Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Miskin Enggan, Kaya Tak Mampu

Amelia Hakim oleh Amelia Hakim
22 Mei 2019
A A
enggan miskin

enggan miskin

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang yang lebih senang menghayal dan kebanyakan mikir ketimbang bekerja, cukup sering pertanyaan ini muncul dari otak saya “kelas sosial saya di mana ya sekarang?”

 

“Saya di kelas mana ya?”

Dulu saat masih kuliah, saya cukup yakin berada di kelas menengah. Kuliah bayar semester nggak pernah nunggak, pulang masih bisa 6 bulan sekali dan saat wisuda, saya bisa jahit kebaya biar dari atas sampai bawah berpenampilan seirama. Hal tersebut menurut saya sudah cukup buat addressing saya sebagai manusia kelas menengah sedikit ke atas.

Meskipun sesekali saya pernah membagi dua sebungkus Indomie kuah buat jadi lauk nasi selama 2 hari. Tapi, bukannya salah satu fitrah anak kuliahan yang ngekos adalah ‘sekaya-kayanya kau, pasti pernah nelangsa juga kalau  jatah bulanan dipake foya-foya di awal bulan?’

 

“Saya di kelas mana ya?”

Sekarang saya telah bekerja selama 2 tahun, dengan gaji pas-pasan, masih bisa foya-foya sih, tapi habis itu tiap hari harus meluangkan waktu saat kerja buat ngitungin saldo rekening dengan sisa hari menuju awal bulan. Alibinya sih buat mempertajam kemampuan hitung-hitungan saya.

Baca Juga:

5 Alasan Orang Kaya Ingin Terlihat Miskin, Menghindari Pajak Bukan Satu-satunya!

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

 

Saya juga cukup sering bertanya dalam hati, sekarang saya berada di kelas mana ya? Meskipun tidak seberani saat kuliah, tapi pertanyaan ini sering muncul ketika saya membeli barang saat melihat price tag-nya, saat baca-baca artikel, dengerin podcast dan bahkan saat cek slip gaji yang nominalnya cuma berubah saat masa probation berakhir.

Ternyata setelah ditelisik lebih jauh—dengan mempertimbangan jumlah tabungan saya—saya merasa tidak naik kelas dan bahkan harus hengkang dari kelas menengah sedikit ke atas itu. Saya sebenarnya tidak terima. Sebagai orang yang telah menempuh pendidikan selama 16 tahun, tentunya saya enggan disebut miskin, toh hidup saya tidak susah-susah amat. Tapi kenyataanya, saya juga tidak cukup mampu menjadi orang kaya versi standar sosial sekarang.

Di negara berflower berkembang macam Indonesia, entah kenapa kelas sosial menjadi concern bagi kebanyakan orang. Sudah jelas ada kalangan bawah, kalangan menengah, kalangan atas. Atau ada juga yang menyederhanakannya menjadi kalangan menengah ke atas dan kalangan menengah ke bawah, untuk menghindari kepayahan orang-orang untuk menyebut diri mereka dari kalangan bawah.

Pengelompokan ini yang membuat kita semakin terkotak-kotakkan. Sekedar keluhan saja, hidup di Indonesia tuh terlalu banyak pengelompokan, barat-timur lah, bubur diaduk-gak diaduk lah, cebong-kamhhfr… ah sudahlah~

Kembali ke kelas, entah kenapa kebanyakan dari kita—mungkin juga saya—sulit sekali berbesar hati untuk mengakui di kelas mana kita sebenarnya—We denied it. Tanpa sadar kita sering berusaha memiliki apa yang tidak perlu—atau mungkin tidak seharusnya kita miliki demi berada di kelas yang hierarkinya paling tinggi.

Ada yang rela lapar biar bisa beli baju yang logo mereknya di luar (padahal mah merek normalnya di belakang leher buat ditempelin daki), ada yang rela bertahun-tahun terlilit cicilan buat bisa ig-an pake hape apel busuk dan ada loh yang sampe maksa pansos (red: panjat sosial).

Padahal ya manjat tuh melelahkan, ceunah. Kalau manjat kelamaan kan juga bikin capek—mau sampe kapan? Kalau manjat pohon mah di atas bisa dapat buah—disemutin dikit-dikit juga nggak masalah. Nah, kalau panjat sosial? Kita mau memanjat ‘batang’ tak berujung yang di tengah jalan bisa bikin kita dicokot lintah darat kalau terlalu memaksakan buat naik?

Lama-lama ini bahaya loh. Jika semua orang pengen di kalangan atas, bagaimana hidup kita bisa seimbang jika semua kongkow-kongkow cantik dan manja setiap hari? Kan kalau kata orang bijak, every us does have our part.

Terus satu lagi yang mengganjal nih. Kalau pemikiran awam, yang paling menderita dalam sistem perkelasan ini pasti kalangan bawah—memang—,tapi kalangan menengah tidak kalah disusahkan dengan status ini.

Menurut pengalaman saya saat mau kuliah, saya pernah ditawarkan dari sekolah untuk mengikuti program beasiswa nasional untuk melanjutkan kuliah di PTN. Karena saya merasa, nilai saya di rapor nggak ada yang merah, akhirnya saya ikut dengan bangganya.

