Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pernikahan yang Didasari Cinta Mengapa Bisa Berakhir Seumur Jagung?

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
21 April 2020
A A
Magang di Pengadilan Agama Bikin Saya Lebih Realistis dalam Memandang Pernikahan broken home

Ilustrasi perceraian

Share on FacebookShare on Twitter

Hari ini saya dapat kabar dari saudara saya, sebut saja Budi. Lama tak memberi kabar tiba-tiba saja Budi bercerita kalau setelah Lebaran dia akan menggugat cerai istrinya. Saya kaget. Otak saya lantas menghitung-hitung usia pernikahan Budi. Baru mau 3 tahun! Duh, Gusti… baru mau 3 tahun dan sudah mau bercerai.

Budi tak banyak menyebutkan alasan kenapa dirinya akan bercerai. Dia hanya bilang sudah tidak ada kecocokan lagi. Klise, memang. Saya juga tidak mengorek lebih dalam. Bagi saya, setiap rumah tangga itu unik. Tak perlulah dicari tahu sampai detail akar masalahnya. Rumah tangga rumah tangga mereka, siapa lah saya ini? Lagi pula, jika saya ada di posisi dia, saya juga pasti akan malas menceritakan alasannya. Buat apa? Kasih solusi nggak, nebar aib iya. Pun masih butuh waktu juga untuk menata hati dulu. Bagaimanapun juga perceraian bukanlah seperti putusnya orang pacaran. Ini lebih dalam dan lebih menyakiti banyak orang. Maka, saya hanya menegaskan pada Budi untuk berpikir lebih matang dan tidak terburu-buru. Tapi di ujung telpon dia menegaskan bahwa keputusannya itu sudah bulat. Ya sudah.

Budi masih lebih beruntung daripada saudara saya yang lain, sebut saja Andi. Jika Budi mampu mempertahanan rumah tangganya dalam waktu hampir 3 tahun, Andi hanya mampu bertahan selama 4 bulan. Ya. Umur pernikahannya hanya 4 bulan alias 120 hari saja.

Di luar sana mungkin masih banyak Budi dan Andi lain yang umur pernikahannya tidak berlangsung lama. Tidak usah artis lah. Dunia kita terlalu berbeda dengan mereka. Tidak bisa dibandingkan. Mereka terlalu Louis Vuitton bagi kita yang cuma kantong kresek. Mari kita bandingkan dengan yang selevel saja: saudara, tetangga, dan teman kita. Adakah? Kalau saya, ada. Ya itu tadi, rumah tangga Budi dan Andi.

Saya jadi berpikir, mengapa pernikahan bisa berakhir ke perceraian? Bukankah keduanya, saat menikah dulu, saling mencintai? Lantas ke mana rasa cinta itu pergi? Saya tahu betul baik Budi dan Andi mencintai pasangannya. Saya bisa melihat binar-binar bahagia saat mereka bersama pasangannya dulu. Tapi sekarang? Bercerai? Aish….

Sebagai orang yang sudah mengarungi pernikahan selama hampir 10 tahun, saya cukup mengerti bahwa membangun rumah tangga itu tidaklah mudah. Bayangkan saja, dua kepala yang beda isi tinggal bersama. Mau tutup mata, ada dia. Buka mata, dia lagi dia lagi. Belum kalau ada intervensi dari pihak ketiga.

Eh, pihak ketiga ini tidak melulu dia yang kita temui di tempat kerja, yang asik diajak ngobrol sehingga bikin hati kita kembali merasa deg deg pyar bum bum. Bukan juga dia yang kita kenal lewat medsos kemudian ternyata begitu perhatian. Tidak. Pihak ketiga itu bisa juga hadir dalam wujud: mertua, kakak ipar, adik ipar, om, tante, dll. Seringnya sih seperti itu. Tidak ada masalah dengan pasangan, tapi justru masalah itu hadir dari orang-orang di sekitaran. Mertua yang suka ikut campur, adik ipar yang sok yes, kakak ipar yang pinjem duit nggak pernah dibalikin, dll. Atau pihak ketiga itu bisa juga dalam wujud yang tak bernyawa, sebut saja: duit.

