Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pergeseran Gaya Berkendara di Jalanan Kota Jogja, Semakin Kencang dan Tidak Sabaran. Plat AB, B, D, F, H Sama Saja!

Kristoforus Alvin AM oleh Kristoforus Alvin AM
21 Mei 2025
A A
Sudah Saatnya Warga Jogja Menggunakan Fitur Klakson Saat Berkendara, Sebab Jalanan Jogja Sudah Mulai Berbahaya jogja istimewa purwokerto

Sudah Saatnya Warga Jogja Menggunakan Fitur Klakson Saat Berkendara, Sebab Jalanan Jogja Sudah Mulai Berbahaya (Jauzax via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Seminggu terakhir, saya hampir tertabrak dua kali saat berkendara di jalanan Kota Jogja. Padahal, saya berkendara pelan, dan sudah di jalur yang tepat, yaitu di jalur kiri. Tapi, nyatanya, berkendara pelan di lajur kiri sepertinya bukan jaminan keselamatan diri. Nasib terlalu bergantung pada pengendara lain. Gaya berkendara orang-orang semakin tidak terkendali.

Insiden pertama terjadi di perempatan Gramedia, ketika saya melaju dari arah timur hendak belok kiri ke selatan. Dengan kesadaran penuh, saya mengambil lajur kiri. Ruas itu telah dipadati kendaraan yang sebenarnya hendak lurus ke barat, tetapi berjalan lirih sembari mengambil kesempatan tancap gas saat lampu berubah hijau. Benar saja, ketika lampu APILL menyala hijau, sepersekian milidetik klakson kompak berbunyi “tan, tin, tan, tin”.

ADVERTISEMENT

Dalam kecepatan rendah, saya bersiap belok ke kiri. APILL mendadak berganti kuning. Tiba-tiba sekejap, wuush… mobil dari arah belakang menyerempet sisi kanan Revo buntut saya.

Masih berada di ruas jalan yang sama, insiden kedua berlangsung. Pada lain waktu, saya melewati pertigaan C. Simanjuntak dari arah utara. Pertigaan ini hanya memiliki dua fase lampu merah. Saat arah utara berhenti, kedua ruas arah timur-barat dan sebaliknya berjalan bersamaan. Apabila arah utara melaju, seharusnya laju kendaraan pada kedua ruas tadi berhenti. Namun realitanya, banyak pengendara menerobos dari arah timur ke barat dengan kecepatan tinggi.

Saya yang hendak ke arah sentra ban Kotabaru Jogja, otomatis mengambil lajur kiri setelah berbelok ke arah barat. Saya kira, pengendara yang gemar menerobos itu bakal segan dan menurunkan kecepatannya. Asumsi saya keliru. Nyaris saja, kami hampir saling bertubrukan. Penerobosan itu berlangsung amat cepat dan tanpa ada rasa bersalah.

Kenapa orang Jogja terpengaruh?

Kejadian seperti ini bisa jadi menimpa pembaca sekalian, entah sebagai korban atau tersangka. Sebenarnya, pelanggaran lalu lintas bukanlah fenomena yang baru. Akan tetapi, saya melihat adanya pergeseran gaya berkendara, termasuk “tata laku” pelanggar di jalanan Kota Jogja.

Dahulu, saya mengenal betul tingkah laku para pelanggar itu. Mereka yang melanggar rambu, bertingkah dengan malu-malu. Segan, melempar senyum, dan menunduk seolah memohon ampun. Gaya ini telah jarang ditemukan tempo hari. Sekarang, pelanggar bertindak culas, penuh amarah, dan luwih galak!

Kita tidak dapat serta merta mengkambinghitamkan fenomena ini kepada plat nomor tak bersalah. Sebab sejatinya, mau plat B, D, F, H, bahkan AB kelakuannya sama saja!

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Toh apabila hipotesis pengendara dari luar Jogja ugal-ugalan terbukti benar, kejadian ini patut menjadi refleksi kita, warga Jogja. Mengapa peribahasa ‘bumi dipijak, langit dijunjung’ tidak terwujud? Nyatanya bukan pendatang yang menyesuaikan diri dengan kultur “unggah-ungguh” khas Jogja, tetapi malah kita—sebagian warga Jogja—yang terbawa arus.