Di sepanjang proses pengurusan, saya mengalami kesulitan administrasi. Saya tidak bisa mendapat Surat Keterangan Miskin dari kelurahan dengan alasan keluarga saya tidak berada di dalam kelas keluarga miskin. Saya kesal, karena teman-teman saya yang lain—yang bahkan lebih kelihatan mampu dari keluarga saya—bisa dengan mudah mendapat secarik kertas tersebut.

Singkat cerita, karena saya bilang saya mau sekolah—bukan minta raskin—akhirnya saya dibuatkan surat keterangan layak mendapat bantuan pendidikan. Yang benar saja Ferguso, apa bedanya keadaan ini?

Hasilnya, saya tidak lolos beasiswa aim-the-mission dari pemerintah ini. Sakit hati dong sayavsebagai anak SMA usia 17 tahun yang jiwanya masih bergejolak, saya tidak terima dengan teman saya yang lolos beasiswa tersebut.

“Kurang totalitas ko, harusnya bukan rumahmu mufoto, kandang babi harusnya mujadikan rumah,” sungguh getir nasibku saat itu.

Sebagian teman saya yang lulus memang menggunakan data fiktif untuk meloloskan diri mereka. Hingga ada yang tanpa pikir panjang menggunakan foto tampak depan kandang babi di rumahnya untuk memenuhi dokumentasi rumah yang disyaratkan. FYI, kandang babi di daerah tempat tinggal saya di Sulawesi Selatan memang kebanyakan ditembok dan bahkan bertingkat.

Sejak saat itu, saya bertekad untuk tidak mau mengikuti program pendanaan apapun yang mensyaratkan Surat Keterangan Miskin. Karena saya yakin, alasan saya gagal di seleksi beasiswa ini bukan karena nilai tapi kelas sosial saya yang nanggung.

Padahal, tahun ketika saya masuk kuliah, sistem UKT diterapkan pertama kali, di mana besar uang kuliah PTN melambung tinggi. Dengan kondisi ekonomi keluarga saya yang tidak turah-turah, besar uang kuliah yang harus saya bayarkan cukup membuat orangtua saya harus mencari inovasi lain dalam berdagang agar bisa membiayai anaknya yang-enggan-miskin-kaya-tak-mampu ini.

Bisa saja sih anaknya kuliah merantau ke Jawa, nggak kelaparan, sering pulang. Tapi, bukankah lebih meringankan jika dapat bantuan? Toh dulu saya dari kecil tahu berterima kasih. Kalau dibayarin pemerintah, saya akan mengabdi dengan rajin belajar.

Saya pun akhirnya berkomitmen, “tidak lagi kumau punya surat miskin seumur hidup.”

Komitmen cetek macam ini yang pada akhirnya (mungkin) membuat saya sangat terpukul menerima kenyataan bahwa saya berada di posisi kalangan menengah yang sedikit merosot ke bawah. Gengsi saya.

Aduh, membahas hal ini ternyata cukup melelahkan. Daya khayal saya saja—yang kata orang-orang sangat liar—bisa menurun gara-gara mikirin ini. Apa mungkin karena membahas hal-hal ini sebenarnya bertentangan dengan prinsip saya sebelum mengenal hingar-bingarkota metropolitan?

Dulu saya berpegang teguh bahwah sungguh sial manusia-manusia yang masih saja mementingkan kelas sosial. Tapi gimana ya, sebagai manusia yang menyebut dirinya pro-humanity dengan idealisme tipis-tipis itu, saya nggak bisa tidak mempertanyakan hal yang mungkin tidak elok seperti ini itu.

 

Terakhir.

“Saya di kelas mana ya?”

Entahlah. Sebelum mengakhiri paragraf terakhir di atas, saya cukup lama merenung dan menyesal pernah terlalu dalam memikirikan masalah kelas sosial—capek saya. Sekarang saya tidak mau lagi mikirin kelas. Saya mau happy-happy aja—mau belajar hidup minimalis biar nggak banyak gaya, biar nggak banyak mikir.

Kalau kalian, mau di kelas yang mikirin strata sosial apa mau kaya saya—mikirin hidup minimalis? Eh ampun… malah ngomongin kelas lagi~

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: KayaKritik SosialMiskin
Amelia Hakim

Amelia Hakim

Anak ahensi yang sudah capek revisi berkali-kali yang sekarang belajar nulis satire biar bisa gabung di Mojok.co

ArtikelTerkait

4 Tipe Pembeli di Warung Sembako yang Nano-nano terminal mojok.co

Indomaret dan Alfamart Sama Saja: Apalagi Dalam “Melibas” Warung di Sekitarnya

6 Juli 2019
Profesi Guru Memang Tak Bikin Kaya, tapi Profesi Lain Juga Tidak Terminal Mojok

Profesi Guru Memang Tak Bikin Kaya, tapi Profesi Lain Juga Tidak

6 Januari 2021
otw

Menghargai Waktu dan Menyikapi Kata OTW Saat Membuat Janji

8 Juni 2019
Bermesraan di Ruang Publik

Bermesraan di Ruang Publik: Wajar atau Nggak Tahu Malu?

3 Oktober 2019
sendawa

Mari Melepaskan Sendawa Dari Stigma Negatif

4 Juli 2019
slang

Mengapa Bucin, Kepo, dan Bahasa Slang Lainnya Harus Benar-Benar Kita Tahu Artinya?

29 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons) sidoarjo

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

12 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial Mojok.co

6 Pelatihan bagi Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial 

11 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.