Dilihat dari latar belakangnya, saya menduga perceraian Budi dan juga Andi didasari atas faktor ekonomi alias duit. Budi seorang karyawan kontrak di pabrik kecil di luar kota. Kalau kontraknya habis, dia akan mencari pekerjaan lain. Tak jarang dia harus menganggur beberapa waktu dulu sebelum mendapat pekerjaan lain. Andi seorang pengusaha di bidang jasa. Penghasilannya tidak menentu. Kalau banyak yang order, keuangan aman. Kalau pas lagi sepi ya sepi.

Baca Juga:

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

Akhirnya, ketika cinta dibenturkan dengan ekonomi, cinta juga yang kalah. Janji suka dan duka dilalui bersama menguap sudah. Tidak semua. Saya yakin ada juga pasangan yang masih saling bertahan dan menguatkan meski ekonomi kekurangan. Tetap bisa tersenyum bahagia meski  besok bingung mau makan apa. Tapi sekali lagi, faktor ekonomi itu seperti pemantik api: terbakar jika di hadapannya adalah bensin, tapi bisa mati jika di hadapannya adalah air.

Untukmu yang jomblo, semoga tulisan ini tidak semakin menambah beban pikiranmu ya. Pasangan aja belum dapat, lha ini kok ditambah tulisan tentang beratnya pernikahan. Kalau memang nanti sudah bertemu jodoh yang tepat (yang tepat, bukan yang cepat), menikah saja. Adanya suatu perceraian jangan sampai membuat takut untuk menikah. Cemen, ah.

BACA JUGA Petaka dari Pertanyaan “Kapan Nyusul Nikah?” Pas di Kondangan dan tulisan Dyan Arfiana Ayu Puspita lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 April 2020 oleh

Tags: CintaperceraianPernikahan
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Cerita Penyintas Gangguan Mental yang Dapat Stigma Negatif di Masyarakat terminal mojok.co

Menikah Bukan Solusi Capek Kuliah

19 Maret 2020
Nyore Bahagia sambil Mempersiapkan Pernikahan di Festival Kecil Sore Hari

Nyore Bahagia sambil Mempersiapkan Pernikahan di Festival Kecil Sore Hari

8 Agustus 2023
Menyulap Benci Jadi Cinta Lewat Benjamin Franklin Effect

Menyulap Benci Jadi Cinta Lewat Benjamin Franklin Effect

11 Januari 2020
Anatomi Perasaan Ibu oleh Sophia Mega: Ibu Tak Harus Selalu Sempurna

Anatomi Perasaan Ibu oleh Sophia Mega: Ibu Tak Harus Selalu Sempurna

15 September 2023
Romantisme Hollywood Memfasilitasi Kecintaan Kita pada Badboy dan Fakboi terminal mojok.co

Seandainya Saya Jadi Sinta dalam Kisah Ramayana

31 Maret 2020
Hukum Poligami Sekaligus Tata Cara Melakukannya Seperti yang Viral di Medsos terminal mojok.co

Kekeliruan pada Kartu Undangan Pernikahan yang Tak Kita Sadari

7 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Penyesalan yang Akan Kalian Rasakan jika Kuliah di Bangkalan Madura, Pikir-pikir Lagi

Pemkab Bangkalan Madura Diisi oleh Pejabat Lebay, Banyak Ritual Cuma Pengen Dapat Pujian!

1 Maret 2026
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Sidoarjo Nggak Perlu Capek-capek Saingan sama Surabaya, Cukup Perbaiki Jalan yang Lubangnya Bisa Buat Ternak Lele Saja Kami Sudah Bersyukur!

24 Februari 2026
Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal Mojok.co

Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal

27 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026
Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.