Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
19 Juli 2021
A A
Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Bisa dibilang saya jenis perempuan yang nggak suka memakai aksesori seperti gelang, kalung, dan sebagainya. Mau itu emas atau imitasi, saya nggak terlalu suka. Palingan cuma jam tangan yang bisa dimaklumi oleh tubuh saya. Selebihnya saya risih dan merasa ribet kalau harus pakai aksesori emas-emasan seperti itu.

Mungkin banyak perempuan di luar sana yang suka memakai perhiasan emas atau paling nggak yah mengoleksinya sebagai tabungan. Nggak salah, sih, selera orang mah terserah saja, bebas. Tapi kalau saya sendiri kurang suka. Untuk investasi, jujur saya lebih suka jenis investasi yang bergerak, ketimbang menimbun emas. Sedangkan untuk perhiasan sendiri, sejak kecil saya nggak pernah pakai perhiasaan karena memang nggak punya. Eh, setelah dewasa ternyata jadi nggak terbiasa dan risih kalau pakai perhiasan. Makanya saya pakai cincin kawin itu cuma bisa dihitung jam saja, hanya buat gaya-gayaan foto nikah habis itu dimuseumkan.

ADVERTISEMENT

Setelah tinggal di kota, saya sering bepergian sendiri naik kendaraan umum ke luar kota. Menurut saya, memakai perhiasaan bikin perjalanan nggak nyaman saja gitu. Merasa was-was dan malah mengundang bahaya penjambretan. Makanya nggak pakai perhiasaan kayak gitu adalah pilihan paling solutif menurut saya ketika kita berpergian.

Saya kira tentang ketidaksukaan saya memakai perhiasaan ini nggak akan menimbulkan masalah atau merugikan orang lain, namun saya salah. Setelah menikah, ternyata arti sebuah perhiasaan itu sangat berarti di mata orang lain. Gara-gara saya nggak memakai cincin kawin contohnya, saya sering sekali mendapat ribuan pertanyaan. Padahal apa hubungannya cincin sama status pernikahan coba? Apa karena saya nggak pakai cincin terus artinya saya belum menikah? Aneh.

Gara-gara saya nggak pernah pakai perhiasaan, tiap kali pulang kampung saya selalu dipandang menyedihkan oleh keluarga besar suami. Bapak mertua saya yang sudah berusia 90 tahun itu sampai memandang saya iba. Dikira anak lelakinya itu nggak kuat beliin saya emas-emasan. Beliau sampai ngomong berulang kali ke suami buat beliin istrinya perhiasaan. Bapak saya itu orang zaman dulu, sehingga masih menganggap bahwa perempuan itu sudah seharusnya pakai emas-emasan sebagai bentuk tabungan. Saat tahu menantunya nggak pakai emas, Bapak menyangka bahwa anak lelakinya bekerja bertahun-tahun itu nggak menghasilkan apa pun. Hehehe.

Belum lagi saudara-saudara suami yang notabene semua perempuan. Di keluarga besar suami itu rata-rata semua pakai perhiasan emas sampai berkilauan, sehingga saya yang polosan kayak gini nampak banget berbeda tiap kali kumpul keluarga. Saya cuma mesam-mesem tiap kali semua orang menyerang suami gara-gara nggak mampu beliin istrinya perhiasaan. Padahal aslinya, suami sudah menawari saya berkali-kali, tapi saya lebih suka dihadiahi buku atau pakan kucing ketimbang perhiasaan.

Ternyata gara-gara nggak suka pakai perhiasaan gini imbasnya yang kena suami. Mertua ataupun keluarga suami juga merasa tertekan gara-gara dikira nggak sanggup menyenangkan anak orang. Meski kedengarannya lucu, tapi fakta di lapangan kayak gitu adanya. Kesuksesan lelaki itu ternyata kalau di kampung suami bisa dilihat dari seberapa gemerlapnya perhiasan yang dipakai istrinya.

