Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Perbedaan Psikolog dan Psikiater yang Perlu Kalian Pahami biar Nggak Salah Kaprah

Jelang Hardika oleh Jelang Hardika
23 Juli 2022
A A
Perbedaan Psikolog dan Psikiater yang Perlu Kalian Pahami biar Nggak Salah Kaprah Terminal Mojok

Perbedaan Psikolog dan Psikiater yang Perlu Kalian Pahami biar Nggak Salah Kaprah (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Emangnya apa sih perbedaan psikolog dan psikiater?

“Halo, Dok, saya ambil konseling ini mau nyeritain soal pacar saya,” ujar klien online pada saya. Hmmm, orang ini masih salah kaprah soal profesi psikolog, nih, kata saya dalam hati. Faktanya, psikolog bukanlah dokter, Gaes.

Sebagai seorang psikolog, saya masih cukup banyak menjumpai orang yang belum bisa membedakan antara psikolog dan psikiater. Nggak apa-apa, sih. Wajar. Tapi, biar nggak jadi kesalahan massal turun temurun, maka saya merasa perlu meluruskan.

Meski kedua profesi tersebut sama-sama berkecimpung dalam bidang kesehatan mental, sebenarnya tetap ada perbedaan antara psikolog dan psikiater, lho. Hal ini perlu kalian ketahui agar nantinya kalian dapat menentukan harus pergi ke mana jika diri sendiri atau orang sekitar kalian mengalami permasalahan mental.

#1 Perbedaan Psikolog dan Psikiater: Segi pendidikan

Psikolog adalah profesi dengan latar belakang pendidikan psikologi. Mudahnya, ia adalah seorang lulusan S1 Psikologi, kemudian melanjutkan pendidikan S2 Psikologi Profesi. Untuk gelarnya adalah M.Psi., Psikolog. Kalau kurikulum lama, seorang lulusan S1 Psikologi cukup mengambil profesi dan sudah bisa menjadi psikolog. Lalu mulai sekitar tahun 2003, untuk menjadi psikolog, seseorang diharuskan menempuh pendidikan S2 Psikologi Profesi.

Sementara itu, seorang psikiater latar belakang pendidikannya adalah S1 Kedokteran. Setelah lulus, ia perlu menempuh pendidikan spesialis kejiwaan. Ia akan mendapat gelar Sp. KJ (Spesialis Kejiwaan) begitu lulus pendidikan spesialis.

#2 Perbedaan Psikolog dan Psikiater: Pembagian spesialisasi

Psikolog memiliki beberapa spesialisasi. Kalau dalam internal kami, biasanya disebut sebagai peminatan. Ada psikolog klinis, pendidikan, dan industri. Psikolog klinis menangani permasalahaan-permasalahan gangguan psikologis seperti kecemasan, stres, dan depresi. Psikolog pendidikan lebih kepada permasalahan-permasalahan akademik siswa dan sistem dalam sekolah. Sementara psikolog industri biasanya menangani asesmen, rekrutmen, intervensi, dan pengembangan Sumber Daya Manusia.

Sedangkan spesialisasi di kedokteran sebagaimana yang kita ketahui ada spesialiasi mata, jantung, paru-paru, THT, penyakit dalam, kejiwaan, dan lain sebagainya. Jadi, setelah dokter umum memutuskan untuk melanjutkan ke spesialisasi kejiwaan, ya hanya ada itu, nggak ada pembagian seperti kejiwaan pendidikan atau industri. Artinya, spesialisasi tersebut bisa diterapkan pada ranah apa pun.

Baca Juga:

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Jurusan BK Adalah Jurusan Paling Dibutuhkan di Indonesia, karena Petinggi Negara Ini Hobi Bikin Warganya Pusing tapi Jarang Kasih Obat

#3 Perbedaan Psikolog dan Psikiater: Penyebutan dan jenis klien/pasien

Psikolog biasanya menyebut orang yang berkonsultasi dengan sebutan klien. Jenis kliennya sendiri biasanya adalah mereka yang mengalami gangguan psikologis ringan hingga sedang. Misalnya permasalahan cemas, kesepian, kendali emosi, self esteem rendah, fobia, gangguan kepribadian, konflik pasangan, konflik keluarga, atau depresi ringan.

Sementara psikiater, yang memang basic-nya dokter, menyebut orang yang berkonsultasi dengan mereka sebagai pasien. Seorang psikiater lebih concern terhadap gangguan psikologis sedang hingga berat yang dialami seseorang. Misalnya bipolar, Obsessive Compulsive Disorder (OCD), hingga skizofrenia..

Apakah pembagian pasien/klien ini saklek?

Tentu saja nggak. Seorang psikiater bisa menangani masalah-masalah pasien yang biasa ditangani seorang psikolog. Begitu juga sebaliknya, seorang psikolog bisa menangani klien bipolar atau skizofrenia.

Namun, biasanya yang ditangani psikolog adalah permasalahan psikososialnya, perilaku keseharian seperti rutin mandi atau nggak, serta fungsi klien; misalnya apakah mereka masih menjalankan proses belajar/bekerja dengan baik, apakah mereka masih mampu bersosialisasi dengan baik. Kalau ada gejala seperti halusinasi dan delusi, tentu akan lebih efektif dengan obat dari seorang psikiater.

