Jalur Pantura dan sejumlah ruas penghubung memang memiliki kewenangan berbeda-beda, tergantung pada status jalannya. Ada yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat karena berstatus jalan nasional, ada yang di bawah kewenangan pemerintah provinsi sebagai jalan provinsi, dan ada pula yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Perbedaan status ini sering kali membuat masyarakat bingung ketika terjadi kerusakan harus mengadu ke mana, dan siapa yang seharusnya bergerak cepat.
Bagi pengguna jalan seperti Mbak Nia, yang terpenting sebenarnya bukan soal siapa yang berwenang, melainkan kapan jalan tersebut diperbaiki. Apalagi menjelang Ramadan dan Idulfitri, arus kendaraan dipastikan meningkat. Banyak perantau yang pulang kampung, kendaraan logistik tetap berjalan, dan aktivitas masyarakat makin padat. Jalan yang rusak tentu meningkatkan risiko kecelakaan.
BACA JUGA: Dulu Primadona, Kini Jalur Juwana-Batang jadi Neraka di Pantura
Pantura memang vital, harusnya jadi perhatian utama
Pantura sendiri dikenal sebagai jalur vital. Truk-truk besar bermuatan berat setiap hari melintas, membawa hasil industri dan kebutuhan pokok. Beban kendaraan yang tinggi memang menjadi salah satu faktor cepat rusaknya jalan. Namun tanpa perawatan rutin dan perbaikan menyeluruh, kerusakan kecil bisa berubah menjadi lubang besar yang membahayakan.
Kondisi ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan juga keselamatan dan kelancaran ekonomi. Jika kendaraan harus memperlambat laju karena jalan berlubang, distribusi barang bisa terhambat. Jika pengendara terjatuh akibat lubang yang tak terlihat, dampaknya jauh lebih serius lagi.
Mbak Nia mengaku tetap bersyukur bisa pulang ke Pati dan berkumpul bersama keluarga. Namun pengalaman di perjalanan itu meninggalkan kesan tersendiri. Ia berharap ada percepatan perbaikan, terutama di titik-titik yang sudah rusak parah. “Semoga sebelum puncak mudik, sudah ada perbaikan. Kasihan kalau banyak yang celaka cuma gara-gara jalan rusak,” katanya.
Harapan itu tentu bukan hanya milik Mbak Nia. Banyak pengguna jalan lain yang merasakan hal serupa. Mereka tidak menuntut jalan sekelas tol, hanya ingin jalur utama yang aman, rata, dan tidak penuh lubang.
Menjelang Ramadan, momen kebersamaan dan pulang kampung seharusnya diwarnai rasa tenang, bukan kecemasan di jalan. Perbedaan kondisi antara Kudus yang sudah mulus dan Demak yang masih penuh lubang menjadi pengingat bahwa pemerataan perbaikan infrastruktur sangat penting.
Semoga ke depan, perjalanan lewat Pantura tak lagi menghadirkan rasa heran, melainkan rasa nyaman dari awal hingga tiba di kampung halaman. Karena bagi para perantau yang ingin pulang, jalan yang aman adalah awal dari kebahagiaan bertemu keluarga.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















