Penyebab Utama DBD Bukan karena Nyamuk, dan Buat Saya Itu Mengejutkan

Artikel

Avatar

Setelah hampir 4 bulan lamanya, kembali saya bisa menyeruput secangkir kopi di warung kopi bersama dengan seorang teman saya. PLAAAKKK, ah nikmatnya. Lah kok bukan bunyi sruuttt khas orang menyeruput kopi?. Ternyata secara tidak sadar saya baru saja menampar pipi kawan saya dengan sepenuh hati. Bukan karena perkataannya yang minta dibayarin beberapa detik sebelum saya tampar, namun karena seekor nyamuk yang hinggap di pipinya.

“aduh sakit begoo”. Teriak kawan saya sembari memegang pipinya.

“sory coy, ada nyamuk soalnya tadi. Takutnya ntar lo kena DBD. Nih liat nyamuknya di tangan gue pake baju tahanan. Ini kan nyamuk yang suka buat demam berdarah” Merujuk tangan kanan saya yang baru saja menghempaskan seekor nyamuk biadab tersebut.

“Penyakit DBD itu ngga sesimpel itu penyebarannya. Lagian nyamuk aedes aegypti itu bukan penyebab utama DBD, walaupun mereka memang bisa membawa virus DBD.”

Terkejut saya mendengarnya. Karena sebagai orang awam, informasi tersebut telah merusak pemahaman saya yang menganggap nyamuk baju tahanan adalah penyebab utama penyakit DBD. Namun saya cukup yakin dengan informasi dari kawan saya ini, karena kawan saya memang cukup ahli dengan dunia pernyamukan. Background kawan saya adalah peneliti di instansi negara dan merupakan lulusan FKM. Belum lagi jika menilik pengalaman kerjanya sebelum jadi peneliti, yang merupakan surveilans puskesmas dengan tugas utama bagi-bagi bubuk abate gratis ke masyarakat.

Padahal dulu sewaktu mahasiswa, saya sering banget dipalak oleh ibu-ibu untuk membeli sebungkus bubuk abate seharga lima ribu. eh, ngga taunya ada profesi yang hobinya bagi-bagi bubuk abate gratis ke masyarakat.

Kembali ke informasi mengejutkan di awal. Menurut penjelasan kawan saya, nyamuk baju tahanan atau nama kerennya Aedes aegypti ini ternyata hanya sebagai vector dari agent yang bernama Virus dengue. Informasi ini terkesan simple, namun gagal dipahami sebagian besar masyarakat. Banyak yang tidak tahu bahwa DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan penularan melalui gigitan nyamuk. Artinya virus dengue adalah penyebab utama DBD, bukan si nyamuk baju tahanan penyebab utamanya.

Baca Juga:  Gotong Royong yang Masih Lestari di Desa

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata nyamuk belang-belang ini tidak semua membawa virus dengue. Hanya nyamuk betina yang punya potensi membawa virus dengue. Nyamuk betina membutuhkan darah mamalia untuk protein, protein ini dibutuhkan untuk proses reproduksi alias menghasilkan telur. Nah, kalau nyamuk jantan selain hobinya “menjamah” betina, mereka cuma makan nectar dan buah doang karena tidak membutuhkan protein untuk berkembang biak.

Perbincangan pun semakin menarik, ditemani dengan dua gelas kopi serta hentakan music akustik plak, plek, plok dari sekujur tubuh kami yang sibuk menampar nyamuk sana-sini. Kami semakin gencar berbincang mengenai dunia pernyamukan.

“tadi lo bilang penyakit DBD itu nggak sesimple itu untuk menyebar. Gimana tuh maksudnya.?

“Banyak faktor sebenarnya. Kalo alasan kurang hidup bersih atau males nguras bak mandi kayaknya udah sering dibahas. Nih gue tambahin satu informasi yang mungkin elo nggak tau. Penyebaran virus DBD itu salah satu faktornya dipengaruhi oleh frekuensi gigitan nyamuk ke manusia. Orang yang jarang bergerak 3,3 kali akan lebih banyak digigit nyamuk Aedes aegypti dibandingkan dengan orang yang lebih aktif. Makanya lansia atau orang model lo yang hobinya rebahan doang selama pandemi, lebih rentan tertular Virus DBD daripada orang yang aktif.”

“Lah susah amat ya idup. Keluar rumah kena corona, diem rebahan di rumah kena DBD.” kataku sambil menghela napas menyerah kepada nasib.

“Hehe,, ya mau gimana lagi. kita udah idup di zaman yang tidak aman.” katanya sambil tertawa bego.

Sejarah mencatat,  Indonesia sebagai negara tropis sudah sering menghadapi situasi KLB virus dengue setiap tahunya. Bahkan tahun ini, sebanyak 385 orang meninggal antara bulan Januari hingga 17 Juni 2020. Lantas darimana virus dengue berasal dan menjadi momok yang menakutkan terutama di setiap musim penghujan? Begini pendapat kawan saya walaupun mungkin belum terbukti secara pasti.

Baca Juga:  Ingat, ya! Ramadan Itu Satu Bulan, Bukan Satu Pekan

“Belum ada sih kepastian darimana virus DBD ini berasal. Namun satu yang gue yakini, virus bakal terus bermutasi dan bermunculan jika alam terus dirusak oleh manusia. Jadi selalu ada kaitan dengan kerusakan alam dan adanya penyakit baru yang muncul.”

“Gimana tuh maksudnya.?”

“Ada yang namanya istilah Zoonosis, Bahasa sederhananya penyakit yang berasal dari hewan dan menyebabkan penyakit pada manusia. Sekitar 60 persen penyakit di dunia diakibatkan oleh Zoonosis. Logikanya, semakin kita merusak lingkungan, maka ruang hidup buat hewan-hewan akan menyempit. Itu semakin mendekatkan manusia dengan hewan alam liar untuk berinteraksi secara langsung.”

Jawaban tersebut mungkin jarang kita jadikan refleksi utama dari alasan mengapa berbagai penyakit terus saja bermunculan dan bermutasi. Padahal berbagai penyakit yang kita hadapi saat ini bisa jadi karena kesalahan manusia yang terlalu serakah dengan merusak alam. DBD yang selalu muncul tiap tahunnya seakan tidak pernah dijadikan pembelajaran untuk lebih mencintai bumi kita. Virus dengue pertama kali  diisolasi pada tahun 1943 ketika perang dunia berlangsung oleh Hotta dan Kimura. Artinya, virus dengue ini memang muncul sebagai bentuk pertahanan diri bumi kita ketika manusia merusak alam. Lantas apakah COVID-19 juga akan bernasib sama dengan DBD yang tidak pernah menghilang semenjak kemunculannya di tahun 1943?

BACA JUGA Perkenalkan Juga Jurusan Ilmu Perpustakaan, Jurusan yang Bikin Kamu Susah Kaya dan tulisan Mochammad Wahyu Ghani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
14

Komentar

Comments are closed.