#4 Perbedaan Psikolog dan Psikiater: Penanganan klien/pasien

Psikolog biasanya menangani klien dengan tiga cara, yakni konseling, psikoterapi, dan psikoedukasi.

Konseling biasanya dianggap orang awam sebagai curhat. Padahal keduanya berbeda. Konseling lebih menitikberatkan pada proses talk therapy yang di dalamnya bertujuan membuat klien bisa mengakui dan menyadari permasalahannya, pun menyadari respons pikiran, perasaan, dan perilakunya atas masalah yang dialami.

Lalu dari konseling tersebut, diharapkan klien mampu menentukan langkah ke depannya dari permasalahan tersebut. Jadi, sebenarnya solusi utamanya berasal dari klien sendiri, bukan psikolog. Tugas psikolog hanya mendengarkan dan memantulkan sehingga diharapkan muncul insight dari klien.

Psikoterapi sederhananya adalah terapi pada permasalahan psikologis. Ada beberapa pendekatakan psikoterapi yang biasanya digunakan psikolog, misalnya terapi perilaku, terapi humanistik, dan terapi kognitif. Tentu pemberian terapi ini nantinya menyesuaikan permasalahan, kondisi, dan kemampuan klien.

Psikoedukasi adalah pemberian edukasi terkait permasalahan klien dan hal-hal praktis yang bisa dilakukan baik pada klien individu maupun psikoedukasi masal. Misalnya terkait dengan latihan meditasi yang baik dan benar itu seperti apa, atau bagaimana mengelola perasaan cemas yang muncul, dsb.

Sementara itu, seorang psikiater lebih banyak menangani pasien dengan farmakoterapi atau terapi obat. Psikoterapi dan psikoedukasi juga bisa dilakukan psikiater ke pasien.

Apakah seorang psikiater juga bisa melakukan konseling? Tentu saja boleh. Namun, konseling ini idealnya sekitar 45-90 menit per sesi. Memang cukup lama, dan biasanya hanya psikiater yang punya ketersediaan waktu cukup tinggi yang bersedia melakukannya, tergantung jumlah pasien yang ia tangani di hari itu.

Dan perlu diketahui, konseling berbeda dengan konsultasi, ya. Konsultasi lebih ke arah tanya jawab, sedangkan konseling seperti yang saya tuliskan di atas.

Nah, itulah perbedaan psikolog dan psikiater. Semoga setelah membaca artikel ini, kalian nggak salah dan tertukar lagi antara keduanya, ya. Kalau kalian sedang mengalami permasalahan psikologis dan masih bingung mau ke psikolog atau psikiater, jangan bingung. Datang saja ke salah satunya. Semakin cepat berkonsultasi, semakin cepat pula masalah mental kalian tertangani dan mencegah kondisi yang lebih berat.

Penulis: Jelang Hardika
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Berani Konsultasi Psikologi untuk Pertama Kali Adalah Langkah Besar untuk Masalahmu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2022 oleh

Tags: Perbedaanpsikiaterpsikolog
Jelang Hardika

Jelang Hardika

Pria (29), suka dengerin curhatan, kadang jadi pusat perhatian mahasiswa(i).

ArtikelTerkait

Ketika Tidak Kuat Lagi, Biarkan Psikolog Hadir dan Mendengarkan

Psikolog adalah Cenayang dan Persepsi-persepsi Keliru yang Membuat Orang Enggan untuk Meminta Bantuan

7 Agustus 2020
Kursi Indomaret Memang Nyaman, tapi Tidak Bisa Menggantikan Peran Psikolog Mojok.co

Kursi Indomaret Memang Nyaman, tapi Tidak Bisa Menggantikan Peran Psikolog

22 September 2024
Berani Konsultasi Psikologi untuk Pertama Kali Adalah Langkah Besar untuk Masalahmu terminal mojok.co

Berani Konsultasi Psikologi untuk Pertama Kali Adalah Langkah Besar untuk Masalahmu

30 Maret 2021
perbedaan

Selama Bukan Berbedanya Perasaan Antara Kamu dan Dia, Semua Perbedaan Itu Indah

20 Juni 2019
gangguan jiwa psikolog Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

Karena ke Psikolog Mahal, Saya Mencoba Maklum pada Mereka yang Tingkahnya ‘Aneh’

11 Juli 2020
Solo dan Jogja, 2 Kota yang Kelihatannya Sangat Mirip tapi Punya Perbedaan yang Nggak Banyak Disadari

Solo dan Jogja, 2 Kota yang Kelihatannya Sangat Mirip tapi Punya Perbedaan yang Nggak Banyak Disadari

1 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Lupakan Teori Kuliner PNS, di Sidoarjo Kasta Tertinggi Warung Makanan Enak Ditentukan oleh Orang-orang Waktu Bubaran Pabrik

27 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Nasi Godog, Makanan Magelang yang Nggak Ramah di Lidah Pendatang, Tampilan dan Rasanya Absurd Mojok.co

Nasi Godog Magelang, Makanan Aneh yang Nggak Ramah di Lidah Pendatang

28 Februari 2026
Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Layak Diperebutkan, Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi Mojok.co

Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi

28 Februari 2026
Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.