Nggak hanya di kampung suami, sih, di kampung saya ya gitu juga. Tiap kali kondangan saya polosan nggak pakai perhiasaan gitu, orang mah memandangnya dari atas sampai bawah. Mereka nggak peduli baju, tas, atau sandal yang dipakai branded atau nggak, yang penting pakai emas atau nggak. Semakin krincing-krincing kayak toko emas berjalan, maka semakin santun orang ngomong sama kita.

Baca Juga:

Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung

Di dunia persembakoan saja lah. Saya beberapa kali disepelekan waktu kulakan di gudang sembako gitu. Penjualnya itu ngomongnya ketus banget, basan sama ibu-ibu yang gelangnya kayak artis India, eh, kok ramahnya bukan main. Bukannya berburuk sangka, tapi ini sudah kejadian di banyak tempat, makanya saya bisa ngomong kayak gitu. Di sini, image pemilik sembako atau juragan sembako itu rata-rata emas-emasan yang dipakainya banyak. Jadi sekali lihat bisa tahu, dia punya uang atau nggak.

Percaya atau nggak, tiap kali saya jaga warung pasti orang yang beli selalu tanya, “Yang punya mana, Mbak?” Nggak salah juga, sih, soalnya saya melihat kios sembako itu rata-rata pemiliknya itu pakai emas-emasan semua. Kalau tampang kayak saya gini paling banter dikira penjaga warungnya, makanya saya maklum saja. Soalnya wajah juga nggak mendukung, sih.

Pernah juga ya ada mas-mas semacam rentenir gitu datang ke warung saya buat menawarkan pinjaman. Saya langsung menolak baik-baik, eh si masnya malah bilang, “Saya nggak nawarin Mbaknya, saya itu mau nawarin yang punya warungnya!” Asem, kok!

Kadang nggak masuk akal saja, di zaman modern kayak gini orang masih memandang orang lain kok dari perhiasan yang dipakai. Tapi ya memang gitu kenyataannya. Saya beberapa kali mendengar pergibahan di antara emak-emak, ternyata penggunaan perhiasaan kayak gini tuh masih ramai dan semarak diperbincangkan.

Meski begitu, saya mah tetap masa bodo. Ya kali ngalahin pakai perhiasaan tapi menyiksa diri sendiri. Kalau ditanyain tentang mas-masan, paling saya dengan santai jawab, “Sudah punya e-mas tuh 65 kilo, mas bojo!”

BACA JUGA Perihal Perempuan yang Nggak Suka Pakai Perhiasan Emas Berikut Alasannya dan tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: emaskampungKeuangan Terminalperhiasanstigma di masyarakat
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

pajak pendidikan SPT Tahunan PPH orang Pribadi perpajakan Orang Pribadi influencer pajak npwp mojok.co

Sebaiknya Penetapan Pajak pada Jasa Pendidikan dan Sembako Dibatalkan Saja

11 Juni 2021
Derita Anak Kampung yang Kuliah, Dikira Master of Everything terminal mojok.co

Sebagai Anak Kampung yang Kuliah, Saya Dianggap Master of Everything

15 Oktober 2020
Kelemahan Menabung Emas di Pegadaian yang Nggak Disadari Banyak Orang Mojok.co

Kelemahan Menabung Emas di Pegadaian yang Perlu Disadari Banyak Orang

12 Agustus 2024
Mending Beli Perhiasan Emas atau Emas Murni? Ini Pertimbangannya! terminal mojok.co

Mending Beli Perhiasan Emas atau Emas Murni? Ini Pertimbangannya!

17 Agustus 2021
PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit Terminal

PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit

8 Mei 2026
Punya Rumah Gede di Kampung Nggak Menjamin Strata Sosialnya Juga Tinggi terminal mojok.co

Punya Rumah Gede di Kampung Nggak Menjamin Strata Sosialnya Juga Tinggi

17 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.