Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Penyanyi Cilik dan Lagu Anak-Anak yang Semakin Langka

Utamy Ningsih oleh Utamy Ningsih
23 Juni 2019
A A
penyanyi cilik

penyanyi cilik

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di era 90-an, kita tentu tidak asing dengan nama seperti: Joshua, Chikita Meidy, Maissy, Geofanny, Alfandi, Leoni, Dea Ananda, Tasya Kamila, Cindy Cenora, Sherina, Kak Ria dan Susan, dan masih banyak lagi nama lainnya yang terkenal sebagai penyanyi cilik atau penyanyi lagu anak.

Mereka-mereka yang pada saat ini tentu saja bukan lagi anak-anak—bahkan ada yang sudah punya anak—menjadi satu ciri khas tersendiri bagi generasi 90-an. Melalui lagu anak-anak yang mereka bawakan, masa kecil kita menjadi sesuatu yang selalu manis untuk dikenang. Pada masa itu, lagu anak-anak yang populer sangat beragam, mulai dari lagu ciptaan Ibu Sud, A.T. Mahmud, sampai pada lagu ciptaan Papa T Bob. Temanya pun beragam—tentang persahabatan, kegiatan sehari-hari, pengetahuan, nasionalisme, keberagaman, bahkan tema yang menyangkut orde baru pun ada. Dialah lagu berjudul Krismon dan Aku Cinta Rupiah dari Cindy Cenora.

Saat itu, lagu anak-anak juga punya tempat tersendiri di media. Salah satu stasiun televisi swasta pernah punya program khusus lagu anak-anak bertajuk Ci Luk Ba dan Dunia Anak. Program yang dipandu oleh penyanyi cilik—pada saat itu—tayang dengan durasi satu jam dan bisa dibilang menjadi tontonan wajib bagi kebanyakan anak-anak di Indonesia. Kala itu, bahagia sungguh sederhana—sesederhana lagu anak-anak favorit ditayangkan dalam program Ci Luk Ba dan Dunia Anak.

Seiring berjalannya waktu, kedua tayangan tersebut hilang bersama dengan mulai langkanya penyanyi cilik dan lagu anak. Sampai akhirnya, ada stasiun televisi yang membuat ajang pencarian bakat penyanyi cilik. Tapi dalam perjalananya, program tersebut juga ternyata tidak mampu menghidupkan kembali masa kejayaan lagu anak-anak. Pesertanya bahkan ada yang justru menyanyikan lagu dewasa saat tampil. Hal ini jadi menimbulkan pertanyaan—sudah sebegitu berjaraknya kah kita dengan lagu anak-anak?

Tidak bisa dimungkiri, pihak-pihak yang merasa miris dengan fakta langkanya lagu anak, sudah berusaha untuk menghidupkan kembali masa kejayaan lagu anak. Para penyanyi cilik era 90-an tercatat pernah merilis lagu berjudul Save Lagu Anak sebagai wujud kepedulian mereka terhadap lagu anak. Selain itu, melalui YouTube ada Naura dan Saga Omar Nagata—putra pertama Anji, mantan vokalis Drive—yang juga merilis lagu anak-anak. Tapi efeknya juga tidak menyeluruh—dalam artian mereka hanya dikenal oleh kalangan tertentu.

Di tengah arus langkanya penyanyi cilik, memperkenalkan lagu anak kepada anak-anak memang bukan perkara mudah. Di televisi, tayangan lagu anak sudah tidak semarak dulu. Kaset lagu anak pun sudah sangat langka dijual. Yang masih ramai beredar justru kaset bajakan dengan kualitas gambar dan suara yang tidak bagus. Hal ini juga menjadi masalah lain yang semakin menambah daftar panjang masalah tentang sulitnya anak-anak mengakses lagu anak. Meski demikian, tantangan dan masalah yang dihadapi terkait langkanya penyanyi dan lagu anak seharusnya tidak menjadikan para orang tua mengambil jalan pintas dengan membiarkan anaknya mengonsumsi atau terkontaminasi lagu dewasa dengan lirik yang tentu saja tidak pantas dinyanyikan oleh anak-anak.

Kita mungkin masih tidak asing dengan lagu Lelaki Kardus yang sempat viral beberapa waktu lalu. Lagu dengan lirik yang mengandung kalimat umpatan dinyanyikan oleh anak-anak yang justru dianggap wajar oleh orang tuanya sendiri. Sekilas hal ini terlihat lucu—sama seperti ketika ada orang tua di sekitar kita yang bangga karena anaknya sangat fasih bernyanyi lagu dewasa. Padahal faktanya, anak-anak yang ‘dicekoki’ lagu-lagu dewasa, perkembangan mentalnya akan terganggu. Ringkasnya—anak-anak akan tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Memperbaiki atau mengulang kembali masa kejayaan lagu anak-anak memang menjadi tanggung jawab banyak pihak, termasuk keluarga. Keluarga sebagai pihak yang paling dekat dengan anak-anak sebaiknya mulai membiasakan diri untuk memutar atau menyanyikan lagu anak jika sedang menghabiskan waktu bersama anak-anak. Jangan mau kalah dengan tukang odong-odong.

Baca Juga:

Iklan Indomilk Gemas 2022: Iklan Cerdas yang Tampar Masyarakat Indonesia

Iklan Kritik Sosial Terbaik Jatuh kepada Sampoerna A Mild

Disadari atau tidak, mereka sudah menjadi salah satu pihak yang telah berjasa dalam merawat lagu anak-anak. Hanya dengan modal seribu atau dua ribu rupiah, anak-anak akan diakrabkan dengan lagu anak yang ceria. Bukan tidak mungkin, kita yang ikut mendengarkan akan dibawa bernostalgia ke masa anak-anak. Masa yang bahagia—masa saat kesedihan hanya sebatas kalah karena bermain gundu.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita lebih peka dengan permasalahan langkanya lagu anak. Di YouTube masih bisa ditemui lagu anak-anak yang pernah hits di era 90-an. Jika sudah mulai lupa dengan lagu anak-anak, sesekali bisalah cari referensi di YouTube atau di media sosial lain. Percayalah, di balik sisi negatif yang sering didengungkan banyak orang, media sosial—termasuk YouTube— juga punya banyak sisi positif. Buktinya saat ini sudah ada universitas yang menerima mahasiswa baru yang punya subscribers YouTube minimal 10.000, bukan?

Media sosial akan menjadi  racun atau penyelamat—semua bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Setuju?

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: generasi 90anKritik Sosiallagu anak-anakpenyanyi cilik
Utamy Ningsih

Utamy Ningsih

Suka Membaca, Belajar Menulis.

ArtikelTerkait

bahasa slang g

Nostalgia Bahasa Slang Iginigi

7 Juli 2019
menggugat mantan

Menggugat Mantan

12 Agustus 2019
dokter

Dokter, Pasien Butuh Senyum Bukan Cuma Resep Obat

24 Juni 2019
gorengan

Kelakuan Para Pembeli Gorengan: Lain yang Dipegang, Lain Pula yang Dibeli

29 Agustus 2019
tukang parkir

Beberapa Jenis Tukang Parkir yang Menyebalkan

19 Juni 2019
tukang parkir

Saya Usul Supaya Profesi Tukang Parkir Jadi Pilihan Cita-Cita

11 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.