Sialnya, arus kali ini membawa kita ke arah yang jauh, seperti emosionalitas tak menentu, kesabaran setipis tisu, dan empati sosial menurun. Cukup disayangkan, perubahan tersebut hanya berlaku di jalanan, namun tidak pada perekonomiannya.

Jalan satu arah jadi solusi? Tunggu dulu

Terdapat satu hal yang harus kita pahami. Tata kota jalanan Kota Jogja tidak dirancang untuk mengakomodasi perubahan gaya berkendara masyarakat yang serba cepat. Ruas jalan yang sempit ditambah kebiasaan parkir liar di ruang milik jalan menjadi penyebab. Jalan kecil dua arah memang tidak kompatibel untuk kebut-kebutan.

Lalu, apakah memperbanyak jalan satu arah adalah solusi?

Tunggu dulu, Anda perlu menanyakan hal ini kepada warga Kemetiran dan sekitarnya. Tentu bukan tanpa alasan jika Jl. Letjen Suprapto alias Monte Carlo-nya Circuit de Patuk perlu diberikan halang rintang sebegitu banyaknya. Masalah lain yang menjadi perhatian adalah keberadaan polisi lalu lintas yang semakin jarang. Pengatur lalu lintas malah didominasi oleh Pak Ogah yang memang ogah-ogahan melancarkan arus kendaraan. Bukan rahasia lagi, saat momen tertentu, keberadaan Pak Ogah justru memperparah kondisi lalu lintas.

Apabila pihak luar tidak lagi dapat diandalkan, kita sendirilah yang harus berubah. Pengendalian emosi seperti tes psikologi waktu pembuatan SIM perlu diseriusi. Pengetahuan dan kepekaan akan marka dan tanda keselamatan perlu ditingkatkan. Kewaspadaan saat berkendara, istirahat di kala lelah, dan empati sosial “andhap asor” khas Ngayogyakarta Hadiningrat perlu kembali digalakkan.

Setidaknya, di tengah keruwetan jalan yang tiada hentinya, seperti lubang di Jalan Godean, kita telah berusaha. Setidaknya, konflik dan permasalahan antarpengendara tidak membuat gelap mata, seperti lampu penerangan ketika malam. Terakhir, setidaknya, kita masih bijak.

Senada dengan suara warga Ngampilan, mari kita gaungkan: Jalan Kota Jogja Bukan Sirkuit!

Penulis: Kristoforus Alvin AM
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Cara Berkendara Motor Orang Jogja bikin Bingung dan Kaget Orang Surabaya, Lampu Hijau pun “Beda Arti”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2025 oleh

Tags: jalanan kota jogjaJogjapengendara jogja
Kristoforus Alvin AM

Kristoforus Alvin AM

Pemerhati rasi dan mitigasi. Menulis hal sederhana dan bermakna.

ArtikelTerkait

Trans Jogja di Mata Pendatang, Transportasi yang Berguna walau Awalnya Saya Kira Bus Wisata Mojok.co

Trans Jogja di Mata Pendatang, Transportasi yang Berguna walau Awalnya Saya Kira Bus Wisata

22 Maret 2024
Warung Kopi Merapi Jogja Warung Kopi Terbaik di Tanah Vulkanik (Unsplash)

Warung Kopi Merapi Jogja: Warung Kopi Terbaik di Tanah Vulkanik

6 April 2025
Susahnya Bersepeda di Jogja, Kota Pendidikan yang Harusnya Ramah Sepeda

Susahnya Bersepeda di Jogja, Kota Pendidikan yang Harusnya Ramah Sepeda

27 September 2023
Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! konten kreator jogja

Kampanye Jogja Murah Itu Memang Penuh “Tipu Daya”, tapi Mau Tak Mau, Harus Kita Terima dan Tak Harus Dilawan

15 Juni 2025
Surabaya Jauh Lebih Superior dari Semarang (Unsplash)

Semarang Boleh Lebih Superior Ketimbang Cikarang, tapi Masih Kalah Jauh Dibandingkan Surabaya

17 Juli 2023
Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!

Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!

6 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Drama pembayaran tunai ojol, uang kembalian jadi menguras waktu dan energi saya Mojok.co

Niat beli makanan lewat layanan pesan antar ojol supaya praktis, eh berujung repot karena driver tak punya kembalian

20 Juli 2026
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026
Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau? (Unsplash)

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

15 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Lika-liku kurir saat mengantar paket COD ke desa, kadang jadi pahlawan, seringnya jadi pesakitan

16 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.