Pertashop memang membuka jalan untuk masyarakat pedesaan mendapatkan harga utuh dari Pertamina. Kala itu, ketika harga Pertamax di angka Rp9.000, Pertalite eceran yang dijual oleh Pertamini berada di angka Rp10 ribu. Persaingan sehat ini masih dimenangkan oleh Pertashop.

Saat itu, kesadaran masyarakat untuk menggunakan bahan bakar beroktan tinggi mulai terbentuk. Mereka mulai merasakan perbedaan “rasa” ketika menggunakan bahan bakar lain yang kadar oktannya lebih rendah. Namun, hal itu berbalik ketika Pertamax mengalami kenaikan harga yang “sporadis” hingga berdampak signifikan ke penjualan.

Inilah nalar timpang Pertamina dalam bisnis migasnya. Ketika banyak orang semakin sadar untuk tidak minum BBM bersubsidi, harga dinaikkan cukup tinggi. Kebijakan itu sukses membuat banyak orang untuk mulai meninggalkan Pertamax untuk kembali berburu Pertalite.

Hasilnya, antrian untuk membeli Pertalite jadi sangat panjang. Apalagi, belakangan ini, muncul kabar bahwa Pertalite yang dijual itu kualitasnya rendah mengingat cepatnya BBM ini menguap. Meski Pertamina sudah membantah hal itu, tetap saja rakyat yang membayar dan menggunakan yang merasakannya. Petinggi Pertamina mah nggak mungkin terdampak. 

Sebuah kebijakan yang mematikan bisnis Pertashop. Setelah itu, mencekik rakyat kecil dan menihilkan usaha kita semua untuk beralih ke BMM dengan okan tinggi. Nalarnya itu hanyut di sungai ya?

Penulis: Fareh Hariyanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Gagal Branding, Alasan Orang Kaya Nggak Malu Beli Pertalite

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2022 oleh

Tags: BBM bersubsidipertalitepertamaxpertaminipertashopPetamina
Fareh Hariyanto

Fareh Hariyanto

Perantauan Tinggal di Banyuwangi

ArtikelTerkait

Dosa Pelanggan Pom Mini Nggak Jauh Beda Kayak Pertashop (Unsplash)

Dosa Pelanggan Pom Mini Nggak Jauh Beda Kayak Pertashop

9 Februari 2023
Berkali-kali Kehabisan Bensin Setelah Isi di Pertamini, Apakah Mesin Tersebut Bisa Dipercaya?

Berkali-kali Kehabisan Bensin Setelah Isi di Pertamini, Apakah Mesin Tersebut Bisa Dipercaya?

10 Januari 2025
Pertashop Bangkrut Justru Bikin Repot: Laporan Langsung dari Pelanggan Bensin Pertamina

Pertashop Bangkrut Justru Bikin Repot: Laporan Langsung dari Pelanggan Bensin Pertamina

21 Januari 2023
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Bisnis Pertashop Beneran Karam: Hidup Segan, Mati Sudah Jelas

10 Januari 2025
Kasihan Motor Saya jika Pertalite Beneran Dihapus

Beli Pertalite Pakai Aplikasi: Kalau Bisa Dibikin Ribet, Kenapa Tidak?

25 Juni 2022
Derita Tinggal di Pertashop- Sebuah Warisan yang Meresahkan (Foto milik penulis)

Derita Tinggal di Pertashop: Bisnis Warisan yang Meresahkan

24 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bisnis Mobil Rental: Keuntungannya Selangit, Risikonya Juga Selangit rental mobil

Rental Mobil demi Gengsi Saat Pulang Kampung Lebaran Adalah Keputusan yang Goblok

12 Maret 2026
Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

14 Maret 2026
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Lebaran Saatnya Masa Bodoh dengan Ocehan Tetangga (Unssplash)

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

14 Maret 2026
Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal Mojok.co

Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba
  • Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.