Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Perawat, Tenaga Kesehatan yang Terlatih Patah Hati

Dhimas Raditya Lustiono oleh Dhimas Raditya Lustiono
28 April 2021
A A
FAQ yang Sering Diajukan Keluarga Pasien kepada Perawat Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi seorang perawat adalah pilihan yang penuh akan konsekuensi. Setelah mengucap sumpah profesi maka seorang perawat harus bersiap akan segala kemungkinan yang ada, entah hal itu buruk, atau bahkan sangat buruk sekalipun.

Profesi ini merupakan salah satu profesi yang tidak mengenal tanggal merah atau cuti bersama. Ketika orang lain masih bisa berkumpul bersama keluarga dalam rangka libur Natal atau libur Lebaran, mereka tetap bertugas sesuai dengan jadwal dinas.

ADVERTISEMENT

Menjalani profesi sebagai seorang perawat nyatanya memang tidak mudah di era masa kini. Masih ada saja yang menganggap perawat hanyalah asisten dokter, parahnya ada pula yang menganggap sebagai kacung.

Sehingga, tidak sedikit pasien atau keluarga pasien yang merasa superior ketika berhadapan dengan perawat. Hal ini tentu saja menjadikan Perawat adalah profesi yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Meski demikian, profesi ini memang sudah “terlatih patah hati” bahkan ketika dirinya masih berstatus calon perawat. Berikut ini beberapa hal yang membuat perawat semakin terlatih patah hati. You sing, you lose.

Tidak bisa melamar kerja di fasilitas kesehatan meski telah mendapatkan ijazah

Setelah mendapatkan ijazah dan berfoto dengan background buku filsafat, jangan harap seorang sarjana Keperawatan dapat langsung bekerja di rumah sakit, klinik atau puskesmas. Hal ini disebabkan calon perawat harus memiliki Surat Tanda Registrasi dan Sertifikat BTCLS (Basic Trauma Life Support). Tanpa kedua “senjata” tersebut, akan susah untuk mendapatkan pekerjaan, kecuali kalau punya koneksi orang dalam.

Untuk mendapatkan STR, seorang perawat harus dinyatakan lulus dalam ujian kompetensi (UKOM). Jika tidak lulus, harus mengulang uji kompetensi selanjutnya yang terkadang dilaksanakan tiga bulan kemudian.

Baca Juga:

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Terkadang, ada calon perawat yang gagal mengikuti uji kompetensi selama tiga kali. Konon adanya UKOM ini juga menjadi lahan bisnis bagi penyedia jasa bimbel, yang membuat program 100% sukses UKOM.

Selain UKOM ada pula sertifikat BTCLS, di mana untuk mendapatkan sertifikat ini tidaklah gratis, sertifikat ini juga harus diperbaharui selama lima tahun sekali dan untuk mendapatkannya tidaklah gratis.

Lowongan kerja yang cukup susah

Setelah mendapatkan STR dan Sertifikat BTCLS, maka berubahlah status calon perawat dari pengangguran menjadi pencari kerja, dari sinilah perawat akan membuat surat lamaran dan memperbanyak foto 3×4 dan 4×6.

Dulu lulusan Lulusan Akper bisa dengan mudah menjadi PNS, bahkan masa menganggur tidak sampai seminggu. Namun, saat ini institusi Keperawatan sudah mulai menjamur bahkan hampir di setiap kabupaten/kota telah memiliki STIKes/AKPer atau Universitas yang memiliki prodi Keperawatan.

Ketika lulusan semakin banyak dan perkembangan jumlah fasilitas kesehatan tidak sebanding dengan jumlah lulusan, maka yang terjadi adalah overload lulusan Keperawatan, hal ini menyebabkan lulusan keperawatan harus “sikut-sikutan” untuk mendapatkan pekerjaan.

Sehingga tak heran, jika ada puskesmas yang membuka lowongan 2 orang perawat honorer, maka akan ada ratusan pelamar yang mengirimkan map coklat dengan harapan mendapatkan pekerjaan dan terlepas dari label pengangguran.

Gaji yang humble

Nasib perawat, terutama yang berstatus honorer memang 11-12 dengan guru honorer. Padahal ketua PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Harif Fadilah pernah mengatakan bahwa idealnya Perawat mendapatkan gaji tiga kali UMP.

Namun faktanya, masih banyak perawat yang mendapatkan gaji kurang dari UMK, sehingga terkadang perawat harus menjalani pekerjaan sampingan agar token listrik tidak berbunyi, seperti jualan taperware atau jualan baju anak.

Rendahnya gaji juga didukung dengan stigma “gaji tibo keri, sing penting ora nganggur” yang artinya, gaji urusan belakangan, yang penting tidak jadi pengangguran.

Tak kenal tanggal merah

Ketika banyak kantor meliburkan karyawan menjelang hingga setelah lebaran, rumah sakit, klinik dan puskesmas 24 jam akan tetap beroperasi. Ya gimana, orang sakit tidak mengenal kata nanti.

Lupakan sejenak tentang sungkeman dan opor ayam buatan ibu yang super endeus. Jika perawat mendapatkan jadwal dinas saat hari raya, tentu tak ada pilihan lain selain tetap berangkat dinas.

Sasaran komplain

Perawat sering mendapatkan beragam komplain dari pasien atau keluarganya, mulai dari hal yang gawat hingga hal yang receh sekalipun.

Misalnya, galon di ruang rawat inap habis maka keluarga pasien akan menyatakan komplainnya kepada perawat. Tentu saja mengganti galon bukanlah tugas mereka, sehingga perawatlah yang akan menghubungi cleaning servis untuk mengantarkan galon. Jika galon tersebut tak kunjung datang, bukan cleaning servis lah yang dikomplain, melainkan perawatlah yang menjadi sasarannya.

Contoh lain, misal dokter praktik belum datang, maka perawat harus bersiap mendapatkan komplain “kok belum mulai?”. Namun setelah dokter praktik datang, pasien tersebut tidak akan komplain ke dokter yang sudah jelas datang terlambat.

Bahkan ada juga orang yang menganggap bahwa profesi di rumah sakit itu hanya ada dua, dokter dan suster. Sehingga ketika petugas pendaftaran yang melayani pasien dengan sikap judes, maka perawatlah yang terkena getahnya.

Komplain juga tidak hanya datang dari pasien atau keluarganya, terkadang komplain juga datang dari dokter yang tengah melakukan visite. Misalnya ketika dokter meminta pemeriksaan rontgent thorax secara CITO alias segera terhadap pasien Ny N, namun kebetulan radiografernya belum standby di ruangan karena suatu hal. Kalau sudah begini perawat jaga harus bersiap-siap mendengarkan kalimat dari dokter “saya nggak mau tahu, pasien ini harus segera di-rontgen”.

Selain itu ada pula kalimat template yang kerap diucapkan keluarga pasien, seperti “masuk ruangannya kapan?” “pulangnya kapan?” “dokternya kok belum visit”, pertanyaan tersebut terkadang tidak bisa dijawab hanya dengan satu hembusan nafas.

Sasaran perundungan

Selama pandemi Covid-19, perawat juga harus menelan pil pahit berupa perundungan dari masyarakat. Mulai dari dianggap penyebar virus, diusir dari kontrakan, sampai menerima  lemparan batu ketika hendak menjemput pasien suspect covid-19.

Hal-hal tersebut memang konsekuensi yang harus diterima. Mau sambat dikira manusia lemah, tapi kalau nggak sambat sayangnya kami tidak sekuat Avengers.

BACA JUGA Beragam Profesi di Rumah Sakit selain Dokter dan Perawat yang Perlu Diketahui dan tulisan Dhimas Raditya Lustiono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 April 2021 oleh

Tags: DokterPerawatprofesirumah sakit
Dhimas Raditya Lustiono

Dhimas Raditya Lustiono

Membawa keahlian komunikasi dari dunia penyiaran ke dalam ruang perawatan. Sebagai mantan penyiar radio yang kini menjadi perawat,

ArtikelTerkait

Gamping Sleman, "Pusat" Rumah Sakit di Jogja

Gamping, The Rise of Medical Empire: Kenapa Banyak Banget Rumah Sakit di Gamping?

15 Maret 2025
Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!

Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!

21 Agustus 2023
Surat Terbuka dari Tukang Bakso Keliling untuk para Intel di Indonesia

Surat Terbuka dari Tukang Bakso Keliling untuk Intel di Indonesia

12 Oktober 2021
Wartawan Adalah Profesi yang Sering Disalahpami Orang Desa Saya terminal mojok

Wartawan Adalah Profesi yang Sering Disalahpahami Orang Desa Saya

4 Juni 2021
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
Jangan Sakit di Bengkayang Kalimantan Barat: Rumit!

Jangan Sakit di Bengkayang Kalimantan Barat: Rumit!

18 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk pelajar Mojok.co

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar 

8 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

7 Agustus 2026
Takut ke Puskesmas karena malas hadepin antrean panjang (Unsplash)

Pergi ke Puskesmas itu tidak menakutkan, yang menakutkan menghadapi antrean panjang dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa

10 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.